33 C
Semarang
Senin, 13 Juli 2020

Perlunya Perubahan Paradigma tentang Mengajar

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

RADARSEMARANG.COM, PANDANGAN mengajar yang hanya sebatas menyampaikan ilmu pengetahuan, dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan. Mengapa bisa begitu? Minimal, ada tiga alasan penting. Alasan inilah yang kemudian menuntut perlu terjadinya perubahan paradigma mengajar; dari mengajar hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran, hingga mengajar sebagai proses mengatur lingkungan.

Pertama, siswa bukan orang dewasa dalam bentuk mini. Melainkan, mereka adalah organism yang sedang berkembang. Agar mereka dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangannya, dibutuhkan orang dewasa yang dapat mengarahkan dan membimbing mereka agar tumbuh dan berkembang secara optimal.

Karena itulah, kemajuan ilmu pengatahuan dan teknologi—khususnya teknologi informasi— memungkinkan setiap siswa dapat dengan mudah memperoleh informasi dan menyelesaikan tugas tanggung jawabnya. Guru dituntut lebih aktif mencari informasi yang dibutuhkan. Ia juga harus mampu menyeleksi berbagai informasi yang dianggap perlu, juga penting untuk kehidupan mereka.

Guru harus menjaga siswa agar tidak terpengaruh oleh berbagai informasi yang dapat menyesatkan dan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan mereka. Karena itu, kemajuan teknologi menuntut perubahan peran guru. Guru tidak lagi memosisikan diri sebagai sumber belajar yang bertugas menyampaikan informasi. Melainkan, harus berperan sebagai pengelola sumber belajar untuk dimanfaatkan siswa itu sendiri.

Guru saat ini berperan sebagai fasilitator. Siswa dituntut mencari informasi sendiri terlebih dahulu dari berbagai sumber. Manakala siswa mengalami kesulitan, baru guru berperanan mengarahkan, memfasilitasi, dan memberi pencerahan kepada peserta didik.

Kedua, ledakan ilmu pengetahuan mengakibatkan kecenderungan setiap orang tidak mungkin dapat menguasai setiap cabang keilmuan. Begitu hebatnya perkembangan ilmu biologi, ilmu ekonomi, hukum, dan lain sebagainya. Apa yang dulu tidak pernah terbayangkan, sekarang menjadi kenyataan. Di bidang teknologi, misalnya, begitu hebatnya orang menciptakan benda-benda mekanik yang bukan hanya diam. Tetapi bergerak, bahkan bisa terbang menembus angkasa luar. Pun, kehebatan para ahli yang bergerak dalam bidang kesehatan yang mampu mencangkok organ tubuh manusia, sehingga menambah harapan hidup manusia.

Semua di balik kehebatan-kehebatan itu, bersumber dari apa yang kita sebut sebagai pengetahuan. Abad pengetahuan itulah yang seharusnya menjadi dasar perubahan. Bahwa belajar, tak hanya sekadar menghafal informasi dan menerima pengetahuan. Tetapi mengasah kemampuan berpikir dengan menganalisis berbagai masalah.

Ketiga, penemuan-penemuan baru khususnya dalam bidang psikologi, mengakibatkan pemahaman baru terhadap konsep perubahan tingkah laku manusia. Dewasa ini, anggapan manusia sebagai organism pasif yang perilakunya dapat ditentukan oleh lingkungan—seperti dijelaskan dalam aliran behavioristic—telah banyak ditinggalkan orang. Orang sekarang lebih percaya bahwa manusia adalah organism yang memiliki potensi, seperti yang dikembangkan oleh aliran kognitif holistic. Potensi itulah yang akan menentukan perilaku manusia. Karena itu proses pendidikan bukan lagi memberikan stimulus. Tetapi usaha mengembangkan potensi yang dimiliki oleh pembelajar tersebut. Di sini, siswa tidak lagi dianggap sebagai objek. Tetapi sebagai subjek belajar yang harus mencari dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Pengetahuan itu tidak diberikan, akan tetapi dibangun oleh siswa.

Ketiga hal di atas, menuntut perubahan makna dalam mengajar. Mengajar jangan hanya diartikan sebagai proses menyampaian materi pembelajaran. Atau, memberikan stimus sebanyak-banyaknya kepada siswa. Namun lebih dipandang sebagai proses mengatur lingkungan, agar siswa belajar sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya.

Dalam istilah “pembelajaran’ yang lebih dipengaruhi oleh perkembangan hasil-hasil teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan belajar, siswa diposisikan sebagai subjek belajar yang memegang peran utama. Sehingga dalam setting proses belajar mengajar, siswa dituntut beraktivitas secara penuh. Bahkan secara individual mempelajari bahan pelajaran. Dengan demikian, kalau dalam istilah “mengajar (pengajar)” atau “teaching” menempatkan guru sebagai “pemeran utama” memberikan informasi, maka dalam “instruction” guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator, memanage berbagai sumber dan fasilitas untuk dipelajari siswa. (*/isk)

 Guru SMA Negeri 5 Magelang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

E-Katalog Penting Untuk Transparansi

RADARSEMARANG.COM, BATANG - Pengadaan Barang dan Jasa melalui E-Katalog dapat membantu transparansi, karena barang yang akan dibeli harga sudah dicantumkan, sehingga tidak lagi ada...

Selfie di Rel Ganda, Siswi MI Tewas

BATANG - Zahrotun Najwa, siswi MI berusia 12 tahun harus meregang nyawa dengan tragis, Minggu pagi (5/2) kemarin. Tubuhnya tersambar kereta api saat berswafoto...

Tiga Bulan Belum Gajian

CILACAP- Sejumlah tenaga honorer non-Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dinas Pemuda, Olah Raga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Cilacap mengeluhkan gaji bulanan yang hampir tiga bulan...

Tabrakan Karambol, Dua Tewas Tergencet

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Kecelakaan karambol yang melibatkan dua truk dan satu mobil boks terjadi di Kawasan Industri Candi Jalan Gatot Subroto Blok 26 Semarang, Jumat (18/5)....

BI Bagikan Gratis 1,5 Juta Kartu E-Toll

BREBES-Dalam rangka sosialisasi penggunaan e-toll, Bank Indonesia (BI) membagikan 1,5 juta kartu e-toll gratis kepada para pengendara angkutan yang lewat tol. Sosialisasi atau program gratis...

SMK dr Sutomo Luncurkan Mesin Perontok Padi

TEMANGGUNG- Siswa SMK dr Sutomo Temanggung membuat mesin perontok padi. Mesin karya siswa tersebut diluncurkan Wakil Bupati Temanggung Irawan Prasetyadi di halaman sekolah setempat,...