Nilai-Nilai Religius Dalam Pembelajaran Matematika

spot_img

RADARSEMARANG.COM – MATEMATIKA merupakan salah satu cabang ilmu kauninyah. Artinya, Allah menurunkan ilmu ini melalui jalur kauniyah; melalui alam semesta ciptaan-Nya. Baik ilmu agama maupun ilmu umum, semuanya berasal dari Allah SWT. Karena itu, keduanya terintegrasi. Artinya, meski beda, tetapi satu kesatuan, tidak terpisah dan berasal dari satu sumber yang sama: Allah SWT.

Sebagaimana tulisan saya di harian ini terkait integrasi ilmu pada alinea terakhir, saya jelaskan bahwa dalam mempelajari fenomena-fenomena alam yang menjadi objek kajian ilmu-ilmu umum, dapat dengan mudah dijumpai adanya nilai-nilai agama. Ini dapat mengantarkan manusia untuk mengakui dan meyakini akan kebesaran serta kemahakuasaan pencipta-Nya. Dalam pembelajaran matematika, kita mengenal banyak rumus untuk menyelesaikan masalah-masalah matematikawi. Di antaranya, + x + = + ( plus kali plus) adalah plus; + x – = – ( plus kali minus) adalah minus; – x + = – ( minus kali Plus) adalah minus; dan – x – = + ( minus kali minus ) adalah plus. Nah, nilai-nilai religius apa yang dapat kita temukan dalam rumus-rumus di atas? Jawabnya, banyak sekali kita peroleh nilai-nilai religius dalam rumus-rumus di atas.

Plus Kali Plus Adalah Plus

Plus kali plus akan menghasilkan plus. Artinya, amal yang baik diniatkan dengan baik akan memperoleh pahala di sisi Allah. Ini sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam firmannya “ Faman ya’mal mitsqala dzarratin khairan yarah faman ya’mal mitsqala dzarratin syarran yarahu” (maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya) (Q.S az-Zalzalah:7). Karena itulah pentingnya niat yang baik, karena niatnya seorang mu’min itu lebih baik dari amalnya (niatul mu’min khairun min ‘amalihi).

Baca juga:   Realisasikan Slogan IPS Lewat Power Point

Plus Kali Minus Adalah Minus

Rumus kedua ini memberikan pelajaran pada kita bahwa walaupun sesuatu itu baik, akan tetapi cara memperolehnya dengan cara yang batil, dengan kecurangan, maka akan menghasilkan hal yang tidak baik berupa dosa, siksaan, murka Allah, kekecewaan, kehinaan dan kerusakan. Allah telah mengingatkan kepada kita dengan firmannya “Faman ya’mal mitsqala dzarratin syarran yarahu” (maka barang siapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya) (Q.S az-Zalzalah:8).

Minus Kali Plus Adalah minus

Rumus ketiga ini, memberikan pelajaran bahwa hal yang jelek atau buruk walaupun diniatkan dengan baik, hasilnya tetap akan jelek atau tertolak. Contohnya, mencuri dengan niat membantu orang yang membutuhkan. Atau mencontek dengan niat membantu orang tua; berjudi dengan niat nanti hasilnya untuk membayar utang, hasilnya pasti tidak baik. Tidak ada keberkahan dalam hal yang dilarang oleh Allah. Islam mengajarkan bahwa Allah Maha Suci dan tidak menerima amal perbuatan manusia, kecuali dengan cara yang suci/ halal/baik. Hadits Nabi Muhammad SAW menjelaskan dengan sabdanya “ Innallaha Thoyyibun laa yaqbalu Illa Thoyyiban” ( sesungguhnya Allah itu Maha Suci, tidak menerima amal manusia kecuali dengan yang suci pula). Sodaqoh hadaqah dengan uang hasil korupsi, pasti Allah tidak berkenan menerimanya.

Minus Kali Minus Adalah Plus

Islam menghendaki umatnya menjadi umat yang unggul (khaira ummah). Yaitu, yang mau memerintahkan hal yang baik dan mencegah yang mungkar. Dengan kata lain, sebagai umat Islam, kita diperintahkan berdakwah.

Baca juga:   Pembelajaran Keliling Lingkaran Menggunakan Konteks Gelas

Rumus keempat ada kaitannya dengan dakwah atau dalam rangka memperbaiki keadaan suatu kaum atau komunitas atau siswa yang jelek/buruk, hendaklah dengan cara-cara yang sesuai, yang bisa diterima atau setara dengan kondisi yang akan kita perbaiki.

Memperbaiki kondisi masyarakat yang buruk, semisal penjudi atau bahkan PSK sekalipun, hendaklah disesuaikan dengan kondisi mereka. Hal ini sesuai sabda Nabi Muhammad SAW. “ Khaathibunnasa biqadri ‘Uquulihim” ( berbicaralah dengan manusia, sesuai dengan tingkat kecerdasannya). Hadits di atas dapat kita jadikan acuan bahwa dalam berdakwah, hendaklah dengan cara yang santun dalam arti yang seluas-luasnya.

Pun, bagi seorang guru, ketika ingin memperbaiki kondisi siswanya yang notabene kurang cerdas atau bodoh plus nakal, maka masuklah ke dunia mereka. Artinya, kita bisa memahami kondisi mereka, bahkan kita mengikuti apa yang mereka mau. Sehingga seorang siswa bisa menceritakan apa yang telah terjadi pada dirinya. Akhirnya, seorang guru, katakan guru Bimbingan dan Konseling dapat membantu siswa yang mempunyai problem keluarga, maka hendaklah dapat menyatu dengan kehidupan siswa, merasakan apa yang sedang dirasakan oleh siswanya. Sehingga siswa dapat menemukan solusi dari permaslahan yang dihadapi. Endingnya, siswa tersebut menjadi siswa yang sukses di kemudian hari. Walhamdulillah, semoga bermanfaat. (*/isk)

Guru Pendidikan Agama Islam SMKN1 Salam,

Ketua MGMP PAI SMK Kabupaten Magelang,

 dan Anggota Bagian Litbang MGMP PAI Prov. Jateng

Author

Populer

Lainnya