33 C
Semarang
Rabu, 23 September 2020

Butuh Kelincahan Tangan dan Kaki, Ikut Olahraga Wushu

Cahya Nauval Daffa Wibisana, Siswa SMAN 1 Spesialis Perankan Buta Cakil

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COM – Cahya Nauval Daffa Wibisana adalah seniman muda wayang orang. Siswa SMA Negeri 1 Semarang kelas 11 Mipa ini memiliki segudang prestasi dalam bidang kesenian. Namun baginya, memerankan tokoh Buta Cakil yang paling menantang. Kenapa?

NUR WAHIDI

SEJAK usia TK, Cahya Nauval Daffa Wibisana sudah belajar wayang orang. Bahkan, hingga kini setidaknya sudah 12 tahun dia belajar di Sanggar Tari Yasa Budaya. Di setiap pentas wayang orang, dia spesialis memerankan  tokoh Buta Cakil. Bahkan, untuk mengimbangi tokoh ini yang lincah, ia juga ikut latihan wushu.

“Karena tokoh Cakil itu gerakannya lincah dan membutuhkan keahlian tersendiri, terutama kelincahan tangan dan kaki, sehingga saya mengikuti wushu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dijelaskan, Buata Cakil adalah raksasa dengan rahang bawah yang lebih panjang daripada rahang atas. Cakil selalu berhadapan dengan Arjuna ataupun tokoh satria yang baru turun gunung dalam adegan Perang Kembang. Ini tokoh humoristis yang tidak serius, namun sebenarnya Cakil adalah perlambang tokoh yang pantang menyerah dan selalu berjuang hingga titik darah penghabisan. Dalam lakon Perang Kembang, Cakil tewas karena kerisnya sendiri.

Selain memerankan Cakil, lanjut cowok 17 tahun ini, ia juga memerankan Gatotkaca, Gareng, Brotoseno, Dursosono, serta tokoh lainnya. Namun dari sekian tokoh itu, yang paling sulit adalah memerankan tokoh Buta Cakil. “Tapi, saya sering sebagai Buta Cakil, karena tingkat kesulitannya tinggi. Peran yang tingkat kesulitannya tinggi lainnya adalah Gatotkaca,” akunya.

Putra ketiga pasangan Slamet Peni Raharjo dan Sahening Diah Utami ini mengakui, peran Buta Cakil itu permainan tangannya yang muter-muter, sehingga tidak semua orang bisa memerankannya. Cahya sendiri pernah meraih juara I Tingkat Nasional di Magelang pada Juli 2017 berkat memerankan Buta Cakil.

Selama ini, dalam memerankan tokoh pewayangan, dirinya tidak mengalami kesulitan. Sebab, biasanya dia seaching dulu di internet bagaimana memerankan tokoh pewayangan dengan baik. “Untuk memerankan setiap tokoh wayang, saya perlu lihat di internet dulu. Setelah itu, dikonsultasikan ke pelatih,” paparnya.

Diakui, pemain Buta Cakil di Semarang termasuk langka, bahkan untuk tingkat Jateng sendiri hanya ada 10 pemain.  Sebab, untuk memerankan tokoh wayang ini tingkat kesulitannya tinggi dan jarang orang yang bisa. “Masih jarang yang bisa memerankan Cakil,”akunya.

Cahya mengaku memiliki cita-cita menjadi seorang koreografer seperti Eko Supriyanto yang bisa melenggang sampai luar negeri berkat keahliannya menari. (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Bangun Jalan Sepanjang 1 Kilometer

MUNGKID - Puluhan anggota Kodim 0705/Magelang dan masyarakat bergotongroyong mengerjakan pembangunan cor blok jalan sepanjang 1 kilometer yang menjadi penghubung antara Desa Keditan dengan...

Xpander dan Pajero Sport Jadi Andalan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Usai dikenalkan setahun lalu, produk andalan Mitsubishi di kelas MPV yakni Xpander berhasil menggoyah penjualan dari kompetitor. Dari data yang dimiliki...

Ketika Tiga Kepala Daerah Bicara Revitalisasi Pasar Tradisional

Revitalisasi pasar tradisional kini tengah gencar dilakukan oleh hampir semua kepala daerah di Jateng. Pasar yang kumuh disulap menjadi bangunan megah dua sampai tiga...

Hadirkan Keindahan Gunung Gono

Pemerintah Kabupaten Magelang kembali meresmikan desa wisata. Kali ini, Desa Banyubiru di Kecamatan Dukun, pemilik kawasan lokasi wisata alam Gunung Gono. SELAIN Gunung Gono, tempat...

Bolos 2 Minggu, Diberi Pita Hitam

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG - Dianggap membolos selama dua minggu dan selalu tidak disiplin, anggota Polres Magelang Kota Bripka Indra Prasetyo mendapat sanksi dari Kapolres AKBP...

Satu Keluarga Positif Difteri

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Wabah penyakit difteri kembali menyerang Kota Semarang. Lima orang suspect difteri ditemukan di Kota Atlas. Dari lima orang itu, seorang di...