32 C
Semarang
Jumat, 25 Juni 2021

Bongkar Kios, Siap Pindahan ke MAJT

RADARSEMARANG.COM, SEMARANGPedagang Pasar Yaik Baru mulai membongkar kiosnya sebelum jaringan listrik pasar diputus oleh Pemkot Semarang. Mereka membongkar kios untuk selanjutnya dipindah ke tempat relokasi Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

Wakil Ketua Paguyuban Pedagang dan Jasa (PPJ) Unit Yaik Baru, Slamet Santoso, mengatakan, pihak pemkot telah menyatakan bahwa pada 12 April akan diputus jaringan listriknya, dan pedagang harus sudah boyongan ke MAJT. Selain itu, pedagang juga sudah melakukan kesepakatan dengan Dinas Perdagangan Kota Semarang, yakni, sebelum listrik diputus, para pedagang akan membongkar kiosnya sendiri.

“Memang kami masih ada waktu untuk pindah ke tempat MAJT. Tapi, pada hari ini (kemarin) sudah banyak pedagang yang membongkar kiosnya sebelum dilakukan pemutusan listrik,” katanya.

Dikatakan, jumlah pedagang di Yaik Baru mencapai 650 orang. Mereka siap pindah ke MAJT. Sayangnya, hingga kini tempat relokasi MAJT masih belum siap. Jalan akses ke pasar masih becek dan berlum berpaving. Selain itu, jaringan listrik belum terpasang. “Kalau kami menyimpan barang di kios di MAJT masih ragu keamanannya, karena kondisinya masih gelap. Makanya, dagangan saya bawa pulang,” ujarnya.

Di MAJT, lanjut Slamet, para pedagang akan mendapatkan kios ukuran 3×2 meter persegi. Untuk pedagang yang mempunyai dua atau tiga kios, akan mendapatkan sesuai ukuran di tempat relokasi itu.  Pihaknya berharap, ada subterminal angkutan atau bus BRT yang melewati jalur tersebut. Sehingga Pasar Johar MAJT akan ramai pengunjung.

Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang
Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang

 

Sementara itu, pedagang Pasar Yaik Baru kemarin mulai membangun kios dan lapak di tempat relokasi MAJT. Sebab, 12 April mendatang, mereka sudah diharuskan menempati pasar tersebut. Sayangnya, akses tempat relokasi pedagang Pasar Yaik Baru ini belum sepenuhnya jadi.

Kurniawan Harefa, pedagang makanan mengaku harus cepat-cepat membangun lapak di kawasan penampungan. Jika tidak, ia tidak tahu kemana akan mencari nafkah setelah Pasar Yaik Baru ditutup. ”Ini kami dengan pedagang lainnya memang sepakat untuk membangun sendiri. Untuk lapak  ukuran 4×3  meter persegi kami habis sekitar Rp 3 juta,” katanya.

Diakui, akses jalan di pasar relokasi itu belum sepenuhnya jadi. Beberapa bagian jalan masih berupa tanah. Kondisi ini membuat pedagang memutuskan untuk membiayai sendiri pembangunan jalan di sekitar lapak mereka.

Amat, pedagang tas yang sudah berjualan sejak 1983 mengaku, harus mengeluarkan uang pribadi untuk membantu membangun akses pasar. Ia membeli pasir dengan dana pribadi, sementara pavingnya menggunakan yang sudah ada di pasar.

”Untuk pasir dan tukang, saya keluar uang Rp 1 juta. Kemarin saya bilang mau bantu untuk membeli pasir, tapi pavingnya menggunakan yang sudah ada. Dan diperbolehkan,” bebernya.  (hid/sga/aro)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here