33 C
Semarang
Sabtu, 15 Agustus 2020

Berbisnis dari Nol

Soleh Dahlan, Owner Dafam Group

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

“Saya sukses bukan karena warisan orang tua, bukan korporasi dengan pemerintah. Semua diawali dari nol dan kerja keras.”

RADARSEMARANG.COM – From zero to hero. Itulah sosok Soleh Dahlan. Dari orang biasa, kini punya banyak hotel di bawah bendera Dafam Group. “Saya benar-benar (memulai) bisnis dari nol. Tidak ada warisan orang tua atau modal dari siapapun,” ucap Soleh Dahlan saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, baru-baru ini, di salah satu hotel miliknya di Pekalongan.

LAHIR di Jakarta pada 10 Februari 1951, Soleh Dahlan menyebut dirinya asli Pekalongan. Ia terlahir dari pasangan suami-istri Ahmad Dahlan dan Lucia Siti Maona. Dahlan kecil, mengenyam pendidikan di TK dan SD Pius. SMP, berlanjut ke Satya Wiguna Pekalongan dan baru SMA, hijrah ke Semarang. Di Semarang, Dahlan remaja bersekolah di SMA Loyola.

Selepas SMA, Dahlan melanjutkan pendidikan di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jurusan Teknik Elektro. Lulus dari UKSW, Dahlan merantau ke Jakarta, kerja di International Business Machines (IBM), sebuah perusahaan komputer pertama di Indonesia. “Perusahaan saya dulu yang menangani BUMN seperti Pertamina, PLN, BI, PDAM di DKI, dan lainnya.”

Hanya 3 tahun bekerja, Dahlan memutuskan pulang ke kampung halaman. Bersama adiknya yang berprofesi asisten apoteker saat itu, Dahlan membuka apotek. “Namanya Apotek Asli, lokasinya di Banjarsari. Modalnya pas-pasan, hasil kerja di Jakarta,” kenangnya. Dahlan mengaku, saat buka apotek, ia mendapatkan banyak dispensasi dari Wali Kota Pekalongan ketika itu: Supomo. “Dibantu sampai buka,” ujarnya. Alasan wali kota, sambung Dahlan, karena senang pada anak muda yang pilih berwirausaha. “Apalagi apotek saat itu masih sangat jarang.”

Sebagai pebisnis muda, Dahlan banyak berinovasi. Ia antarjemput resep dan obat sendiri. Semua dilakukan hanya menggunakan sepeda angin. “Saya tidak malu pakai sepeda. Malah saya dapat banyak simpati warga Pekalongan,” kata Dahlan yang menemui koran ini mengenakan stelan batik. Awal 1980-an, Dahlan lantas melirik bisnis sarang burung walet. “Ini titik poin kesuksesan saya dalam berbisnis,” ucap bapak 3 orang anak itu.

Bisnisnya lancar. Hanya saja, terkendala dengan kondisi Kota Pekalongan yang saat itu dikenal sebagai wilayah sumbu pendek. Sebagai warga keturunan Tionghoa, Dahlan muda ambil peranan. Ia ditunjuk oleh Wali Kota Pekalongan saat itu, Joko Prawoto, untuk berperan aktif menjaga keamanan. “Saya ditunjuk sebagai Ketua BadanKomunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa (Bakom PKB). Anggotanya, multietnis yang nasionalis.”

Ketika kerusuhan 1998 pecah, Pekalongan aman. Padahal, selain Selain Jakarta, wilayah sumbu pendek di Jawa Tengah lainnya, terkena imbas. Salah satunya, Solo. “Pekalongan bisa aman, karena kita bantuan anggota TNI hingga 1.000 personel dari Panglima TNI saat itu. Pengusaha juga kompak dan terbukti aman.”

Anak-Anaknya Kembali ke Tanah Air

Pada 2010, anak-anak Soleh Dahlan yang sebelumnya tinggal di luar neger, balik ke Indonesia. Selama ini, mereka mencari pengalaman berbisnis di Australia, London, dan Tiongkok. “Ketiga anak saya tidak sekolah formal, bukan sarjana. Mereka saya suruh cari ilmu dan pengalaman,” ujarnya. Nah, pada tahun itu pula, tercetuslah ide mendirikan hotel. Hotel pertamanya di Semarang, yakni Dafam Hotel Semarang, kemudian Hotel Marlin, Dafam Pekalongan, Dafam Cilacap, dan Dafam Pekanbaru.

Dafam Corporate yang dibentuknya, kini sudah menjadi operator untuk 32 hotel se-Indonesia. Terbaru, salah satu hotel di Makkah, dengan 2 ribu kamar. Di tengah persaingan puluhan operator hotel di Indonesia, Dafam mendapat banyak kepercayaan.

“Kerja tim saya luar biasa, Dafam dipercaya mengelola banyak hotel. Terbaru, sudah MoU mengelola 2.000 kamar hotel milik Olayan Corporate di Makkah. Ini prestasi tim, bukan saya pribadi,” serunya bangga. Dalam waktu dekat, bahkan ada pengusaha di Singapura dan Malaysia yang ingin hotelnya di kelola oleh Dafam.

Dalam berbisnis, kata Dahlan, yang penting dilakukan adalah tekun, peduli, dan ‘nguwongke’ (memanusiakan) karyawan. Karena itu, Dahlan dikenal dekat dengan karyawan-karyawannya. “Manajemen kami sangat menghargai karyawan. Terbukti, hampir 90 persen, karyawan sejak awal loyal semua.”

Di perusahaan yang didirikan, Dahlan berprinsip, meski bisnis untuk mencari untung, namun tetap harus profesional. “Jangan mentang-mentang kenal banyak pejabat, minta proyek sana-sini.” Ia pun melanjutkan, “Yang penting kita kerja baik, saya sukses bukan karena warisan orang tua, bukan korporasi dengan pemerintah. Semua diawali dari nol dan kerja keras.” (hanafi/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

GADIS FDR

DUA model saat berpose di antara tumpukan ban sepeda motor merek FDR, Minggu (26/3) kemarin. Untuk memperkenalkan produk ini ke konsumen dan mendongkrak penjualan...

Ribuan Cyclist Sudah Mendaftar

SEMARANG - Ribuan cyclist akan meriahkan gelaran BTN Tour de Borobudur XVII yang akan digelar 11-12 November mendatang. Hingga saat ini sudah ada sekitar...

Didik Ponco Terjerat Dua Kasus Sekaligus

RADARSEMARANG.COM, KENDAL - Selain dijerat kasus pembunuhan berencana, Didik Ponco, 28 juga bakal dijerat kasus pencurian dengan kekerasan (curas).  Yakni atas kasus dugaan perampasan...

Saatnya Menjadi Guru Penulis

RADARSEMARANG.COM - CITA-cita menjadi guru penulis? Bukan mustahil bagi seorang guru untuk dapat menuangkan ide/gagasan dalam tugasnya mencerdaskan peserta didik ke bentuk tulisan. Contoh mudahnya,...

Mapsi Jadi Unggulan Sekolah

KENDAL - SDN 2 Nolokerto bukan merupakan sekolah inti di Kecamatan Kaliwungu. Namun soal prestasi, patut diperhitungkan. Pasalnya, sekolah ini  punya potensi khususnya bidang...

Digunakan sebagai Ilustrasi Potret Hingga Cover Buku

RADARSEMARANG.COM - Karya seni beraliran Wedha’s Pop Art Potrait (WPAP) belakangan makin diminati. Komunitas WPAP Semarang menjadi salah satu wadah bagi mereka yang memiliki...