26 C
Semarang
Selasa, 8 Juni 2021

Memanusiakan Orang dengan Masalah Kejiwaan

Komunitas Griya Schizofren

Komunitas muda-mudi yang tergabung dalam Griya Schizofren Surakarta, menyadarkan kepada kita bahwa orang dengan masalah kejiwaan (ODMK), tidak seharusnya dijauhi, ditakuti, apalagi dimusuhi. Mereka butuh sentuhan, kasih sayang, dan kepedulian kita untuk berbagi.

RADARSEMARANG.COM – SUATU sore, menjelang Maghrib, Ramadan tahun 2013. Triana Rahmawati, ketika itu mahasiswa jurusan Sosiologi FISIP Universitas Negeri Surakarta (UNS), tengah membeli wedangan (minuman) di sebuah warung kaki lima, tidak jauh dari rumah kosnya. Wedang itu akan diminumnya saat waktunya berbuka puasa tiba.

Di tengah menunggu antrean, tiba-tiba ia mendengar suara adzan Maghrib berkumandang. Saat ditoleh, suara itu datang dari seorang pria, tak jauh dari warung. Penasaran, ia bertanya kepada si penjual wedang. “Memangnya sudah buka (puasa) ya Bu,” tanya Triana.

Mendengar pertanyaan Triana, si ibu penjual wedang hanya menjawab singkat. “Jangan dihiraukan Mbak, itu orang gila.” Kata “orang gila” yang dilontarkan oleh penjual wedang, seketika membuat perasaan Tria—sapaan intim perempuan 25 tahun itu—terusik. Hati kecilnya berontak mendengar sebutan itu.

Baginya, penyebutan orang gila, sama sekali tidak manusiawi. Tria melihat, bapak yang disebut oleh penjual wedang sebagai orang gila, sama sekali tidak diperlakukan sebagai manusia. “Dia manusia, tapi tidak dimanusiakan. Dia bagian masyarakat, tapi tidak diperlakukan layaknya masyarakat lainnya,” ucap perempuan kelahiran Palembang, 15 Juli 1992 itu.

Nuraninya pun berontak. Banyak orang peduli pada masalah kesehatan dan pendidikan. Tapi, kenapa justru banyak yang tidak peduli pada orang-orang yang bermasalah dengan kejiwaan. Miris melihat hal itu, seketika muncul dari nurani kecilnya untuk peduli pada orang dengan gangguan kejiwaan. “Saya menyebutnya orang dengan masalah kejiwaan atau disingkat ODMK,” tuturnya. “Ketika itu, hati kecil saya mengatakan, ‘yuk saatnya bergerak’, peduli pada orang-orang dengan masalah kejiwaan.”

Tekatnya untuk memanusiakan penderita gangguan jiwa semakin mantap. Bersama dua temannya satu jurusan di FISIP UNS, yakni Febrianti Dwi Lestari dan Wulandari, Tria memulainya dengan mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Pengabdian Masyarakat UNS. Ketiganya hendak mendekati persoalan ODMK dari sudut ilmu Sosiologi.

Apa yang kali pertama Anda lakukan? “Mencari tempat rehabilitasi yang mau menerima saya dan teman-teman,” ucap perempuan yang pernah menyabet Juara I Lomba Debat Nasional di Undip itu. Masalah pun muncul. Ternyata, tidak mudah mencari panti rehabilitasi milik yayasan sosial yang bersedia memberi kesempatan untuk berkontribusi di tempat mereka. “Sampai pada akhirnya, ada tempat yang mau menerima kami, yaitu Griya PMI Peduli.” Kepada pengelola Griya PMI Peduli, Tria jujur menyampaikan apa yang akan mereka lakukan dalam rangka PKM.

Hingga pada Oktober 2014, Tria dan teman-temannya mendirikan komunitas anak-anak muda—sebagian besar mahasiswa—yang peduli pada orang-orang yang bermasalah dengan kejiwaannya. “Awalnya cuma sekumpulan orang. Kemudian banyak yang nanya nama komunitas apa? Lantas kita beri nama Griya Schizofren. Sc artinya social, hi maksudnya humanity dan f untuk friendly. Jadi komunitas sosial berlandaskan rasa kemanusiaan dengan mengangkat prinsip persahabatan.”

“Komunitas ini hadir dengan semangat bahwa anak muda harus peduli pada orang yang bermasalah pada kejiwaan.” Griya Schizofren juga memperjuangkan agar pasien skizofrenia lebih ‘didengar’, karena mereka selama ini seolah tidak punya hak sebagai masyarakat dan warga negara. (lis.retno.wibowo/isk)

Latest news

Garuda Ayolah

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here