15.6 C
Munich
Sabtu, 31 Oktober 2020

Sepi Job, Personelnya Bapak, Anak, Menantu dan Cucu

Paguyuban Reog Singo Wijoyo Mudo Semarang yang Masih Eksis

Menarik

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang
Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.COM – Kesenian reog berasal dari Ponorogo. Namun di Kota Semarang terdapat paguyuban reog yang masih eksis. Namanya Paguyuban Reog Singo Wijoyo Mudo. Menariknya, personel paguyuban ini masih satu keluarga. Mulai bapak, anak, menantu, hingga cucu. Seperti apa?

Sigit Andrianto

SEBUAH kendang dijemur di dekat area pemakaman. Tak jauh dari situ, dua anak kecil memainkan selembar daun pisang utuh layaknya sedang menampilkan kesenian reog Ponorogo. Ya, di situlah Bejo, salah seorang seniman reog Ponorogo di Kota Semarang tinggal. Tepatnya di Kelurahan Padangsari, Kecamatan Banyumanik, Semarang.

Darah seni Bejo memang mengalir ke anak hingga cucunya. Bejo memiliki 9 anak. Delapan laki-laki dan satu perempuan di nomor dua. Hampir semuanya mewarisi jiwa seni Bejo memainkan kesenian reog Ponorogo.

Sedari kecil, Bejo memang membiasakan anak-anaknya untuk mengenal kesenian yang sangat dicintainya itu. Ia bahkan kerap membawa anaknya dalam setiap melakukan pementasan.

Menariknya, ketika anak-anaknya menikah, para menantunya pun turut dalam paguyuban seni yang didirikan Bejo.

Lha opo kowe mengko ora isin? Njoget kan podo karo ngamen,” tanya Bejo kepada menantunya tersebut.

Menantunya tetap bersikeras untuk ikut menari. Dengan mengambil peran memainkan jathilan.

Bejo turut serta meramaikan seni reog Ponorogo di Kota Semarang sejak 1972. Saat itu, hampir di setiap kelurahan memiliki grup kesenian yang identik dengan bulu merak ini. Karena kemampuannya, saat itu ia dipercaya untuk melatih dari satu kelurahan ke kelurahan lainnya bersama temannya yang berasal dari Ponorogo.

”Tapi, sekarang (reog) bisa dibilang hampir punah. Di Kota Semarang sepertinya yang masih ada ya cuma ini. Masih ada alat hingga pemain. Punya saya saja itu milik pribadi,” jelas pria kelahiran Banjarmasin ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Saat masih jaya, Bejo kerap mewakili Indonesia mengikuti ekspo di luar negeri. Jepang, Suriname, Timor Timur adalah beberapa negara yang pernah ia sambangi. ”Yang paling mencekam itu ketika saat akan tampil di Timor Timur. Karena pada saat itu sedang terjadi konflik,” kenangnya.

Masa kejayaan itu hanyalah tinggal sebuah kenangan manis, karena kini yang tersisa hanyalah pekerjaan rumah yang lumayan cukup berat. Sekarang Bejo bekerja sebagai seorang satpam di salah satu perumahan di daerah Banyumanik. Jika tak ada tanggapan, sebagian gajinya dipakai membiayai biaya operasional maupun alat-alat keseniannya. Praktis, ia harus cakap membagi uang pementasan untuk para pemain, dan kas sebagai biaya pemeliharaan alat. Padahal, pementasan saat ini tidak seramai dulu.

Hari Ponco, anak ketiga yang kini memegang kendali sebagai Ketua Paguyuban Reog Singo Wijoyo Mudo mengaku, sudah jarang ada job pementasan. Terakhir, ia tampil di Taman Lele Semarang saat diundang Dinas Pariwisata. ”Pementasan sekarang memang ndak mesti. Istilahnya njagakke tetes embun,” ujarnya.

Ia yang bekerja serabutan, harus bisa memutar otak untuk bisa memiliki alat-alat kesenian. Sedikit demi sedikit uang kas ia kumpulkan untuk membeli perlengkapan. Ia menyebutnya membeli secara prithilan (satu– satu). ”Beli beberapa, kemudian kalau sudah cukup kita rangkai sendiri,” katanya.

Selain keterbatasan dana, merangkai sendiri bisa memastikan alat tersebut telah memiliki kualitas yang bagus. ”Kalau beli jadi belum tentu bagus. Dan harganya mahal. Satunya bisa sampai Rp 50 jutaan,” tandasnya sembari menginformasikan bahwa semua peralatan dibeli langsung dari Ponorogo.

Selain mencicil peralatan, ia harus mengakali agar kesenian reog tetap berlangsung dan berjalan dengan baik.  Beberapa alat harus ia modifikasi dengan menggunakan bahan yang terjangkau. Seperti mengganti kulit macan dengan kulit sapi yang digambar layaknya kulit macan.

”Yang menggambar adik saya. Karena untuk harga kulit macan asli sangat mahal,” akunya.

Selain anaknya, cucu Bejo yang kini masih duduk di bangku taman kanak-kanak sudah melalang buana ke berbagai daerah menampilkan kesenian ini. (*/aro)

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Terbaru

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...