Menumbuhkan Keberanian Menggambar Ragam Hias dengan “Meme”

spot_img

RADARSEMARANG.COM – MENGGAMBAR merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai siswa pada mata pelajaran seni budaya, khususnya cabang seni rupa.  Kegiatan ini seharusnya merupakan kegiatan yang menyenangkan karena di dalamnya terdapat aspek-aspek kreasi dan rekreasi sebagai penyeimbang sebagian mata pelajaran lain yang bernuansa eksak seperti Matematika dan IPA yang kadang sebagian besar siswa merasakan  menjadi momok. Materi yang disampaikan dalam bidang seni rupa meliputi pengetahuan, keterampilan, dan nilai dalam menghasilkan beragam karya seni.  Misalnya lukisan, patung, ukiran dan karya cetak. Kegiatan menggambar dapat memupuk sikap menghargai, menghayati sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap kelestarian budaya daerah khususnya ragam hias.

Dengan mengenal ragam hias dari berbagai daerah siswa bisa lebih arif dan bijaksana dalam memelihara hubungan sosial dan lingkungan. Demikian  pula dengan mengenal karya-karya dari seniman-seniman  besar (master) akan menumbuhkan minat untuk menciptakan karya seni. Diharapkan siswa memiliki pengalaman estetik dalam mengapresiasi dan berekspresi/berkreasi.

Kemampuan menggambar sangat penting sebagai modal awal pada mata pelajaran Seni budaya khususnya untuk cabang seni rupa. Kemampuan menggambar juga akan menjadikan seseorang akan memiliki rasa percaya diri, memiliki kepekaan estetika, kreativitas  dan mampu mengapresiasi karya seni dengan baik. Fakta menunjukkan bahwa tidak semua siswa berani untuk menggambar,  sebagian besar mereka beralasan tidak bisa menggambar atau merasa  tidak berbakat, yang pada akhirnya tidak berani  berkaya bahkan menunjukkan hasil karyanya.

Baca juga:   Jari-Jari Akuntansi Tingkatkan Hasil Pembelajaran Ekonomi SMA pada Materi Siklus Akuntansi

Dari hal itu tentu saja  guru dituntut memiliki kreativitas dalam menentukan metode yang tepat untuk menumbuhkan keberanian siswa-siswanya dalam kegiatan menggambar. Salah satunya adalah metode meniru (Meme) agaknya layak untuk dicoba.

Tidak bisa disangkal, sejak kelahirannya manusia adalah peniru ulung. Hampir semua kemampuan manusia didapatkan melalui proses peniruan. Di Bali sekalipun kegiatan kesenian berangkat dari kebiasaan meniru ulang karya, dan itu telah banyak melahirkan seniman besar. Kebiasaan meniru berawal dari masa kanak-kanak. Semua anak pada awalnya suka menggambar. Kegiatan menggambar awal, diyakini oleh para ahli psikologi sebagai bentuk pematangan kemampuan motorik anak. Menggambar pada kenyataannya adalah kegiatan yang mengutamakan sinkronisasi antara kemampuan penglihatan dan gerakan.

Proses peniruan diperlakukan sebagai jalan antara dari tingkat pemula menuju tingkat mahir. Di Cina masa lalu misalnya, seorang yang ingin jadi pelukis harus bisa meniru lukisan seorang master. Di Bali metode copy the master juga berlaku. Banyak seniman besar Bali terlahir dari proses kegiatan meniru ini.

Meniru adalah kemampuan awal yang mendasari semua keterampilan manusia, dengan demikian tidak perlu dipersoalkan,apalagi memposisikan bahwa meniru adalah sesuatu kegiatan yang memalukan/dinilai rendah. Kegiatan meniru juga merupakan salah satu proses pencarian, proses penggubahan, proses pengayaan pengalaman yang penting dalam rangkaian kehidupan  manusia untuk mengembangkan dirinya.

Baca juga:   Pengenalan Konsep Bilangan pada Anak Usia Dini melalui Mewarnai Gambar

Meniru ternyata bukan hal yang membahayakan kegiatan anak dalam menggambar. Alasannya pengagungan nilai kreativitas seringkali dipakai oleh para guru dan sebagian perupa. Ada anggapan awal yang mengatakan meniru adalah perbuatan yang tidak kreatif. Padahal anak-anak secara normal mengikuti pola peniruan itu tanpa beban. Dalam metode meniru ini guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yang menyediakan sekaligus menyiapkan karya-karya terpilih dari para master  berupa karya reproduksi untuk ditiru. Bisa juga menugaskan siswa untuk mencari sendiri dar berbagai sumber. Dari proses meniru ini tentu  akan muncul berbagai pertanyaan berkaitan dengan karya master tersebut. anak akan banyak belajar mengenal dari sisi siapa senimannya, dari daerah mana corak ragam hias itu brasal, teknik apa yang digunakan, media apa yang diperlukan, waktu yang dibutuhkan, hingga pesan atau makna filosofi apa yang ingin disampaikan dari karya itu.

Dengan demikian, Meme layak untuk diterapkan pada proses pembelajaran khususnya menggambar ragam hias. Sehingga pembelajaran Seni Budaya akan menjadi lebih menarik dan menyenangkan yang pada gilirannya akan tumbuh rasa cinta pada budaya bangsa sendiri. (tj3/aro)

Guru SMP Negeri  2 Mojotengah Wonosobo

Author

Populer

Lainnya