Membangun Karakter Anak Didik ala Burung Merpati

spot_img

RADARSEMARANG.COM – HAMPIR setiap hari kita mendengar berita, baik melalui televisi, surat kabar, maupun medsos tentang kenakalan remaja. Pelakunya masih berstatus pelajar. Mereka melakukan kegiatan yang menyimpang dari norma agama, sosial, maupun norma yang berlaku di masyarakat. Seperti perkelahian pelajar, perkosaan, pencurian, penggunaan narkoba, dan lainnya.

Miris melihat hal itu terjadi. Sebagai pendidik, penulis merasa prihatin. Untuk itu, menjadi perhatian kita sebagai pendidik, untuk mencari solusi dan alternatif pemecahan masalah terkait menurunnya karakter dan budi pekerti sebagian anak-anak didik kita.

Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter jika dapat tumbuh pada lingkungan yang memiliki kebiasaan berkarakter pula. Sehingga fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang optimal. Mengingat lingkungan anak bukan saja lingkungan keluarga yang sifatnya mikro–namun lingkungan keluarga dalam arti luas—maka semua pihak turut andil dalam pembentukan dan perkembangan karakter anak. Pihak-pihak yang dimaksud adalah keluarga, sekolah, masyarakat, media massa, dan sebagainya Dengan kata lain, mengembangkan generasi penerus bangsa yang berkarakter baik adalah tanggung jawab semua pihak.

Merpati Tak Pernah Ingkar Janji

Siapa tak kenal burung Merpati? Merpati merupakan burung yang sering dijadikan lambang cinta. Tak heran, banyak dijumpai undangan pernikahan, kartu ucapan, menggunakan Merpati sebagai lambang utamanya. Ada beberapa hal yang menarik dari Merpati.

Yakni, Merpati memiliki kecerdasan dan pandangan atau penglihatan yang tajam dan luar biasa. Saat dilepas, Merpati tidak akan salah memilih tempat tinggalnya. Ia akan menemukan tempat tinggalnya .

Merpati juga burung yang suka bekerja bersama. Saat akan bertelur, mereka membangun sarangnya. Si jantan dan betina bahu-membahu mengumpulkan ranting. Ketika Merpati mengerami telurnya, mereka kerja sama dan berbagi tugas. Jika si betani mengerami, maka Merpati jantan menungguinya di dekat kandangnya. Pun, sebaliknya. Juga saat telur Merpati menetas. Si betina memberi perlindungan dan kehangatan. Sedang si Merpati jantan mencarikan makanan untuk sang anak, bergantian

Baca juga:   Indahnya Berbagi dalam Pecahan

Dari uraian di atas, dapat kita ambil sisi positif Merpati. Burung ini memiliki wawasan luas, kebersamaannya tinggi, mencintai dengan penuh kasih dan sayang, dan bertanggung jawab

Melihat filosofi dan sifat-sifat Merpati, ada beberapa hal yang bisa dicontoh, baik oleh orang tua maupun guru. Sebab, tanggung jawab mendidikan karakter anak adalah tanggung jawab kita bersama: orang tua, pendidik, dan masyarakat. Masing-masing memiliki peran berbeda, sesuai tugas dan kewenangannya.

Keluarga merupakan wahana untuk mengembangkan potensi yang dimiliki seorang anak ke arah pengembangan kepribadian diri yang positif dan baik. Orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik anak-anaknya. Fungsi dan peran orang tua, tidak sekadar memenuhi kebutuhan fisik berupa kebutuhan makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal. Tapi, jauh lebih penting adalah perhatian, bimbingan, arahan, motivasi, dan pendidikan, serta menanamkan nilai-nilai bagi masa depannya.

Pendidikan keluarga telah melahirkan konsep “among”. Konsep menuntut para orang tua untuk bersikap, yaitu: ing ngarso sun tolodo ing madya mangun kasra, tut wuri handayani. Alam keluarga adalah tempat sebaik- baiknya melakukan pendidikan kesusilaan dan kesosialan. Sehingga boleh dikatakan bahwa keluarga tempat pendidikan yang lebih sempurna sifat dan wujudnya dibandingkan tempat-tempat lainnya.

Karena itu, di dalam mendidik anak, orang tua harus bekerja sama dan berprinsip mendidik dengan hati. Berbagai cara menanamkan karekter pada anak di rumah, antara lain, memberikan contoh yang baik, melibatkan anak dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah, juga perlu menanamkan kepercayaan pada anak. Kepercayaan diri perlu dimiliki seorang anak untuk bisa melakukan tugas-tugasnya dengan baik.

Baca juga:   Tingkatkan Aktivitas Belajar IPA dengan SAVI

Poin penting lainnya adalah kerja sama dalam keluarga. Pendidikan karakter dalam keluarga tidak semata-mata bersifat dua arah antara orang tua dan anak, tetapi meluas pada anggota keluarga yang lain.

Pendidikan karakter oleh pendidik, juga musti dilakukan. Dalam konteks ini, bapak ibu-guru dalam mendidik anak-anaknya, harus selalu memiliki cakrawala yang luas dan memahami karakter anak. Serta memiliki prinsip mendidik dengan hati, dengan sepenuh hati, dan setulus hati serta tidak pernah menyakiti hati anak didiknya.

Untuk itu, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan karakter di sekolah. Di antaranya, keteladan orang dewasa di sekolah bagi peserta didik, pembiasaan yang dilakukan secara rutin dan berkala. Anak-anak, misalnya, setiap pagi hari dibiasakan selama 15 menit untuk membaca buku nonpelajaran untuk menumbuhkan karakter gemar membaca. Mereka juga dapat secara bergiliran dan berkala dibimbing melakukan ibadah tertentu.

Ketiga, pujian bagi siswa yang telah melaksanakan karakter. Artinya, ketika siswa telah mempunyai karakter yang baik, guru atau pegawai di sekolah atau satuan pendidikan dapat memberikan pujian dan penghargaan.

Terakhir, hukuman dalam pendidikan karakter. Pemberian hukuman harus didasarkan pada peraturan sekolah yang telah disosialisasikan dan disetujui sebelumnya oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Seperti orang tua, guru, siswa, kepala sekolah, dinas pendidikan, dan sebagainya. (*/isk)

Guru SMAN 3 Magelang

Author

Populer

Lainnya