Fasih Berbahasa Inggris Lewat Debat

spot_img

RADARSEMARANG.COM – SELAMA Ini pelajaran bahasa Inggris hanya lewat mendengarkan, membaca, dan menulis. Siswa  jarang diajak untuk berbicara. Faktor penerapan kurikulum awal yang hanya mengfokuskan tata bahasa. Siswa hanya diajak untuk berlatih mengubah  kalimat dari  positif, negatif, dan interogatif, mengubah berbagai tenses, menghafal bentuk kata kerja, rumus tenses, dan mengenal struktur kalilamat.

Ini berlangsung hingga kurikulum 1984, awal pembelajaran membaca diperkenalkan, tetapi porsinya sedikit. Kemampuan siswa pada tata bahasa tinggi, tetapi lemah pada berbicara. Munculah kurikulum 1994,  membaca menjadi prioritas utama dengan tema yang variatif seperti tema pendidikan, kesehatan, olahraga, dan lain-lain diselipi dengan unsur bahasa yaitu tata bahasa dan ekspresi/ungkapan. Siswa hanya dapat menghafal kosa kata lewat membaca dan lemah untuk berbicara.

Pada era Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004, siswa diajak untuk mengenali berbagai jenis teks yang beragam seperti deskriptif, narasi, laporan, prosedur, dan lain-lain yang pada intinya siswa hanya membaca dan menterjemahkan. Siswa menjadi bosan hanya mengenali dan menghafal kosa kata pada berbagai jenis teks tanpa mengaplikasikan dalam berbicara. Pada kurikulum penyempurnaan Kurikulum Tingkat Satun Pendidikan (KTSP) tahun 2006, siswa tidak hanya diajak untuk membaca dan menterjemahkan teks yang beragam, tetapi juga teks fungsional seperti  pengumuman, peringatan, brosur, label, undangan,  surat  dan lain-lain diselipi ungkapan dan  tata bahasa. Tetap saja, siswa hanya menghafal kosa kata dan mengerjakan latihan-latihan yang ada pada lembar kerja siswa (LKS).

Pada kurikulum 2013 ini, alokasi jam pelajaran bahasa Inggris wajib yang hanya dua jam di SMA/ SMK tidak akan memenuhi mutan materi yang begitu luas. Proses belajar mengajar yang menekankan diskusi kurang efektif karena kadang siswa ngobrol sendiri diluar topik pembelajaaran. Guru banyak memberikan tugas di rumah baik secara individu maupun kelompok kurang efektif  karena. siswa menjadi bosan adannya tugas-tugas, dan kadang meniru teman sekelasnnya, bahkan ada yang tidak mau mengumpulkan tugas itu. Siswa hanya mengerjakan soal latihan-latihan Ujian Nasional (UN) tanpa memperhatikan berlatih berbicara, Mungkin benar juga, hasil UN menjadikan prioritas utama, tetapi mereka yang berorientasi pada kerja, khususnya lulusan SMK dihadapkan pada tes wawancara bahasa Inggris, khususnnya pada perusahaan berstandar tinngi  internasional. Mereka kesulitan berbicara Inggis, walaupun nialainya tinggi UN nya. Apalagi yang ingin kerja ke luar negeri yang menuntut kemampunan berbicara.

Baca juga:   Stop Bullying di Sekolah Dasar melalui Penanaman Pendidikan Karakter

Dengan permasalahan-permasalahan tersebut, guru hendaknnya manpu memunculkan daya  kreatifitas dan inovatif dalam pembelajaran bahasa Inggris. Salah satunnya adalah lewat debat bahasa Inggris. Debat adalah pernyataan, argumen, pendapat, atau sanggahan pada suatu topik yang disampaikan oleh dua tim yaitu affirmatif positif dan negatif.  Agar debat berlangsung dengan baik dan sesuai harapan, guru harus merencanakan dengan baik mulai dari waktu  dan temapa pelaksanaan, topik, pembagian tim, dan aturan permainannya.

Waktu pelaksanaan debat dilakukan tiga atau empat kali dalam satu semester pada saat jam pelajaran, dan tempatnya bisa dilakukan di dalam ruangan (indoor) atau di luar ruangan (outdoor).  Topik yang diberikan variatif misalnnya korupsi, pemilihan langsung bupat/gubernur/presiden, pasar bebas Asean, pendidikan, dan lain-lain. Pembagian tim dilalukan secara acak memjadi enam tim dalam satu kelas yang masing-masing tim terdiri dari lima atau enam siswa. Enam tim tersebut terbagi tiga tim positif dan tiga tim negatif yang diambil secara acak juga. Aturan permainannya, debat ditampilkan dalam tiga sesi selama jam pelajaran bahasa Inggris (90 menit), yang masing-masing sesi terdiri dari dua tim yaitu posif dan negatif.  Pada saat dua tim bertanding memertahankan argumennya, tim lain yang belum atau sudah tampil menjadi penonton atau pendukung tim yang sedang tampil. Beberapa siswa lain menjadi pengatur waktu dan jalannya debat. Guru menjadi pengamat dan mengevaluasi isi topik, penggunaan kosa kata, tata bahasa, dan pengucapan, dan hasilnnya disampaikan seusai debat, dan setelah itu guru berhak menentukan pemenangnnya.

Baca juga:   Tanya Jawab dengan Variasi Media Pembelajaran, Tingkatkan Hasil Belajar

Dengan debat, kemampuan berbicara siswa akan terasah, sehingga siswa fasih berbahasa Inggris. Ini karenal kosa-kota yang dimiliki siswa yang semula hanya diingat dan dicatat saja dapat diaplikasikan dalam berbicara secara spontanitas, dan kosa kata yang sudah diucapkan akan semakin diingat terus. Kemudian kosa-kata siswa akan bertambah terus karena siswa akan berusaha menemukan kosa kata yang mau digunakan pada waktu debat dengan bertanya lewat teman satu tim, membuka kamus. Dengan pemilihan topik yang bervariatif dan menarik, kosa kata pun semakin bertambah.

Kemampuan pengucapan dan tata bahasa siswa juga semakin terarah menjadi bagus karena siswa akan mengetahui kesalahan-kesalahan yang dibuatnya lewat evaluasi yang diberikan oleh guru. Mereka akan teringat dan mengunakannya dengan tepat pada kesempatan lain.

Guru dapat mengidentifikasi siswa yang memiliki kelemahan berbicara karena ada beberapa siswa yang mempunyai keterampilan menulis dan membaca dengan baik, tetapi lemah berbicara. Lewat debat, kelemahan tersebut semakin tipis, bahkan mampu berbicara bahasa Inggris dengan fasih. Untuk itu, guru hendaknnya mengalokasikan jam pelajaran bahasa Inggris dengan membentuk kelompok debat bahasa Inggris dalam kelas, sehingga siswa mampu atau fasih berbicara inggris.  (tj3/bas)

Guru SMK Negeri 2 Sukoharjo

Author

Populer

Lainnya