Wujudkan Oleh-oleh Kekinian dengan Potensi Wirausaha

spot_img

RADARSEMARANG.COM – Maraknya bisnis kue kekinian oleh para artis dikhawatirkan dapat menggeser kue tradisional. Strudel Malang, Solo Pluffy, Jogja Scrummy, Medan Napoleon, Surabaya Patata, Makassar Baklave, dan masih banyak lagi produk oleh-oleh serupa  tersebar di kota-kota tujuan wisata.  Oleh-oleh berupa modifikasi brownies, pastry, cake asal Eropa, Australia, Turki, Jepang dikemas secara apik dengan membawa nama artis pemiliknya. Kue-kue  yang notabene bukan asli Indonesia tersebut diklaim sebagai oleh-oleh khas daerah. Sejak gerai dibuka, kue jualan para artis  ramai diserbu pembeli. Berawal dari rasa penasaran, pembeli yang bisa jadi adalah penggemar artis rela antre berjam-berjam demi mendapat oleh-oleh kekinian. Hal ini berlawanan dengan gerai oleh-oleh yang menawarkan kuliner tradisonal khas daerah.
Pesatnya perkembangan bisnis oleh-oleh kekinian tak lepas dari perubahan perilaku masyarakat. Jean Paul Baudrillard, sosiolog asal Prancis menyatakan bahwa konsumsi masyarakat mengalami pergeseran orientasi dari upaya untuk memenuhi kebutuhan (needs) menjadi pemenuhan hasrat (desire).  Orang tidak lagi mengkonsumsi barang berdasarkan nilai manfaat melainkan karena nilai tanda/simbolis yang bersifat abstrak. Inilah salah satu alasan populernya oleh-oleh kekinian meskipun kuliner lokal memiliki bahan dan rasa yang sama dengan harga yang lebih murah. Masyarakat terlebih usia remaja cenderung memilih strudel atau pluffy daripada apel atau serabi. Mereka merasa menjadi bagian dari kalangan high class dengan membeli oleh-oleh kekinian.
Realita gaya hidup kekinian dapat dimanfaatkan oleh siswa untuk menumbuhkan jiwa wirausaha. Siswa kompetensi keahlian Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian (TPHP) memiliki bekal ilmu yang mumpuni untuk menciptakan beragam oleh-oleh sebagai produk hasil pertanian. Setelah tiga tahun belajar, siswa menguasai teknik pengolahan dan pengelolaan usaha produksi hasil pertanian. Hasil pertanian nabati dan hewani diolah menjadi produk setengah jadi dan produk siap konsumsi untuk memperpanjang masa simpan.
Siswa TPHP kompeten dalam mengolah hasil pertanian menjadi makanan dan minuman kemasan maupun siap saji. Keunggulan siswa TPHP dalam produksi pangan dilengkapi dengan pengetahuan tentang standar mutu pangan. Siswa dibiasakan mengolah bahan pangan secara sehat dan higienis. Penggunaan bahan tambahan pangan dilakukan sesuai ketentuan sehingga aman dikonsumsi. Hal ini menjadikan produk hasil karya mereka lebih terjamin kualitasnya. Aneka penganan, minuman dan produk herbal diolah sesuai dengan standar produksi pangan yang baik (Good Manufactoring Process) serta memenuhi standar keamanan pangan.
Keterampilan memproduksi makanan dan minuman yang dimiliki oleh siswa TPHP menjadi modal awal untuk berwirausaha. Dewasa ini, orientasi lulusan SMK mengalami pergeseran dari pekerja menjadi pencipta lapangan kerja. Dengan demikian motivasi dibutuhkan dalam mengubah mind set siswa agar timbul keinginan berwirausaha. Menjamurnya bisnis oleh-oleh kekinian menjadi lahan baru bagi siswa yang ingin berwirausaha. Siswa dapat menggunakan keterampilannya untuk memproduksi oleh-oleh khas daerah bercita rasa tinggi yang mampu bersaing dengan oleh-oleh kekinian yang ada. Meskipun demikian, bukan berarti siswa ikut latah dengan bisnis tersebut, melainkan siswa bisa mengangkat kuliner lokal yang dikemas secara kekinian.
Berbekal pengetahuan tentang teknik pengolahan hasil pertanian, siswa dapat berinovasi dalam produksi oleh-oleh. Kuliner lokal yang belakangan ini menurun popularitasnya dimodifikasi dan dikemas ulang sehingga memiliki unsur kekinian. Siswa sebagai generasi muda tentunya lebih paham akan gaya hidup kekinian sehingga dapat membuat produk sesuai selera konsumen. Ide-ide kreatif siswa diharapkan mampu mengembalikan posisi kuliner lokal sebagai oleh-oleh khas daerah.
Merintis sebuah usaha tentu bukan hal yang mudah. Oleh karena itu, siswa memerlukan dukungan pihak-pihak terkait untuk mewujudkan sebuah usaha. Sekolah melalui unit produksi bisa mewadahi produk buatan siswa. Sekolah dapat bekerja sama dengan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah), Dinas Pariwisata maupun Pemerintah Daerah setempat agar produk oleh-oleh kekinian buatan siswa memperoleh tempat dalam pemasaran. Melalui kerja sama yang harmonis niscaya produksi oleh-oleh kekinian siswa mampu berkembang dan bersaing di pasaran. Dengan demikian, siswa tidak lagi menjadi seorang pekerja tetapi menjadi wirausahawan.  (tj3/zal)
Guru SMK Negeri 2 Sukoharjo
 

Baca juga:   Belajar Membaca dengan Examples Non-Examples

Author

Populer

Lainnya