Awalnya Hanya Diikuti 3 Orang, Kini Libatkan 60 Mahasiswa

Su’ud at-Tasdiq, Mahasiswa S2 UIN Walisongo yang Ajari Ngaji di Tiongkok

Must Read

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau...

RADARSEMARANG.COM – Su’ud at-Tasdiq tercatat sebagai mahasiswa S2 UIN Walisongo Semarang. Namun di tengah perjalanannya, ia mendapatkan beasiswa S2 di Tiongkok. Di Negeri Tirai Bambu, ia tak hanya kuliah, tapi juga mendirikan sebuah organisasi mahasiswa Islam. Ia juga mengakomodasi warga Indonesia yang ingin kuliah di Tiongkok.
MUHAMMAD ISMAIL LUTFI
BISA kuliah  di luar negeri adalah kebanggaan yang luar biasa. Bagi yang punya duit banyak, rasanya tidak sulit menempuh pendidikan di negeri orang. Namun bagi yang ekonominya menengah ke bawah, rasanya mustahil bisa kuliah di luar negeri kalau hanya mengandalkan kantong sendiri. Satu-satunya cara ya dengan mencari beasiswa.
Seperti Su’ud at Tasdiq. Sebenarnya dia tidak punya keinginan kuliah ke luar negeri. Namun rupanya alumnus S1 Hukum Pidana UIN Walisongo ini bernasib mujur. Ia justru mendapatkan beasiswa kuliah S2 di Tiongkok.
Di negeri orang itu, Su’ud – sapaan akrabnya–  tak melulu kuliah. Dia juga aktif di organisasi. Salah satu organisasi yang didirikannya adalah Permusim atau Perhimpunan Mahasiswa Muslim Indonesia. Ia mendirikan organisasi tersebut pada 2015 dengan mengajak seorang mahasiswa asal Indonesia.  “Bersama seorang teman itu, saya mengadakan kegiatan ngaji dan sharing rohani dari masjid ke masjid,” ceritanya.
Awalnya, peminat organisasi ini hanya tiga orang. Namun ia yakin, sesuatu yang dilakukan secara konsisten, pasti akan berhasil. Sekarang organisasi ini diikuti 60 mahasiswa muslim di Shanghai.  “Saya mendirikan Permusim guna mengakomodir kegiatan intelektual, sosial, dan keagamaan. Baik bagi mahasiswa maupun masyarakat muslim Indonesia di Shanghai,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Dikatakan, organisasi tersebut mempunyai aktivitas rutin setiap seminggu sekali, yakni  mengaji Alquran, sharing dan membahas permasalahan sosial dan keagamaan di negara yang jumlah warga muslimnya minoritas tersebut.
Setelah kajian, biasanya Su’ud menulis hasil sharing tersebut lalu dipublikasikan di internet. “Setiap minggunya kami rutin melakukan kajian. Kami juga mengadakan pendampingan kepada masyarakat Indonesia  yang membutuhkan, baik pendampingan belajar ngaji maupun pendampingan bagi yang membutuhkan bantuan apapun,” ujar pemuda kelahiran Jepara ini.
Diakui, sebelum mendirikan Permusim, di Tiongkok sudah ada organisasi mahasiswa Kristen, organisasi mahasiswa Budhis, serta organisasi mahasiswa Katolik, yang semuanya warga Indonesia. “Jadi saat itu belum ada organisasi muslim. Saya juga ingin mengajarkan kepada mahasiswa Indonesia akan pentingnya keterampilan berorganisasi. Sebab, di Tiongkok mereka tidak bisa merasakan dinamika organisasi seperti di Indonesia” ujar kader HMI Cabang Semarang ini.
Dari organisasi ini, Su’ud berharap agar bisa melahirkan agent-agent muslim yang canggih dan responsif pada  kondisi sekitar. “Saya berharap dari sini muncul agent-agent yang canggih agar bisa mengenalkan Islam yang Rahmatan Lil Alamin, dan agar mampu mempererat silaturrahmi seluruh masyarakat Muslim Indonesia di Shanghai yang dipelopori oleh teman-teman mahasiswa,” katanya.
“Kami juga memberikan pendampingan sekaligus informasi bagi teman-teman Indonesia yang ingin kuliah di Tiongkok,” tambah mahasiswa S2  Shanghai University og Finance and Economic ini.
Su’ud mengatakan, dengan organisasi tersebut, ia mendapatkan banyak manfaatnya, meskipun ada juga kendalanya. Seperti jarak yang jauh dari masjid dengan waktu tempuh 1-2 jam, dan adanya larangan melakukan aktivitas agama di ruang publik oleh pemerintah. Akan tetapi, semua itu tidak menjadi masalah yang rumit. “Alhamdulillah semua itu tidak menjadi masalah yang rumit, karena intinya selama kita berusaha untuk melakukan kebaikan, pasti Allah akan menunjukkan jalan terbaik dan memberikan kemudahan,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang. (*/aro)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini hadir dengan keunggulan internal memori...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau SARS 18 tahun lalu. SARS: yang...

Wajah Baru Warnai Ofisial Tim PSIS

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – PSIS Semarang resmi memperkenalkan ofisial tim musim depan. Terdapat beberapa nama baru yang akan bahu-membahu membantu pelatih Dragan Djukanovic mengarsiteki Mahesa Jenar...

Lomba Cepat

Berita buruknya: korban virus Wuhan bertambah terus. Sampai kemarin sudah 106 yang meninggal. Hampir semuanya di Kota Wuhan --ibu kota Provinsi Hubei.Berita baiknya: yang...

More Articles Like This

- Advertisement -