33 C
Semarang
Minggu, 27 September 2020

Tarif Ijazah SMA Rp 150 Juta, Sarjana Rp 200 Juta

Ibu dan Anak Otak Penipuan CPNS

Baca yang Lain

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak...

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Tiga pelaku sindikat penipuan dengan modus menjanjikan masuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) diringkus aparat Polrestabes Semarang. Sebelum ditangkap, pelaku telah mengeruk keuntungan miliaran rupiah dari 110 orang korban. Masing-masing korban, menyetorkan uang bervariasi antara Rp 150 juta hingga Rp 350 juta per orang.
Tiga pelaku yang diamankan adalah, Maria Sri Endang Triadi alias ME, 59, warga Ketileng Asri Kelurahan Sendang Mulyo Tembalang; Herry Sucipto alias HR, 59, warga Kecamatan Pedurungan; dan Windu Purbowo alias WD, 30, merupakan sarjana kependidikan warga Sebandaran Kelurahan Gabahan Semarang Tengah.
Ketiganya diringkus aparat dalam waktu dan tempat terpisah beberapa hari lalu. “Tersangka yang berhasil kami amankan tiga orang. Yakni, seorang wanita dan dua laki-laki,” kata Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abioso Seno Aji saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Kamis (29/3) kemarin. 
Tiga tersangka tersebut memiliki peran berbeda-beda dalam melancarkan aksi penipuan. Tersangka Maria Sri Endang Triadi, sebagai otaknya, mengaku bekerja di Lembaga Administrasi Negara (LAN) di Jakarta.
“Modus operandi yang dilakukan pelaku ME dengan menawarkan bantuan atau memfasilitasi masyarakat yang berkeinginan menjadi PNS di kementrian maupun instansi pemerintah lainya,” bebernya.
Sedangkan tersangka Herry Sucipto, berperan menghubungkan dan mendampingi para korban kepada tersangka Maria Sri Endang. Sedangkan tersangka Windu Purbowo berperan membantu memberikan berkas dan menyerahkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan CPNS yang diduga palsu kepada korbannya.
“Kasus ini sepertinya ringan, hanya sekedar penipuan. Namun korbannya cukup banyak. Korban yang sudah terdata saat ini ada 14 orang. Ada dari Surabaya, Medan, Bandung, Lampung. Kemudian dari Jawa Tengah ada dari Boyolali, Sragen, Demak, Pemalang dan masih banyak lainnya,” katanya.
Belasan korban yang sudah melapor antara lain, M, warga Boyolali yang menderita kerugian Rp 457.500.000; S, warga Sragen rugi sebesar Rp 150.000.000; S, warga Sragen, rugi Rp 275.000.000; K warga Ungaran rugi Rp 311.500.000; S warga Semarang rugi Rp 320.000.000; P warga Rembang, rugi Rp 982.000.000; OK warga Ungaran rugi Rp 250.000.000; A warga Semarang rugi Rp 412.000.000; NO warga Demak rugi Rp 300.000.000; TRW warga Semarang rugi Rp 79.000.0000; DS warga Pemalang rugi Rp 265.000.000; DH warga Semarang rugi Rp 329.000.0000; H warga Semarang rugi Rp 400.000.000; dan S dari Surabaya rugi Rp 450.000.000.
Namun demikian, Abioso mengungkapkan ada kemungkinan korban-koban lain yang belum melaporkan kasus ini kepada kepolisian. Dari aksi kejahatan pelaku, kerugian para korban yang terdeteksi mencapai Rp 4,981 miliar. “Operasinya sejak tahun 2012 hingga awal 2018. Dari peristiwa ini, kerugian saat ini masih sekitar Rp 4 miliar lebih. Belum dihitung dengan jumlah korban lainnya yang belum melaporkan ke Polrestabes Semarang,” bebernya.
Rata-rata, korban mengalami kerugian ratusan juta rupiah per orang dan uang tersebut diserahkan langsung kepada tersangka Maria Sri Endang. Uang tersebut sebagai syarat untuk bisa menjadi PNS di kementrian. “Bagi masyarakat yang memiliki ijazah SMA dikenai biaya sebesar Rp 150 juta dan berijazah S1 atau sarjana Rp 200 juta. Namun korban yang telah menyerahkan uang tersebut, tidak ada yang berhasil menjadi PNS,” tegasnya.
Para korban juga diiming-imingi SK Menteri Perhubungan RI tentang pengangkatan calon PNS, SK Menteri Keuangan RI, dicap dan ditandatangani atas nama Menteri Keuangan RI dan Dirjen Pajak , SK Menteri Pekerjaan Umum RI, dan SK Menteri Kehutanan RI. “Modusnya korban diiming-imingi SK yang ada. Ini yang dipakai untuk meyakinkan masyarakat seolah-olah untuk menjadi PNS benar adanya. Namun setelah dilakukan penelitian dan pengkajian, SK tersebut palsu,” bebernya.
Tak hanya itu, para korban yang telah menyetorkan uang kepada Maria juga diberangkatkan ke Jakarta dengan dalih untuk mendapatkan pelatihan. Namun sesampainya di Jakarta, mereka tidak mendapat pelatihan dengan dalih ada penundaan.
“Modus yang sama tersebut terus menerus dilakukan. Akhirnya, masyarakat yang sudah menyerahkan uang ratusan juta rupiah tadi, merasa dirugikan. Pasalnya, hingga waktu yang ditentukan tidak ada panggilan dan ditetapkan sebagai PNS di kementrian ataupun institusi pemerintah lainnya,” katanya.
Atas kejahatan ini, pihak kepolisian telah melakukan pengecekan ke berbagai instansi yang telah disebut tersangka. Ternyata tidak benar dan hal tersebut adalah penipuan. “Kami sudah melakukan kroscek ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Kami sudah mendapatkan keterangan dari sana dan menyatakan bahwasanya itu semua tidak benar,” tegasnya.
Selain menyita berkas-berkas yang digunakan sebagai alat kejahatan para tersangka, petugas menyita dua unit mobil dan sepeda motor. Pihak kepolisian juga akan melangkah ke penyelidikan yang mengarah adanya dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).
“Nanti mengarah ke TPPU. Kalau pengakuan tersangka (ME, red) uang tersebut sebagian digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Tapi apakah digunakan untuk membeli mobil, tanah, atau apapun. Ini akan kami selidiki,” terangnya.
Pihak kepolisian akan terus melakukan penyelidik pengungkapan kasus ini. Abioso menduga, tidak menutup kemungkinan adanya pelaku-pelaku lain yang terlibat dalam kasus kejahatan ini. Sebab, tersangka Maria memiliki jaringan atau kaki tangan lain yang turut membantu menjalankan aksinya.
“Pelaku ini ibu rumah tangga. ME ini memiliki kaki tangan dan ke bawahnya memiliki kaki tangan lagi. Jadi kaki tangan-kaki tangan inilah yang menghubungi masyarakat tadi. Uang yang terkumpul masuk ke ME dan ME juga yang mengelola. Kaki tangan yang berhasil kami amankan, baru ada dua dan akan terus kami kembangkan,” jelasnya.
Abioso mengimbau kepada masyarakat luas yang pernah merasa menjadi korban penipuan, untuk segera melapor ke Polrestabes. Begitu juga kepada masyarakat luas, diingatkan jangan mudah tergiur dan mempercayai informasi yang tidak benar. “Kalau mau jadi PNS di pemerintahan, cek langsung apakah betul harus bayar ini itu. Termasuk untuk menjadi anggota Polri, tidak ada harus bayar, semuanya gratis,” imbuhnya.
Dari kejadian ini, kepolisian saat ini memburu pelaku Wisuda Sunyoto alias Wiwis alias Wisnu, warga Jalan Jangli Krajan Barat Kelurahan Jatingaleh Kecamatan Candisari. Laki-laki ini adalah anak Maria Sri Endang yang juga tersangka utama. Saat ini statusnya masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).
“Tersangka W ini diduga yang membuat atau mempersiapkan SK Pengangkatan CPNS yang diduga palsu untuk diserahkan kepada para korban. W ini menerima bagian uang yang diberikan oleh korban,” imbuh Kasubag Humas Polrestabes Semarang, Kompol Suwarna. (mha/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...

Setuju BTP

BTP kini sudah menjadi ''orang dalam" BUMN. Posisinya bisa dibilang menentukan, bisa dibilang kejepit. Tergantung pemegang sahamnya. Secara resmi pemegang saham BUMN itu adalah Menteri Keuangan....

Artikel yang Lain

- Advertisement -

Populer

Semarang 10K, Cetak Atlet Sekaligus Kenalkan Wisata 

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang akan mengadakan event lari 10K pada 16 Desember 2018 mendatang. Rencananya kegiatan tersebut akan menjadi agenda tahunan. Selain...

Apersepsi, Pembangkit Motivasi Dan Minat Siswa

RADARSEMARANG.COM - DARI tahun pelajaran 2016/2017 sampai dengan saat ini, terdapat kebijakan baru terhadap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)....

Headline Radar Semarang Terbaik se-Jawa Pos Group

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Jawa Pos Radar Semarang meraih penghargaan bergengsi dalam Kompetisi Product Quality Jawa Pos Group 2017-2018. Headline Jawa Pos Radar Semarang berjudul “Pabrik Pil...

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

RADARSEMARANG.COM-Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota Atlas dipastikan tak pernah mati. Justru kini semakin marak,...

Sport Center Bisa Tingkatkan Prestasi

SEMARANG - DPRD meminta agar Pemprov dan kabupaten/kota lebih serius menggarap potensi atlet di Jateng. Salah satunya dengan meningkatkan dan menambah keberadaan pusat olahraga...

Jateng Bantu Rohingya Rp 256 Juta

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Pemprov Jateng menyerahkan bantuan yang dihimpun dari masyarakat dan berbagai lembaga di Jateng, untuk masyarakat Rohingya Myanmar. Yakni, berupa uang tunai sebesar Rp...