32 C
Semarang
Selasa, 22 Juni 2021

Kausalitas Ketuhanan Sains dan 9 Nilai Antikorupsi

RADARSEMARANG.COM – Trend topik tiang listrik dan setyo novanto menghiasi medsos. Inti persoalan utamanya berkaitan erat dengan penegakan korupsi antara pelaku dan penegak korupsi. Prilaku korupsi telah menjalar dari tingkat desa hingga kota  dari tukang sapu  sampai pimpinan wakil rakyat.  Prilaku korupsi ini telah membudaya di Indonesia, hal inilah menjadi penyebab terpuruknya bangsa Indonesia. Bagaimana dorongan untuk korupsi dapat dikurangi ?. Salah satu faktor korupsi adalah  niat.  Niat korupsi dapat diatasi melalui penciptaan lingkungan yang bersih. Penciptaan lingkungan yang bersih dimulai dari pendidikan Dasar.
Pendidikan  dasar  tingkat Sekolah dasar merupakan bagian dari alat pembentukan dan pengembangan karakter bangsa. Hal ini jelas menjadi jalan terlepasnya bangsa Indonesia dari masalah korupsi. Pendidikan merupakan upaya normatif beracuan nilai-nilai mulia yang menjadi bagian dari kehidupan bangsa. Ada 9 nilai mulia yang dipercaya dapat menghindarkan perilaku-perilaku koruptif diantaranya: (1) Kejujuran, (2) Kepedulian, (3) Kemandirian, (4) Kedisiplinan, (5) Tanggung jawab, (6) Kerja keras, (7) Sederhana, (8) Keberanian, dan (9) Keadilan. Ke-sembilan nilai tersebut dapat ditranfer melalui aspek kognitif, sikap (afektif)  maupun keterampilan (Psikomotor). Kepemilikan nilai mulia dapat dikembangkan melalui pembelajaran sains.
Kausalitas Ketuhanan Ada Pada Sains
Pembelajaran sains dengan kausalitas ketuhanan merupakan model pembelajarn sains yang diajarkan secara tuntas. Selama ini proses pembelajaran hanya pada tataran proses yang tidak sampai pada tataran kausalitas. Salah satu contohnya proses pembelajaran sains di SD sebagai berikut; pembelajaran terjadinya hujan,  dimulai dari panas matahari yang menyebabkan air menguap dan terbentuk uap air, suhu udara yang tinggi membuat uap air menjadi padat dan terbentuk awan, dan dengan bantuan angin, Awan kecil menjadi awan besar, dan pembelajaran terjadi dengan terbentuk hujan. Pada proses pembelajaran menghilangkan tersebut menghilangkan satu hal yang sangat penting dan menjadi tuntasnya pembelajaran yaitu bahwa probabilitas terjadinya  hujan karena perintah atau kehendak Allah SWT. Hujan terjadi karena Allah menghendaki terjadinya hujan.  Hal ini tidak pernah sampai pada pembelajaran sains untuk anak SD.
Sistem belajar yang membawa sains dalam kausalitas ketuhanan merupakan sebuah seni mengajar yang seharusnya menjadi titik perjuangan bagi guru. Kausalitas sains ketuhanan pada akhirnya akan didapat manusia yang mencintai kebenaran. Proses mempelajari sains secara tuntas sebenarnya merupakan proses mempelajari Tuhan. Informasi sains yang tuntas pada akhirnya mengajak sipembelajar untuk melihat realitas kausalitas tunggal yaitu Tuhan pencipta Alam.
Pembelajaran kausalitas sains yang berketuhanan akan membawa pada pribadi yang  taat aturan. Kausalitas sains berketuhanan mengajarkan manusia untuk menjauhkan diri dari tindakan korupsi. Namun sains  berketuhanan yang menjanjikan ini belumlah dipahami secara benar dan dihayati untuk kemudian ada proses transfer antara pendidikan dan peserta didik dilingkungan pendidikan dasar. Adanya sains yang berketuhanan akan menjanjikan kebersihan negara pada proses waktu kedepan. Hal ini tentunya akan mengubah “citra” yang buruk di mata dunia terkait dengan praktek korupsi di Indonesia. (as3/zal)
Dosen UIN Walisongo Semarang

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here