32 C
Semarang
Jumat, 18 Juni 2021

Diminta Tak Andalkan Twitter

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemprov Jateng diminta tak hanya mengandalkan media internal dan medsos dalam menyebarkan informasi terkait kebijakan. Sebab adakalanya kanal internal seperti twitter dan medsos lainnya kurang efektif menjangkau kelompok masyarakat tertentu. Sebagian masyarakat justru lebih menyukai komunikasi secara tatap muka.
Hal tersebut dikatakan Galih Wibowo S.Sos MA saat paparan disertasinya dengan judul “Kebijakan Diseminasi Informasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah”. Galih ditetapkan lulus dalam ujian promosi doktor, Program Studi Doktor Administrasi Publik FISIP Undip. Ujian digelar di Ruang Sidang Utama Gedung Pasca Sarjana Undip, Selasa (27/3). Staf Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Dinkominfo Jateng itu disebut-sebut sebagai doktor termuda di Pemprov Jateng. Dia lulus berpredikat cumlaude dengan IPK 3,89 dan lama studi 3 tahun 25 hari.
Menurut dia, dalam penelitian yang dilakukan, ada peran kelompok informasi masyarakat yang penting dalam diseminasi informasi. Kelompok ini dipimpin para tokoh masyarakat. Di beberapa daerah, kelompok informasi ini melakukan penyebaran informasi melalui kegiatan layar tancap hingga jagongan manten. “Yang lebih maju lagi ada di Purbalingga. Mereka membuat radio. Isu apapun dibahas. Seperti pembuatan SIM dan STNK. Mereka tak segan mengundang polisi sebagai narasumber,” ungkap Galih yang mengambil sejumlah media cetak, televisi, dan radio sebagai informan penelitian.
Dikatakannya, ada beberapa kelompok masyarakat yang lebih menyukai komunikasi tatap muka seperti itu. Sebagai orang Jawa, mereka menganggap cara tersebut lebih nguwongke. Selain itu, pengguna internet di Jateng tak lebih dari 30 persen karena infrastruktur yang kurang. Maka, internet hanya menjangkau kalangan menengah keatas.
Dikatakannya, media internal seperti twitter juga punya kelemahan. Ketika masyarakat melapor, respon pemerintah adalah melempar keluhan tersebut ke dinas terkait. Sehingga pertanyaan atau keluhan tak bisa dijawab seketika. “Masyarakat juga bingung, akun twitter nya banyak karena seluruh dinas punya akun. Begitu juga nomor SMS. Mereka bingung mau melapor kemana,” papar pria 37 tahun tersebut.
Dia menyarankan Pemprov Jateng menggunakan kolaborasi sumber daya, dan kerjasama dengan media massa dalam diseminasi informasi. Sebab, dalam penyebaran informasi, ada 4 aktor yaitu
birokrasi, kelompok informasi, media massa, dan publik selaku subjek dan penerima kebijakan.
Dia menilai implementasi kebijakan diseminasi informasi pada Pemprov Jateng kurang optimal. Permenkominfo No 17/2009 tentang Diseminasi Informasi Pemda sebagai acuan tak terlaksana dengan baik karena beberapa sebab. Diantaranya istilah diseminasi informasi menjadi hal asing dan tidak populer di mata pemangku kepentingan. Selain itu, SDM pelaku diseminasi informasi jumlahnya terbatas dan tidak didukung kompetensi formal yang linear dengan pekerjaan.
Dalam ujian promosi tersebut, tampil sebagai promotor utama Prof Drs Y Warella MPA PhD dan co promotor Prof Dr Dra Sri Suwitri MSi serta Dr Kismartini MSi. Sementara penguji adalah DR. Drs Sunarto MSi, DR Hedi Pudjo Santoso MSi, DR Retno Kusumaningrum SSi MKom, Dr Ida Widianingsih SIP MA PhD, dan Dr Hj Lishapsari Prihartini MSi. (ric)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here