“The Magic Character” dalam Serat Wulangreh

spot_img

RADARSEMARANG.COMSerat Wulangreh, sebuah buku kumpulan tembang karya Susuhunan Paku Buwana IV adalah warisan budaya yang di dalamnya terkandung nilai-nilai moral yang sangat berharga. Kandungan nilai-nilai moral itu sangat relevan untuk diteliti dan diungkapkan kembali dalam situasi masyarakat yang moralitasnya carut marut. Nilai-nilai moral dalam Serat Wulangreh itu sangat berguna untuk pengembangan pendidikan karakter yang saat ini sedang diwacanakan. Serat Wulangreh dapat memberikan sumbangan dan menjadi tawaran alternatif bagi upaya perbaikan moralitas bangsa.
Di dalam Serat Wulangreh terdapat kandungan nilai-nilai moral atau budi pekerti yang tersebar dalam 13 (tiga belas)pupuh tembang yang ada. Nilai-nilai yang terkandung pada masing-masing tembang dalam Serat Wulangreh tersebut antara lain nilai karakter rendah hati dan pengendalian diri.
Rendah Hati
Di dalam Serat Wulangreh mengajarkan sifat handhap hasor (rendah hati), yang hingga kini masih populer dalam sosiokultur masyarakat Jawa. Sifat rendah hati tidak semata-mata diajarkan bagi orang-orang yang status sosialnya rendah atau orang-orang yang dalam posisi lemah, tetapi orang-orang yang status sosialnya tinggi atau memiliki kelebihan pun diajarkan hal yang sama. Orang yang pandai namun rendah hati digambarkan dalam ungkapan pintere denalingi (kepandaiannya disembunyikan); bodhone dinekek ngayun (pura-pura bodoh); tan ngendak gunaning janmi (tidak meremehkan kemampuan orang lain). Oleh karena itu, sifat ngrasa bener pribadi (merasa hanya dirinya yang benar), apalagi kumenthus klawan kumaki (merasa mampu dan sombong) merupakan sifat yang tercela.
Dalam kultur masyarakatJawa sekarang, mungkin sulit dipahami sikap rendah hati. Lebih-lebih dalam kultur persaingan atau situasi konflik. Pesan dalam moralitas Jawa yang berbunyi sapa ngalah luhur wekasane, merupakan karakter yang patut diteladani.
Pengendalian diri
Serat Wulangreh juga mengajarkan untuk senantiasa eling (ingat, sadar, tidak lupa diri) di mana saja dan kapan saja. Dalam etika Jawa, orang perlu mengendalikan diri ketika berbicara maupun bertindak. Sehubungan dengan hal itu, pesan di dalam Serat Wulangreh adalah deduga lawan prayoga (memperhitungkan kepantasan) dalam ucapan dan perbuatan. Dengan demikian perlu dihindari basa kang kalantur (ucapan yang tidak terkontrol) dan polah kang kalantur (perilaku yang tidak terkontrol).
Pengendalian diri menjadi sangat spiritualistik ketika dimaknai sebagai pengendalian nafsu, yang akan menciptakan balancing (keseimbangan) suasana batin. Logikanya, pengendalian diri dimaksudkan agar tercipta keseimbangan lahir batin. Dengan pengendalian diri, seseorang tidak larut dalam kenyataan lahiriah yang sedang dialami, namun mampu menciptakan suasana batin yang sangat bertolak belakang dengan kenyataan lahiriah tersebut.
Pada taraf tertentu, ajaran pengendalian diri dianggap kurang sejalan dengan zaman now yang lebih menekankan aktualisasi diri. Pengendalian diri yang berlebihan dapat mengakibatkan seseorang takut salah, kurang berani bertindak, apalagi keberanian mengambil risiko. Di sinilah diperlukan kecerdasan dalam mengambil tindakan agar “the magic characterdalam Serat Wulangreh dapat berjalan seperti yang diharapkan.
Serat Wulangreh merupakan karya sastra agung yang mempunyai kemampuan bertahan cukup kuat dan nilai-nilai yang dikandungnya tetap lestari. Serat Wulangreh merupakan warisan budaya yang hingga kini masih cukup dikenal dan tetap cocok dengan masyarakat Jawa. Proses pewarisan nilai-nilai budaya tersebut tidak melalui jalur struktural, termasuk sistem pendidikan formal, melainkan melalui jalur nonformal dan multikultural. Kenyataan ini dapat menjadi prediksi bahwa Serat Wulangreh sebagai bagian dari budaya Jawa yang adi luhung akan tetap bertahan dan nilai-nilai pendidikan karakter dalam Serat Wulangreh masih tetap cocok, sejalan dengan kehidupan nyata, khususnya masyarakat di era atau zaman now. (*/ton)
Guru SMP 1 Guntur Demak

Author

Baca juga:   Sosiodrama Tingkatkan Keterampilan Memeragakan Pesan dalam Dongeng

Populer

Lainnya