“Nunut Praktik”, Solusi Menyiasati Keterbatasan dalam Pembelajaran Praktik

spot_img

RADARSEMARANG.COM – DUA hal yang perlu ditekankan pada pendidikan kejuruan—seperti pendapat beberapa pakar pendidikan—adalah Learning by doing dan Hands-on experience. Maka, merujuk dua hal tersebut, guru dituntut kreatif untuk menyiasati kegiatan pembelajarannya di dalam kelas. Baik yang berhubungan dengan metode/model pembelajaran yang dilakukan maupun media pembelajaran yang digunakan.
Seperti halnya pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pada umumnya, di SMK kelompok Agroteknologi dan Agroindustri–khususnya SMK Pertanian—porsi pembelajaran praktik lebih besar dibandingkan pembelajaran teori. Keterlaksanaan kegiatan pembelajaran praktik, memerlukan ketersediaan alat. Juga bahan yang semestinya sesuai dengan jumlah siswa yang sedang melakukan kegiatan praktik.
Mata pelajaran Dasar-Dasar Pemeliharaan Ternak, merupakan mata pelajaran dasar kejuruan pertama yang diajarkan di Prodi Agribisnis Ternak SMK Pertanian. Pun, di Prodi Agribisnis Ternak SMK Negeri 1 Salam. Mata pelajaran ini, yang dipelajari hanya fokus pada bidang Agribisnis Ternak saja. Yaitu, Agribisnis Ternak Unggas
Peristiwa meletusnya Gunung Merapi beberapa tahun silam, masih terasa dampaknya bagi Prodi Agribisnis Ternak SMK Negeri 1 Salam. Sebelum lahar dingin menerjang, Prodi Agribisnis Ternak masih memiliki sarana praktik berupa kandang ayam lengkap. Fasilitasnya memadai dan mampu dijadikan sebagai tempat berpraktik yang secara ratio dapat dikatakan cukup untuk menampung banyak siswa.
Saat ini, Prodi Agribisnis Ternak SMK Negeri 1 Salam memiliki 9 rombongan belajar (Rombel). Terdiri atas 3 rombel kelas X, 3 tombel kelas XI , dan 3 rombel lagi kelas XII. Selaku pengajar mata pelajaran Dasar-Dasar Pemeliharaan Ternak, penulis merasa ada kendala saat harus memberikan pembelajaran praktik. Kendala yang ada, tidak mencukupinya sarana praktik dibandingkan jumlah siswa. Selain itu, bisa juga terjadi, saat siswa kelas X merencanakan kegiatan praktik pemeliharaan ayam pedaging, pada saat bersamaan, kelas XI juga sedang melakukan praktik pemeliharaan ternak yang sama.
Maka, untuk menyiasati berbagai kendala yang berhubungan dengan ketercapaian kegiatan pembelajaran praktik itulah, penulis mencari model pembelajaran lain. Yaitu, menyederhanakan penerapan model Project Based Learning (PjBL) dalam pembelajaran, yang dipadukan dengan sistem penugasan.
Penulis tertarik, sekaligus tertantang untuk melakukan atau menerapkan model sederhana ini. Pertimbangannya, penulis merasa bahwa siswa hanya sedikit menerima porsi pembelajaran praktik di sekolah, seperti teruraikan di atas.
Satu sisi, penerapan lima hari sekolah, maka pada Sabtu dan Minggu, siswa-siswi justru lebih banyak diisi dengan jalan-jalan atau kumpul-kumpul dengan temannya. Dari hasil pengamatan dan perenungan hal-hal tadi, muncul ide atau gagasan mererapkan model PjBl dan Penugasan, sebagai pengganti kegiatan siswa saat liburan.
Penulis lantas memberikan tugas kepada para siswa untuk mendatangi dan mengikuti kegiatan pemeliharaan ternak unggas di kandang-kandang peternak yang ada di wilayah atau daerah sekitar lokasi sekolah. Atau yang terdekat dengan rumah tinggal mereka. Kegiatan ini sifatnya wajib.
Siswa dipersilakan membentuk kelompok kerja. Langkah berikutnya, siswa merencanakan kapan akan melakukan survei lokasi kandang. Sekaligus, lobi kepada pemilik kandang. Kemudian, semua anggota kelompok menyusun rencana atau jadwal kapan saja mereka akan melakukan kegiatan praktik tersebut.
Penulis juga menekankan pada siswa, poin apa saja yang harus mereka lakukan selama “nunut praktik”. Mereka wajib mengikuti semua aturan/tata tertib dari perusahaan / pemilik kandang. Karena rata-rata siswa melakukan kegiatan “nunut praktik” pada Sabtu dan Minggu, biasanya pada Senin, penulis rutin menanyakan kegiatan mereka. Kemudian, dilanjut dengan merapikan jurnal kegiatan atau merapikan pencatatan (recording).
Alhamdulillah, respons dan antusias siswa sangat baik. Mereka menyenangi kegiatan penugasan tersebut. Bahkan ketika target tugas sudah terlampaui pun, masih ada para siswa yang rutin kembali ke kandang untuk membantu pekerjaan di sana. Pada akhirnya, penulis memiliki harapan, setelah menerapkan model PjBL berpadu Penugasan, para siswa sudah menguasai keterampilan-keterampilan dasar pemeliharaan ternak unggas. Sehingga jika nanti kelas XI, mereka sudah siap mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL). (*/isk)
Guru SMK Negeri 1 Salam, Kabupaten Magelang

Baca juga:   Portal Rumah Belajar, Dukung Pembelajaran Efektif

Author

Populer

Lainnya