Antusiasme Guru Mengikuti Pelatihan Sagusabu

spot_img

RADARSEMARANG.COM – APA itu Sagusabu? Ini memang sebuah akronim dari program Satu Guru, Satu Buku. Artinya, seorang guru sebisa mungkin diminta menghasilkan karyanya berupa satu buku. Tujuannya, memotivasi para guru untuk menghasilkan buku. Program ini diwadahi oleh media guru yang didukung oleh Direktorat Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam hal ini, Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK).
Target utama kegiatan Sagusabu, tidak hanya guru. Tapi juga kepala sekolah dan pengawas sekolah. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan, siswa yang berminat pun, boleh mengikuti. Hingga saat ini, sudah ratusan—bahkan ribuan buku—yang telah dihasilkan di media guru lewat Sagusabu. Buku-buku tersebut telah diarsipkan di Perpustakaan Nasional dan sudah sudah ber-ISBN.
Sagusabu juga sudah melahirkan banyak guru berprestasi di kancah nasional. Selain buku cetakan, versi buku digital pun sudah dibuat. Buku yang dihasilkan beragam jenisnya. Di antaranya, novel, puisi, memoar, buku pengayaan, diktat, dongeng, dan lainnya.
Peserta pelatihan Sagusabu diikuti oleh 119 guru, baik guru PAUD, TK, SLB, SD, SMP, SMA, SMK, MAN, dan P4TK. Perguruan tinggi, bahkan siswa SD yang mempunyai antusiasme untuk menulis pun, mengikuti pelatihan. Siswa yang dimaksud sudah menghasilkan sebuah buku, meski belum sepenuhnya jadi. Tapi, sudah masuk ke bagian editor. Inilah yang mendorong penulis dan peserta lain untuk mengikuti jejaknya: menulis sebuah buku.
Tentu masih banyak peserta lain yang menghasilkan karya buku. Target pelatihan ini, setiap peserta, dalam satu bulan, harus sudah dapat menghasilkan buku. Pelatihan diikuti oleh guru dari berbagai daerah. Seperti Klaten, Jogja, Wonosari, Sleman, Bantul, Wonosobo, Kebumen, Magelang, Salatiga, Cilacap, bahkan dari luar Jawa, seperti Bangka Belitung, Padang, dan lainnya. Pelatihan dilaksanakan selama 2 hari di gedung Penerbit Erlangga, Jalan Gedong Kuning No.132, Kota Gede, Yogyakarta.
Ya, menulis tidak harus menunggu waktu luang, di mana ada kesempatan dapat digunakan untuk menulis. Ide bisa datang kapan saja. Jangan sampai ide hilang sebelum sempat ditulis. Awalnya, untuk memulai menulis, sangatlah sulit. Jangankan untuk menulis, untuk menuangkan atau menemukan ide saja, sulit—meski sebenarnya seseorang mempunyai banyak ide—, tapi belum tahu bagaimana cara menuliskan ide tersebut.
Demikian juga yang dialami oleh penulis. Tetapi dengan mengikuti pelatihan dan melatih diri untuk menulis, tentu akan membantu seseorang terbuka wawasannya untuk bisa menulis. Mari bersama-sama belajar menulis. (*/isk)
Guru Perikanan SMK Negeri 1 Salam, Kab. Magelang

Author

Baca juga:   Menjadi Smart Teacher di Era Smartphone

Populer

Lainnya