32 C
Semarang
Rabu, 23 Juni 2021

Nyanyian Sedih dari Nomor +6285231595071

Masyarakat tidak perlu ragu untuk menolak segala bentuk penyalahgunaan profesi termasuk permintaan materi.
RADARSEMARANG.COM – SEBUAH pesan terkirim ke WA (WhatsApp) saya nyaris tengah malam. Belum sempat saya buka sudah muncul pesan berikutnya. Isinya sama. Laporan.  Ada orang yang mengatasnamakan Radar Jawa Pos Pers minta bantuan pengobatan untuk temannya. Ketika tidak ditanggapi, segera disusul sumpah serapah.
Saya kutipkan aslinya. Kata-katanya sangat menyakitkan. Apalagi bagi orang Jawa Tengah yang lembut. ‘’Dancuk Raimu Bajingan PKI Asu Pengecut Asu Budhek Bangsat Raimu Cuk Dancuk,’’ demikian bunyinya bernuansa Jawa Timuran. Tidak pantas diucapkan oleh siapapun. Kepada siapapun. Kecuali oleh orang gila.
Ketika bertamu ke Bupati Pekalongan Asip Kholbihi,  saya menerima laporan yang sama. Saat itu saya duduk persis di sebelah kursi bupati. Seorang staf menunjukkan pesan SMS dengan menyodorkan handphone. ‘’Apakah Ibu percaya, wartawan kami melakukan hal itu?,’’ tanya saya. ‘’Itu wartawan Bapak. Tidak mungkinlah dia melakukan itu,’’ jawabnya sambil menunjuk ke Taufik Hidayat, wartawan Jawa Pos Radar Semarang di wilayah Kabupaten Pekalongan. Dia tersenyum. Saya pun menyungging.
Sesungguhnya saya tak begitu tertarik menanggapi laporan tersebut. Itu modus lama penipuan. Dua tahun lalu sudah beredar di wilayah Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan. Itu semua wilayah Jawa Pos Radar Kudus. Belakangan muncul lagi. Di wilayah Jawa Pos Radar Semarang. Seperti, di Kota Semarang sendiri, Pekalongan, Batang, Kendal, Demak, Salatiga, Magelang, Temanggung, dan Wonosobo.
Saya tidak tertarik karena beberapa hal. Nama-nama yang dipergunakan tidak menunjuk langsung ke wartawan Radar Kudus maupun Radar Semarang. Misalnya Aji, Lutvi, Taufik, dan Agus. Itu nama-nama pasaran.
Perusahaan yang dipergunakan juga tidak sama persis. Penipu menggunakan nama Jawa Pos Radar Pers. Sedangkan perusahaan Radar Kudus bernama PT Kudus Intermedia Pers. Radar Semarang menggunakan PT Semarang Intermedia Pers.
Lama-lama saya keri juga. Semua laporan yang pernah masuk saya cermati. Saya baca satu per satu. Pisuhannya nyaris sama. Kalau ada yang berbeda hanya kalimatnya. Tetapi, gaya dan nadanya sama. ‘’Lonteh Pengecut,’’ contohnya yang pendek.
Sumpah serapah tersebut dikirim melalui SMS (short message service) dengan nomor yang sama. Yaitu +6285231595071. Ketika lagi marak di Kudus dan sekitarnya, nomor ini pula yang dipergunakan. Nama yang dipakai saja berbeda-beda. Yaitu, nama-nama yang mirip inisial wartawan Radar Kudus dan Radar Semarang.
Kalimat permintaannya juga nyaris sama. ‘’Tlg njenengan bantu gotong royong semampunya mas Ary. Kasihan operasi jantung di rs muwardi solo. Tks banyak sebelumnya Pak smg byk rjkinya. Amin. Slm dr teman2 pers.’’ Ada juga yang berbunyi begini, ‘’Ass wr wb bmn kbrnya Pak …? Mas Aji Radar Jawa Pos Pers.’’
Permintaan tersebut disertai nomor rekening BCA 0901391903 atas nama Ary Siswanto. Orang yang mengatasnamakan Aji dan nama lain meminta agar sumbangan dikirim ke nomor rekening tersebut supaya diterima langsung oleh keluarganya.
Sasarannya kebanyakan para pejabat di lingkungan pemerintah kabupaten/kota dan provinsi. Di antara mereka ada yang terkecoh. Dia mengirim dana ke rekening yang disertakan. Alasannya kasihan. Sedangkan dia sendiri tidak tahu siapa yang mengirim pesan tersebut. Banyak juga orang yang tidak menanggapi. Sebagian yang lain mengkonfirmasi ke wartawan sebenarnya.
Meski tidak seluruhnya tertipu, mereka merasa resah. Pasalnya, begitu permintaan tidak dilayani, langsung meluncur sumpah serapah. Sedih juga. ‘’Kalau perlu kita tracking posisinya dan ditangkap saja komandan,’’ saran seorang wartawan di Surabaya kepada saya di malam yang telah larut. Tujuannya untuk meredam keresahan para korban.
Saya tergerak. Melalui jaringan yang ada, bisa ditemukan posisi nomor telepon. Pada dini hari itu posisi telepon berada di Kelurahan Tlumpu, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Saat yang lain di Kediri. Posisi nomor telepon selalu berada di wilayah Jawa Timur.
Saya telah berkali-kali menghubungi nomor telepon tersebut. Beberapa kali tersambung. Malah sempat diangkat. Namun, orangnya tak sekalipun berbicara. Saya kirimi SMS juga bisa. Kemarin pagi sempat dijawab dua kali. Tetapi, dengan nomor  depan diawali 9 menjadi 985231595071. Itu berarti dia mengubah saluran menjadi lokal. Nomor telepon tersebut tidak bisa terhubung dengan WA.
Kenapa sasaran penipuannnya di Jawa Tengah? Itulah modus. Supaya tidak gampang ditangkap.  Besar kemungkinan mereka adalah sindikat. Ada yang beroperasi di wilayah sasaran dengan tugas mendapatkan nama-nama pejabat serta nomor teleponnya. Mereka jugalah yang mencari nama-nama inisial wartawan.
Masyarakat yang merasa dirugikan sebenarnya bisa melapor ke polisi. Korp berbaju coklat memiliki alat canggih untuk men-tracking nomor telepon yang dipergunakan. Polres Jepara pernah menemukan posisi nomor telepon tersebut di Mojokerto. Namun, tidak ditindaklanjuti. Alasannya sudah berada di wilayah lain.
Bagi penegak hukum, menemukan identitas pemilik nomor telepon tentu tidak sulit. Apalagi nomor  tersebut masih aktif setelah batas akhir registrasi. Itu berarti nomor tersebut juga didaftarkan ulang. Pasti ada pemilik, lengkap dengan alamat disertai nomor KTP dan kartu keluarga.
Dilacak melalui nomor rekeningnya juga bisa. Banknya jelas BCA. Namanya Ary Siswanto. Kemarin saya mencoba mengirim uang Rp 10.000 ke rekening tersebut. Bisa.
Radar Kudus dan Radar Semarang tidak terlalu menanggapi masalah tersebut karena merasa tidak dirugikan. Pertama, nama yang dipergunakan tidak sama persis dengan nama wartawan. Kedua, nama perusahaan yang dipergunakan juga berbeda.
Ketiga, kami yakin wartawan kami tidak melakukan hal tersebut. Mereka telah dibekali Kode Etik Wartawan Indonesia. Pasal 6 jelas menyebutkan, wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap. Dalam penjelasannya, menyalahgunakan profesi adalah segala bentuk tindakan untuk meraih keuntungan pribadi.
Jawa Pos Group meratifikasi kode etik yang disepakati oleh 26 organisasi profesi tersebut. Itu berarti Jawa Pos juga mengharamkan penyalahgunaan profesi. Bahkan telah merumuskan sendiri etika-etika yang kemudian diwadahi dalam buku saku Kode Tata Laku. Isinya adalah perilaku yang seharusnya dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh karyawan.
Masyarakat tidak perlu ragu untuk menolak segala bentuk penyalahgunaan profesi termasuk permintaan materi.  Apalagi disertai penekanan, pengancaman, dan teror. Bahkan kalau dilakukan oleh wartawan kami yang sesungguhnya sekalipun. (hq@jawapos.co.id)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here