Oleh: Suryanita SPd MM
Oleh: Suryanita SPd MM

RADARSEMARANG.COM, MATEMATIKA merupakan salah satu meteri pembelajaran yang sering kali membuat siswa tidak tertarik, tidak menyenangkan, membosankan bahkan memusuhi.  Terdapat beberapa penyebab dari permasalahan ini. Kurang memahami dan menguasai materi pelajaran menjadi penyebab utama kesulitan yang dihadapi siswa.  Dengan kata lain, siswa menemui kesulitan karna kosep dasar yang mereka miliki kurang. Hal lain yang menyebabkan siswa kurang tertarik belajar matematika selama ini dari belajar ceramah dan mendengarkan  adalah pilihan teknik atau metode pembelajaran guru yang monoton dan konvensional. Guru menjelaskan pembelajaran , sedang siswa memperhatikan.Alangkah lebih baik jika siswa dapat berpartisipasi secara aktif dalam proses belajar, dan guru bertindak sebagai pendamping

Think pair share (TPS) kali pertama dikembangkan oleh Frang Lyman dan koleganya di universitas Maryland sesuai yang dikutip Arends ( 1997).  Think pair share dapat memberi siswa lebih banyak waktu berpikir, untuk merespon dan saling membantu. Siswa belajar mencari informasi, berlatih dan bekerja dalam suatu kelompok. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Di mana salah satu ciri Think pair share adalah tiga langkah utamanya yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Yakni, think (berpikir secara individu), pair (berpasangan dengan teman di kelompok), dan share (berbagi jawaban dengan pasangan lain atau seluruh kelas), memberikan kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lainnya.

Langkah-langkah model pembelajaran Think pair share terdiri atas lima langkah dengan tiga ciri utama. Pendahuluan kegiatan pembelajaran adalah guru menjelaskan aturan main dan batasan waktu untuk tiap kegiatan. Memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah. Guru menjelaskan kompetensi  yang harus dicapai oleh siswa. Think guru menggali pengetahuan siswa melalui kegiatan demonstrasi. Guru memberikan lembar kerja siswa kepada seluruh siswa, dan siswa mengerjakan LKS tersebut secara individu.

Pair, siswa dikelompokkan dengan kelompoknya dan berdiskusi dengan pasangannya mengenai jawaban tugas yang telah dikerjakan. Share, satu pasang siswa dipanggil secara acak untuk berbagi pendapat kepada seluruh siswa di kelas dengan dipandu oleh guru. Penghargaan siswa dinilai secara individu dan kelompok.

Setelah semua siswa mendapatkan bagian, guru menginstruksikan kepada para siswa untuk menjawab pertanyaan atau masalah  bagian mereka secara individu. Siswa dapat diminta untuk menuliskan hasil penyelesaian mereka di  kertas yang sudah disiapkan. Pada kegiatan ini, guru juga perlu menentukan waktu pengerjaan. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat melaksanakan instruksi guru dengan efektif, dan siswa benar-benar memahami masalah yang diberikan secara menyeluruh. Dengan kata lain, mereka tidak akan membuang waktu dengan melakukan hal-hal yang tidak berarti.

Selanjutnya  guru meminta siswa untuk pair (berpasangan). Pada kegiatan ini, guru dapat memilih beberapa jenis kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa secara individual, seperti mengerjakan latihan atau soal, atau menuliskan rangkuman bacaan, dan lain sebagainya. Apabila guru menginginkan memberikan latihan terkait dengan latihan soal, maka guru membagikan lembar kerja siswa kepada setiap siswa. Dan siswa diminta mengerjakannya dengan pasangannya, tanpa bantuan anggota kelompok yang lain. Apabila guru ingin mengetahui kemampuan siswa untuk meyelesaikan soal  tersebut, guru dapat menyiapkan satu lembar kerja siswa yang kosong. Selanjutnya siswa diminta menyelesaikan  kembali permasalahan tersebut di depan kelas secera individu.

Kegiatan yang terakhir adalah share (berbagi) setelah waktu yang ditentukan telah habis, dan seluruh siswa telah menyelesaikan tugas pertama mereka, guru menginstruksikan kegiatan selanjutnya yaitu share. Pada kegiatan ini, setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk membagikan informasi yang mereka dapatkan pada kegiatan sebelumnya. Siswa diminta untuk menyelesaikan masalah mereka di depan kelas  sesuai dengan urutan. Saat siswa secara individu menyelesaikan masalah yang mereka seleaikan di depan kelas, anggota yang lain diminta untuk mendengarkan dengan seksama, begitu seterusnya. Apabila dinilai perlu, maka kegiatan ini dapat dilakukan dua putaran.

Dalam pelaksanaan teknik ini, pembagian waktu sangatlah penting. Guru harus menerka-nerka waktu yang diperlukan pada setiap tahap kegiatan dikarenakan teknik ini merupakan satu rangkaian kegiatan. Dengan menggunakan teknik ini, setiap kegiatan yang dilaksanakan siswa adalah berarti. Guru harus mampu menggunakan berbagai macam teknik pembelajaran yang dapat menarik siswa untuk berperan aktif. Proses belajar tidak lagi pembelajaran satu arah, dari guru ke murid, tetapi pembelajaran segala arah, siswa dapat belajar dari guru, dari teman, dari lingkungan, dari siapapun dan dari apapun. Oleh karena itu, guru harus sensitif dan responsif terhadap perubahan di lingkungan siswa.   (tj3/aro)

Guru SMP Negeri 40  Semarang