32 C
Semarang
Jumat, 18 Juni 2021

Akhirnya Gulung Tikar, Beralih Bisnis Online

Persewaan Buku, Hidup Segan Mati Tak Mau

Perkembangan teknologi telah memberikan kemudahan bagi banyak orang untuk membaca buku dalam bentuk elektronik melalui gadgetnya. Tak dipungkiri, hal itu membuat buku konvensional ditinggalkan.
RADARSEMARANG.COM – BUDAYA membaca buku bacaan komik di akhir pekan sepertinya hampir tamat. Para penyedia jasa persewaan buku hanya pasrah menunggu ajal tiba. Sebagian telah gulung tikar akibat tenggelam digilas kereta peradaban. Generasi milenial memilih main games ketimbang membaca buku. Barangkali ini pertanda bahwa budaya literasi nyaris mati.
Budi Santoso, tak tahu lagi harus memasang strategi seperti apa agar usaha persewaan buku “Indra” di kompleks Stadion Diponegoro Semarang, selamat di tengah gelombang zaman. Akhirnya, usaha miliknya terkapar. Sejak tiga bulan lalu, kios mungil tempatnya mengais rezeki itu selalu terkunci rapat alias tutup.
“Sudah tidak bisa menghasilkan (keuntungan). Tidak ada yang minat menyewa buku lagi. Generasi membaca mulai hilang, anak-anak sekarang lebih suka main game,” ungkap Budi berbincang dengan Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (24/3).
Hal itu membuat ia memutuskan tidak lagi membuka kiosnya. Padahal, persewaan buku “Indra” tersebut telah berdiri sejak 1970-an. Usaha turun temurun peninggalan ayahnya, Slamet. “Ayah saya meninggal 2012 silam, usaha sewa buku ini saya teruskan. Tapi sejak tiga bulan lalu tutup,” katanya.
Tak hanya itu, kios persewaan buku lain miliknya di daerah Lempongsari juga turut ditutup. Ia mengaku tak sanggup lagi setelah sekian lama bertahan. Saat ini, koleksi buku sewaan kurang lebih 3.000 buku miliknya hanya bisa menjadi saksi sejarah.
Untuk bisa bertahan, Budi beralih jual beli buku yang ia pasarkan secara online. Namun penghasilannya juga tak bisa dipastikan karena banyak persaingan. “Dari dulu, selain jasa sewa buku, sebetulnya jual beli buku juga,” katanya.
Penjual buku yang lain, Ignatius Didik Martanto mengatakan, fenomena peminjaman buku masih jaya atau booming, 1999 hingga 2000-an. Buku jenis novel, komik berseri, cerita anak, cerita fiksi, majalah, maupun buku sejarah paling diminati. Bahkan silih berganti sejak pagi hingga pukul 22.00. “Pada waktu itu, jasa peminjaman buku sehari bisa mendapatkan uang Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu,” katanya.
Lambat laun, seiring peradaban zaman, terutama sejak internet berkembang pesat, penikmat sewa buku terus menurun. “Bahkan sangat drastis sekali. Banyak penyedia jasa pinjam buku gulung tikar,” katanya.
Satu-satunya penyedia jasa peminjaman buku di kawasan Stadion Diponegoro Semarang yang bisa bertahan adalah Slamet. “Kini beliau telah meninggal, kemudian usahanya itu diteruskan oleh anaknya, Budi,” katanya.
Ia mengaku sedih karena budaya membaca buku mulai ditinggalkan anak-anak. Padahal itu menjadi tradisi literasi yang merangsang minat baca. “Tapi sekarang menghilang. Dulu, kalangan yang meminjam tidak memandang usia, mulai anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Bahkan orang-orang tua dulu masih ada yang rutin menyewa buku komik cerita kuno dari Tiongkok,” katanya.
Menurutnya, saat ini masih ada orang yang menyewa buku, tapi sangat jarang sekali. Sebab, banyak komik tersedia di internet dan bisa dibaca menggunakan handphone. Banyak penyedia jasa peminjaman buku beralih menjadi penjual buku. Baik buku baru maupun bekas.
“Para penyedia jasa peminjaman buku tersebut rata-rata tidak memiliki pekerjaan lain. Mereka tidak bisa bertahan kalau tidak diimbangi dengan jual beli buku. Apalagi kalau tidak ada komik-komik baru,” kata pria yang juga sebagai koordinator pedagang buku dan jasa Stadion Diponegoro itu.
Saat ini, ada kurang lebih 55 pedagang buku di kawasan tersebut. Dari jumlah tersebut hanya ada satu jasa peminjaman buku yakni milik Slamet yang saat ini diteruskan oleh anaknya, Budi. Namun demikian kios milik Slamet tersebut belakangan ini jarang buka.
Dia juga mengakui, secara umum, kondisi penjualan buku di Pasar Buku Stadion Diponegoro tersebut tidak stabil. “Grafiknya tidak bisa dijadikan acuan ramai atau sepi. Biasanya dalam satu tahun ada dua periode ramai, yakni semester ganjil dan semester genap. Semester ganjil itu ramai karena berbarengan dengan tahun ajaran baru SD, SMP, SMA. Tapi rentang waktu ramainya masing-masing hanya kurang lebih dua bulan, selebihnya sepi. Jadi, murni padagang buku dalam satu tahun memiliki masa survive kurang lebih 3-4 bulan. Sisanya hanya bertahan,” katanya.
Meski sebagian telah merambah jual beli buku sistem online, tapi rata-rata penjual masih menggunakan sistem konvensional atau bersifat menunggu pembeli datang. “Kalau pedagang tidak merambah sistem jual beli online, pasti kesulitan bersaing,” katanya.
Hal itu masih diperparah munculnya fenomena buku digital atau e-book. Selain memangkas biaya produksi, buku digital bisa disimpan di handphone dan bisa dibuka kapan saja. Bahkan seseorang sangat memungkinkan membuat perpustakaan digital yang bisa menyimpan ribuan buku. Semuanya bisa diakses menggunakan handphone dengan mudah dan cepat.
Tetapi ia mengaku yakin, pasar buku kertas tetap saja memiliki segmen tetap. Menurutnya, mereka akan tetap memilih format buku kertas, bukan digital. “Keduanya tetap memiliki kelebihan dan kekurangannya. Misalnya, membaca buku format digital dalam waktu lama biasanya yang kena matanya. Karena terkena sinar layar ponsel,” jelasnya.
Hal yang sangat mengganggu dunia penjualan buku justru penggandaan buku dengan cara photocopy. “Entah itu buku digital maupun buku kertas, banyak digandakan menggunakan photocopy. Mau enggak mau, kami harus berperang melawan kenyataan,” katanya. (amu/ida)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here