Kartu Tani Semrawut, Pupuk Sulit

  • Bagikan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–DPRD menyorot persoalan tata kelola pupuk bersubsidi dan kartu tani yang semrawut di Jateng. Kondisi ini membuat alokasi pupuk berkurang dan petani semakin menderita. Sebab, produktivitas hasil panen yang didapatkan semakin menurun.
Anggota Komisi B DPRD Jateng, Achsin Ma’ruf mengatakan bahwa sebelumnya petani mendapat jatah pupuk sesuai usulan yang masuk dalam rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK). Yakni paket teknis untuk tanaman padi per hektare dialokasikan 550 kg pupuk majemuk. “Ternyata dalam sistem di kartu tani, hanya muncul alokasi 275 kg,” katanya.
Ia menambahkan, sementara untuk tanaman jagung usulan RDKK sesuai paket teknis 750 kg pupuk majemuk. Tetapi dialokasi di kartu tani hanya 413 kg. Kondisi ini membuat masyarakat Jateng yang mayoritas petani menjadi was-was. “Kesimpulannya, dengan kartu tani produktivitas hasil panen terancam menurun. Ini sangat ironi,” ujarnya.
Dewan juga mendapatkan keluhan dari sejumlah petani di Jateng. Banyak yang merasa kesulitan untuk bisa menembus pupuk bersubsidi dengan kartu tani. Tidak hanya itu, banyak juga petani yang belum menerima kartu tani. Padahal, program tersebut sudah bertahun-tahun dicanangkan Gubernur Jateng. “Dari pengamatan dan kondisi di lapangan, kartu tani menyulitkan petani dan sangat tidak efektif. Awas kartu kuning dari petani untuk pupuk subsidi,” tegasnya.
Para petani juga mengeluh jarak Bank Mitra kartu tani yang sangat jauh dengan pengecer pupuk di suatu desa. Bahkan, untuk menembus pupuk 50 kg senilai Rp 110 ribu, petani harus mengisi uang di bank mitra yang jaraknya 7 km. “Jelas ini membutuhkan tambahan dana dan waktu,” tambahnya.
Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng, Yudi Sancoyo meminta agar Pemprov Jateng melakukan inovasi di sektor pertanian. Bagaimanapun juga, Jateng selama ini sebagai penyangga ketahanan pangan nasional. Hal itu harus terus dipertahankan, di tengah kondisi lahan pertanian yang semakin berkurang. “Harus ada upaya kongkret agar pertanian masih tetap menjadi unggulan di Jateng,” katanya.
Sebenarnya Pemprov Jateng sudah melakukan gebrakan dengan adanya kartu tani. Tetapi sampai sekarang masih belum bisa maksimal, karena belum bisa berjalan di seluruh wilayah. Padahal, kartu tani bisa membantu untuk pupuk bersubsidi. “Harusnya Pemprov bisa lebih kreatif. Program yang dicanangkan harus dijalankan dengan maksimal,” tambahnya. (fth/ida)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *