33 C
Semarang
Sabtu, 8 Agustus 2020

Banyak Penderita TBC Belum Terdeteksi

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COM, DEMAK – Angka penemuan penyakit tuberculosis (TBC) di Kabupaten Demak pada 2017 sebesar 57 persen (107/100 ribu penduduk). Itu dinilai masih dibawah standar. Sebab, target penemuan seharusnya mencapai 70 persen.
Sedangkan, total kasus yang ternotifikasi (CNR) sebesar 90 persen dari 93 persen yang seharusnya dicapai. Ini artinya, di Demak masih banyak penderita TBC yang belum ditemukan dengan penularan yang akan terus terjadi.
Demikian mengemuka dalam talkshow dalam rangka peringatan Hari TBC sedunia di Aula RSUD Sunan Kalijaga, kemarin. Hadir dalam acara ini, Sekda dr Singgih Setyono MMR, Kepala Dinas Kesehatan Guvrin Heru Putranto, Direktur RSUD Sunan Kalijaga dr Debby Armawati, dr Mulyono Adji, Sp Paru (Spesialis Paru RSUD Sunan Kalijaga), Anis Prabowo, SKM, M Gizi (RS PKU Muhamdiyah Surakarta) dan tim Basudewa penanggulangan P2TBC Kota Surakarta.
Kepala Dinas Kesehatan, Guvrin Heru Putranto mengatakan, penemuan penderita TB kebal obat sebanyak 67 penderita sejak tahun 2011. Dari jumlah itu, 18 meninggal, DO 8, sembuh 14, dan masih dalam proses pengobatan 27 orang. “Adanya TB kebal obat ini antara lain disebabkan karena pengobatan TB yang belum sesuai dengan standar,” katanya.
Karena itu, kata dia, diperlukan peran serta semua masyarakat untuk penemuan TBC tersebut. “Karena 1 orang penderita diperkirakan ada 10 orang yang terkena,” katanya.
Dr Mulyono Aji,  mengatakan, lamanya pengobatan (minimal 6 bulan) dan adanya efek samping obat membuat penderita banyak yang tidak patuh dan berakibat putus berobat dengan berbagai sebab. Diantaranya, penderita merasa sudah sembuh padahal pengobatan belum tuntas. Selain itu, terjadi efek samping obat (mual-muntah, badan terasa sakit dan alergi obat).
Kemudian, tidak ada yang mengantar untuk mengambil obat dan pindah tempat tinggal. ”Nah, risiko dari putus berobat adalah kuman bisa menjadi kebal yang berakibat pengobatan harus diulang dengan dosis yang lebih kuat,” katanya.
Sekda dr Singgih Setyono mengatakan, ada beberapa  faktor untuk mengatasi TBC. Yaitu, lingkungan harus bagus, harus ada jendela atau ventilasi udara, pencahayaan yang bagus dalam rumah dan jangan meludah sembarangan dan bila batuk harus ditutup. ”Jadi, TBC ini harus diatasi bersama sama. Sebab, ini tanggung jawab kita semua. Tidak hanya puskesmas maupun rumah sakit saja,” katanya. (hib/bas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Warga Plamongan Sari Serbu Sembako Murah

SEMARANG - Warga RT 2-3 RW 7 Dukuh Kedung Blancir, Kelurahan Plamongan Sari Semarang antusias mengantre untuk mendapatkan 500 bungkus sembako murah seharga Rp...

Permainan Harus Lebih Agresif

SEMARANG - Tim sepak Porprov Kota Semarang terus mematangkan bentuk permainan. Pola bola-bola pendek dan serangan cepat selama ini menjadi ciri, diperkuat dengan organisasi...

Warga Dumeling Tolak Pendirian Mini Market

BREBES-Warga Desa Dumeling Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes menolak keras rencana pendirian mini market waralaba modern di wilayahnya. Pasalnya, mereka khawatir akan berdampak terhadap perekonomian...

Parenting dalam Satuan Pendidikan

RADARSEMARANG.COM - KELUARGA sebagai lingkungan pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan pendidikan. Tugas utama dari keluarga bagi pendidikan  anak adalah peletak dasar...

Dikontrak Setahun, Tak Ada SK Pengangkatan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Ratusan orang berbondong-bondong mendatangi kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang, Rabu (3/1) sejak pukul 09.00. Kedatangan mereka untuk mengambil surat penghadapan guna...

Night Club Mengubah Tujuan

Oleh: Dahlan Iskan Setelah mendarat di Beirut lah saya baru bikin rencana: ke mana dulu.Ke pusatnya Hisbullah? Yang dikategorikan organisasi teroris oleh Amerika Serikat itu?Ke...