49 Orang Berlomba Jadi Pustakawan Terbaik

  • Bagikan
PRESENTASI : Seorang peserta sedang memaparkan inovasi pelayanan perpustakaan di unit kerjanya, kemarin. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
PRESENTASI : Seorang peserta sedang memaparkan inovasi pelayanan perpustakaan di unit kerjanya, kemarin. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Sebanyak 49 pustakawan se-Kota Magelang mengikuti pemilihan pustakawan berprestasi tingkat Kota Magelang tahun 2018 yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kota Magelang. Namun dari itu, hanya 12 yang berhasil maju ke babak final. Kemudian diambil 6 besar untuk juara utama dan harapan.

Sekretaris Disperpusip Kota Magelang, Triyamto menyebutkan juara pertama dalam lomba ini akan mewakili ke tingkat Provinsi Jawa Tengah. Sosok pustakawan yang dicarinya harus mempunyai misi mengembangkan perpustakaan secara umum, maupun di unit kerja masing-masing. Di samping itu, memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh provinsi.

“Untuk mengetahui kemampuan pustakawan, peserta diminta untuk memaparkan inovasi atau program yang mendukung perpustakaannya, kemudian mengikuti tes wawancara,” katanya, kemarin.

Kasi Pengembangan Pembinaan Pembudayaan Perpustakaan, Disperpusip Kota Magelang,Yuli Wijayanti menambahkan, komponen penilaian meliputi pengetahuan kepustakawanan (kognitif) dengan bobot nilai 30 persen. Lalu 20 persen untuk kemampuan membuat karya tulis ilmiah bidang kepustakawanan. Kemudian, 20 persen dalam kemampuan berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia dan Inggris atau berbagai ilmu pengetahuan melalui presentasi materi kepustakawanan, serta motivasi, kepribadian dan etika profesi yang mendapat bobot nilai 30 persen.

“Dari aspek yang dinilai, kami harap lomba ini bisa mewujudkan citra pengelola perpustakaan atau pustakawan sebagai profesi yang dapat dibanggakan di lingkup regional, provinsi, nasional bahkan internasional,” tambahnya.

Menurut dia, kunci majunya sebuah perpustakan ada pada pengelolanya. Semakin aktif pustakawan itu, maka perpustakaan akan hidup. Selebihnya, harus punya inovasi untuk menarik masyarakat berkunjung ke perpustakaan.

“Pustakawan harus rajin berkoordinasi dengan perpustakaan daerah, kalau ada permasalahan kekurangan buku, kami siap droping buku apabila dibutuhkan,”  tuturnya.

Seorang perserta, Yunda, pustakawan Universitas Muhammadiyah Magelang memaparkan program unggulan biblioterapi. Ia berujar, biblioterapi dimaknai sebagai upaya penyembuhan melalui buku. Dirinya membuat layanan rekomendasi buku yang terbagi dalam empat kategori. Yakni, buku biblioterapi untuk pengasuhan, inspirasi, motivasi dan penanaman nilai.

“Saat ini masih dalam tahap konsep, tapi akan jadi program prioritas di perpustakaan kami,” paparnya saat presentasi. (put/lis)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *