Ganjar Siapkan Program Kesehatan

129

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Calon Gubernur Jateng nomor urut 1, Ganjar Pranowo mengaku telah menyiapkan beberapa hal jika dipercaya masyarakat memimpin di periode kedua. Salah satunya adalah program kesehatan dengan merujuk pada data indeks kesehatan 2013-2018. Sejumlah program kesehatan periode pertama akan ditingkatkan. Diantaranya penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).

“Pada awal saya menjabat 2013, angka kematian ibu dan bayi tinggi sekali. Itulah mengapa saya membuat program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng,” katanya, di Semarang, Selasa (20/3).

Program tersebut terbilang berhasil dengan berbagai indikator menggembirakan. Ketika dunia hanya menargetkan penurunan 3 persen, Jateng mampu menurunkan 14 persen per tahun. AKI pada 2017 adalah 88,58 per 100 ribu kelahiran hidup. Pada 2013 AKI masih 118,62 per 100 ribu kelahiran hidup dan 2014 naik sedikit. “Setelah 2014 turun terus dan turunnya cukup banyak, lebih dari 14 persen per tahun,” kata Ganjar.

Penurunan AKI di Jateng yang menyentuh angka 88,58 per 100 ribu kelahiran hidup itu bahkan melampaui target SDG’s yang menetapkan pada angka 90 per 100 ribu kelahiran hidup. “Program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng yang diluncurkan 2016 lalu adalah semangat kejuangan. Greget yang dimulai dari hulu sampai hilir, lintas sektoral, lintas program, mulai dari primer sampai tersier,” ungkapnya.

Selain capaian penurunan AKI yang menggembirakan, AKB maupun angka kematian balita (Akaba) juga mengalami hal yang sama. Lima tahun yang lalu, AKB Jateng tercatat 10,41 per 1.000 kelahiran hidup. Pada 2017 sudah turun menjadi 8,93 per 1.000 kelahiran hidup. “Begitu juga AKB turun cukup signifikan dari sebelumnya 11,8 jadi 10,47 per 1.000 kelahiran hidup, ” kata politisi PDI Perjuangan itu.

Untuk indikator pembangunan kesehatan yang lain, sambungnya, juga menunjukkan hasil yang baik. Tidak ada lagi rapor merah seperti tahun lalu. Seperti umur harapan hidup yang meningkat, dari 72,6 tahun pada 2013 menjadi 74,2 tahun pada 2017, dan penurunan perilaku buang air besar sembarangan dimana pada 2013 masih 45,8 persen, dan 2017 menjadi 14,7 persen.

Keberhasilan tersebut, lanjut Ganjar, berkat gotong royong banyak pihak. Antara lain Dinas Kesehatan, kader kesehatan, mitra kesehatan, masyarakat kesehatan, dan LSM. Namun, dia mengingatkan, tetap masih ada indikator yang harus dikejar. Seperti, HIV/AIDS, TBC, dan kusta.

“Itu tidak cukup. Maka beberapa yang masih kita harus cari, harus kita kejar lagi, seperti stunting. Kemudian ODF kita kejar. Ya buang air di jamban lah. Masak zaman gini buang air di kali. Kemudian kita masih kejar yang berpenyakit HIV/AIDS, TBC, kusta, ini yang kita kejar,” katanya. (amh/ric)