32 C
Semarang
Jumat, 25 Juni 2021

Menyikapi Disrupsi : Change or Die

RADARSEMARANG.COM – Perkembangan teknologi informasi tidak bisa dielakkan telah menimbulkan disrupsi ekonomi. Era disrupsi akhir-akhir ini sering diperbincangkan dan menjadi momok tersendiri bagi sebagian orang. Era disrupsi dianggap sebagai era “kehancuran” sehingga banyak orang takut terkena imbasnya. Era disrupsi yang ditandai dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat sudah mulai menggerus sebagian aktivitas bisnis perusahaan di berbagai sektor
Contoh hadirnya transportasi online seperti Grab, Gojek, Uber, dan sejenisnya dengan inovasi teknologi, telah mengancam moda-moda transportasi yang sudah lama ada. Banyak masyarakat yang beralih untuk menggunakan transportasi online karena tarif yang lebih terjangkau, pelayanan yang profesional, serta tawaran diskon dan harga promosi. Selain itu aplikasi transportasi online memungkinkan pengguna untuk memesan tanpa harus ke pangkalan, mereka bisa mendapatkan armada dimanapun dan kapanpun. Perubahan pasar yang menginginkan pelayanan yang lebih memudahkan, cepat, dan professional menyebabkan profesi penyedia jasa transportasi konvensional lainnya gigit jari
Di sektor ritel, terdapat pergeseran budaya belanja online. Dimulai dengan banyaknya penyedia layanan transaksi jual beli online diantaranya Tokopedia, Bukalapak, Lazada, Blibli, yang menjadi marketplace bagi pembeli dan penjual online demi menjamin keamanan transaksi yang sebelumnya rentan dengan penipuan. Perilaku belanja masyarakat yang mulai percaya dengan transaksi online menyebabkan banyak pula online shop lainnya yang berlomba-lomba menjual beraneka macam makanan, pakaian, buku hingga aksesoris lainnya secara online. Masyarakat mulai beralih ke sistem belanja online karena aspek kemudahan, keamanan, dan efisiensi waktu.
Berbagai temuan yang ada mengancam efisiensi luar biasa dalam segala hal, termasuk dalam ketenagakerjaan sehingga banyak pekerja dihemat dan digantikan dengan perangkat teknologi hingga hadirnya artificial inteligence products. Semakin banyak perusahaan yang merekrut pegawai dengan status outsourcing. Pekerjaan yang di outsource juga bukan hanya sebatas pada pekerjaan supporting (seperti security, cleaning service, atau office boy) tetapi saat ini sudah semakin banyak pekerjaan back-office yang di-outsource (seperti teller bank, customer service, marketing, sampai debt collector).
Mengapa skema outsource menjadi menarik bagi perusahaan? Selain dari segi biaya, perusahaan juga tidak mau ribet dengan pernak-perniknya mengelola karyawan. Sistem akuntansi yang dikembangkan berbasis teknologi mengurangi peran serta manusia dalam proses pelaksanaannya. Peran manusia dalam proses akuntansi semakin tergerus oleh berbagai software akuntansi yang membantu perusahaan dalam memproses informasi akuntansi supaya lebih cepat, tepat, dan akurat.
Berbagai perkembangan yang terjadi menyebabkan banyak gesekan di masyarakat. Suara penolakan terhadap ojek online mulai mengalir dari para pengemudi ojek konvesional. Pengemudi ojek konvesional merasa sumber memperoleh uang mereka diambil oleh pengemudi ojek online. Berbagai toko ritel di dunia maupun di Indonesia satu persatu mulai gulung tikar diantaranya: Toys ‘R’ Us, The Limited, Lotus, Dorothy Perkins, Banana Republic, Clarks, H&M, dan diprediksi masih banyak lagi outlet ritel yang akan ditutup karena mulai tergerus perilaku berbelanja online. Buruh konvensional yang mulai terusik dengan skema outsourcing pun menggeram, mereka berunjuk rasa menuntut penghapusan skema outsource.
Selain pergeseran “profesi konvensional” menjadi “profesi online”, banyaknya pekerjaan manusia yang bisa diambil alih secara digital menyebabkan banyak pekerjaan yang diprediksi akan hilang. Akuntan merupakan salah satu profesi yang terancam karena tergerus komputerisasi akuntansi. Akuntansi sebagai bahasa bisnis membutuhkan informasi yang cepat, tepat, akurat. Dalam hal ini perangkat lunak akuntansi sangat mengakomodasi kebutuhan perusahaan dalam penyediaan informasi akuntansi.
Teori evolusi yang dicetuskan oleh Lamarck dan Darwin mengatakan bahwa perubahan yang dialami makhluk hidup secara berangsur-angsur dalam waktu yang lama sehingga terbentuk spesies baru. Jean Baptiste de Lamarck mengemukakan teori evolusi pada 1809, Lamarck mengungkapkan bahwa makhluk hidup berevolusi sebagai respon terhadap perubahan lingkungannya. Tokoh lainnya yaitu Charles Darwin, mencetuskan teori evolusi yang didasarkan pada teori Seleksi Alam yang pertama kali dikemukakan dalam bukunya “On the Origin of Species” atau “Asal Usul Spesies” yang diterbitkan tahun 1859. Teori seleksi alam memiliki konsep bahwa spesies yang berhasil beradaptasi dengan baik akan terus bertahan hidup, sedangkan yang tidak dapat beradaptasi akan punah.
Menyikapi era disrupsi sebagai bagian dari evolusi kehidupan manusia menuntut sikap berani untuk berubah/beradaptasi. Disrupsi ekonomi memaksa individu untuk  memilih: change or die. Individu yang mau beradaptasi dengan perkembangan jaman akan bertahan, sebaliknya mungkin akan berujung kepada “kematian” bagi individu yang tidak mau berubah. Rhenald Kasali pernah menyebut, bagi masyarakat yang merayakan perubahan, disrupsi adalah masa depan. Namun, bagi mereka yang sudah nyaman dengan keadaan sekarang dan takut dengan perubahan, mereka akan berpikir bahwa ini adalah awal kepunahan.
Meski di satu sisi disrupsi ekonomi merugikan kalangan pekerja, di sisi lainnya juga memunculkan begitu banyak peluang pekerjaan baru. Banyak start-up company yang mulai bermunculan. Bisnis online dapat dilakukan dengan mudah, hanya dengan modal koneksi internet dan gadget seperti laptop, tablet, atau smartphone seseorang sudah dapat membuka bisnis online. Content creator masa kini juga dengan mudah dapat menyalurkan idenya melalui platform internet seperti Facebook, Youtube, Webtoon, dan berbagai media sosial lainnya.
Hal inilah yang harus menjadi perhatian masyarakat, perlu adanya upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pergeseran penggunaan tenaga manusia menjadi software akuntansi mencerminkan bahwa skill yang dibutuhkan bergeser, bukan lagi pada level klerikal tetapi pada level analisa dan pengambilan keputusan. Software akuntansi diciptakan untuk membantu menyediakan informasi akuntansi, peran manusia adalah dalam pengambilan keputusan. Disamping itu, akuntan harus semakin melek teknologi informasi (TI). Akuntansi dan teknologi ibarat mata uang yang tidak dapat dilepaskan. Akuntansi butuh TI untuk terus meng update data dan informasi. Sementara itu TI butuh akuntan untuk membahasakan proses akuntansi dalam dunia sistem. Profesi akuntan mengalami perkembangan pesat seiring tingginya tuntutan masyarakat dunia usaha dan perkembangan global.
Mengantisipasi ancaman disrupsi, perlu inovasi dan terobosan teknologi yang mengimbangi perkembangan digitalisasi saat ini. Konsekuensinya, semua orang akan mendapatkan kesempatan yang sama dan bisa bekerja tanpa mengenal batasan ruang dan waktu. Era disrupsi membutuhkan individu yang selalu berimprovisasi, berinovasi, dan mengikuti perkembangan yang ada. Sehingga semua unit bisnis, semua bidang harus dinamis agar tidak tergilas dan bangkrut yang berakibat pada lenyapnya lapangan kerja mereka. Kiranya disrupsi ekonomi mampu menjadi momentum meraih kesempatan baru. (*)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here