Aplikasi “Tuyul” Sudah Ada sejak 2016

  • Bagikan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng terus mengembangkan pengungkapan kasus penggunaan aplikasi ilegal transportasi online yang biasa disebut aplikasi tuyul. Diduga masih banyak oknum yang berprofesi sebagai driver transportasi online yang menggunakan aplikasi ilegal ini demi memperoleh keuntungan banyak.
“Kemungkinan masih banyak, tapi kami belum tahu ada berapa jumlah hacker-nya, juga berapa jumlah ghost driver-nya,” ungkap Kasubdit II Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jateng, AKBP Teddy Fanani saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (20/3) kemarin.
Dari kasus yang diungkapnya, Teddy mengakui belum ada tambahan tersangka. Meski demikian, pihaknya akan terus melakukan pendalaman guna mengungkap adanya tersangka lain. “Belum ada tersangka lagi, sekarang masih kami kembangkan, semua lagi pendalaman. Nanti kalau ada perkembangan ataupun pengungkapan lagi kami infokan,” katanya.
Menanggapi terkait kolaborasi dengan pihak Grab dalam melakukan pengungkapan kasus yang sama, Teddy menjelaskan hal tersebut bisa saja dilakukan. Namun demikian, pihaknya juga bisa melangkah sendiri dalam pemberantasan kejahatan ini. “Kita bisa seperti itu lagi, bisa juga kita sudah punya data untuk kita kembangkan sendiri. Itu kan teknisnya saja, yang penting bisa terungkap lagi,” imbuhnya.
Pakar Teknologi Informatika Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, Solichul Huda menjelaskan, pada awal  2016, pihaknya sudah mengetahui adanya usaha aplikasi yang nempel di aplikasi transportasi online tersebut. Menurutnya, di mana yang ditempeli aplikasi tersebut bisa mengarahkan semua permintaan ojek online.
“Kecurangan ini berjalan setahun lebih tanpa ketahuan. Dalam perkembangannya, mereka mulai mencurangi transportasi online tersebut dengan membuat order fiktif. Targetnya untuk memperoleh bonus. Kuncinya itu pada log transaksi dan pengaturan GPS,” bebernya.
Huda menyebutkan, dipastikan pelaku sudah mengetahui IT, dan mereka membuat aplikasi yang ditempel pada aplikasi online resmi. Pelaku melengkapi telepon seluler yang digunakan dengan alat sejenis mock location.
“Alat ini digunakan pengaturan GPS sesuai dengan keinginan pelaku. Mereka akan mendaftarkan beberapa akun pelanggan fiktif. Akun fiktif ini yang nantinya digunakan untuk manipulasi data transaksi di log transportasi online tersebut seolah telah melakukan trip atau pengantaran sesuai dengan skenario mereka,” jelasnya.
Huda menjelaskan, akun driver fiktif itu memiliki akun resmi, dan kemudian dia mengkloning akun tersebut untuk digunakan membuat orderan atau trip fiktif yang ditulis di log transaksi.
Mock location digunakan untuk mengatur pergerakan GPS. Dia akan memanipulasi order atau trip dengan jarak tertentu dan dilakukan dengan jeda waktu yang sedikit, sehingga mendapat bonus perhari dari operator transportasi online tersebut,” ujarnya.
Menurut Huda, pelaku hanya melanggar illegal access aplikasi online tersebut. Jauh-jauh hari sebetulnya pihaknya sudah menawarkan diri untuk membantu menangkap pelaku fraud transportasi ini. Sebab, pada awalnya aplikasi online ini tidak menyadari adanya ghost driver ini, dan dimungkinkan setelah ada laporan baru ditindaklanjuti.
“Supaya kejadian ini bisa diminimalisasi, semestinya Grab memverifikasi akun pengemudi termasuk kendaraan yang terdaftar dan ada proses verifikasi akun pelanggan. Ghost driver ini terjadi karena tidak ada verifikasi akun pelanggan. Ini yang dianggap celah oleh pelaku fraud transportasi ini,” pungkasnya.  (mha/aro)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *