32 C
Semarang
Selasa, 22 Juni 2021

Demi Wayang Tenda, Anak-anak Lupakan Gadget

RADARSEMARANG.COM – TIDAK memiliki latar belakang seni tradisi, bukan berarti batasan bagi seseorang untuk melakukan inovasi. Seperti yang dilakukan oleh Khothibul Umam, 33, yang menggagas wayang tenda. Wayang biasanya identik dengan Wayang Kulit, Klitik hingga Wayang Golek yang diiringi oleh sinden dan gamelan lengkap atau karawitan. Bagi anak zaman now, wayang dianggap kuno dan tidak menarik.
“Dulu saya dan Vikki Rahman, teman saya, merasa kalau di Kota Semarang, infrastrukturnya masih banyak yang kurang mendukung untuk pertunjukan wayang. Kami berpikir untuk menciptakan pertunjukkan yang murah, tapi tetap menghibur,” ungkap pria berkacamata itu, Sabtu (17/3).
Hingga akhirnya, Umam yang memiliki basic di bidang sastra dan Vikki yang pecinta alam, sepakat mengadaptasi pertunjukan wayang dengan peralatan sederhana. Perbedaan semakin terlihat yakni pada kelirnya.
Jika wayang tradisional menggunakan kelir untuk menangkap bayangan wayang, maka Wayang Tenda menggunakan tenda jenis doom serta penggunaan senter. Inilah yang menurut Umam menjadi daya tarik bagi anak-anak. “Awalnya kami nggak berpikir kalau segmentasinya bakal anak-anak, tapi semakin kesini justru malah cocok untuk mereka,” kata dia.
Selain kelir yang digunakan adalah tenda, ciri khas lain adalah bahan utama wayangnya yang mudah didapat dan murah yakni stopmap, mika, dan sebilah kayu. Bentuknya juga dapat dibentuk sesuai keinginan. “Ini ada robot, naga, monster, piringan terbang (UFO). Ini efektif untuk menarik perhatian audiens anak-anak,” imbuhnya sembari menunjukkan sejumlah tokoh wayangnya.
Menurut Umam, momen dikenalnya wayang tenda adalah saat dirinya diundang untuk menghibur anak-anak yang terdampak erupsi Gunung Merapi. Saat itu, ia berangkat untuk menghibur anak-anak di Klaten dan Boyolali.
Disana, Umam semakin menyadari bahwa wayang tenda ternyata cocok untuk anak-anak, setelah melihat antusiasme mereka saat menonton penampilan dari wayang tenda. Setelahnya, pertujukkan wayang tenda mulai dilakukan dari pesantren ke pesantren. “Nah itu juga salah satu faktor yang bikin cerita wayang tenda lebih cenderung ke fable. Tapi kami siap kalau audiens minta dibawakan cerita lainnya,” tuturnya.
Disinggung dengan perkembangan teknologi saat ini yang mempengaruhi anak-anak, Umam mengaku hal tersebut cukup mudah diatasi. Salah satunya adalah dengan pendekatan sebelum pentas. Tak jarang, dari pendekatan tersebut, digunakan Umam sebagai nama tokoh wayangnya. “Setiap kelompok biasanya ada kayak ketuanya, atau yang paling menonjol. Nah biasanya nanti nama mereka kami jadikan tokoh wayang. Itu juga menarik perhatian,” ujarnya.
Hampir 10 tahun eksistensi wayang tenda meninggalkan sejumlah cerita yang cukup membekas bagi Umam maupun Vikki. Seperti saat dirinya diundang mengisi sebuah acara di Kabupaten Semarang. Ketika itu, panitia mengumumkan bahwa akan ada pertunjukkan wayang dari Semarang. “Tiba saatnya kami tampil dengan durasi memang nggak lama, paling lama 1 jam lah. Setelah selesai, penontonnya marah, ada yang bilang wayang model opo,” kenangnya sambil tertawa.
Umam juga menceritakan salah satu momen yang membuatnya terharu. Kala itu, Wayang Tenda berkesempatan menghibur anak-anak yang tinggal di kawasan Pasar Johar pasca terbakar. Disana, Umam mengaku anak-anak sangat antusias dengan kehadiran wayang tenda. “Pentas pertama itu sukses, berminggu-minggu setelahnya kami mau tampil lagi, tiba-tiba ada ibu-ibu yang nyamperin kemudian ngucapin terimakasih sama kami,” ceritanya.
Diketahui, sang ibu senang lantaran usai menonton wayang tenda, anaknya yang masih berumur empat tahun jadi mencintai dan meminta untuk bisa menonton wayang. Tak hanya wayang tenda. Hal itupun dianggap Umam sebagai bonus.
Dua cerita tersebut, menjadi pelajaran yang dijadikan sebagai penyempurnaan dari tampilan wayang tenda sendiri. Menurutnya, penting bagi seorang penampil untuk mengetahui sosiokultur saat pentas. “Sebelum main, kami harus tahu audiensnya. Kalau anak-anak ya kami pasti melakukan pendekatan dulu. Seakrabnya anak dengan gadget, kalau ketemu hal yang beda dan unik pasti perhatiannya (ke gadget) bisa lepas,” terangnya.
Saat ini, anggota wayang tenda berjumlah 8 orang yang terdiri atas dua dalang dalam tenda, satu dalang narator, dan lima orang pemusik. Musiknya pun sudah modern dengan alat music gitar, bass, perkusi hingga keyboard. Selain pentas, tak jarang Umam juga memberikan workshop pembuatan wayang jika memang ada permintaan dari pihak pengundang. “Tapi kalau pesta tidak melulu harus berdelapan, kadang dua orang sudah cukup,” tandasnya. (tsa/ida)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here