Prihatin Komik Vulgar, Buat Serial Sarat Pesan Moral

  • Bagikan
BERDAKWAH LEWAT SENI : Doni Kudjo lengkap dengan kopiah khas Turki, gemar membuat komik dengan pesan moral. (Kanan) sebagian karya-karya komik Doni Kudjo yang Islami. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERDAKWAH LEWAT SENI : Doni Kudjo lengkap dengan kopiah khas Turki, gemar membuat komik dengan pesan moral. (Kanan) sebagian karya-karya komik Doni Kudjo yang Islami. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Geliat komik di Indonesia, Semarang punya seorang komikus yang berusaha berkarya sembari berdakwah. Istilahnya, sambil menyelam minum air. Sembari menyalurkan hobi, ia juga menyampaikan pesan moral lewat serial komik yang diproduksinya.
SIGIT ANDRIANTO
KEMAJUAN teknologi, utamanya media sosial, dirasa banyak membantu para komikus dalam mem-publish karyanya. Bermacam genre komik ini, dengan mudah dapat dinikmati secara gratis, asalkan tersambung jaringan internet.
Sayangnya, kemudahan ini juga dimanfaatkan beberapa kalangan untuk menampilkan komik vulgar melalui gambar maupun kata-kata. Padahal banyak pengguna media sosial berasal dari kalangan rentan, seperti anak-anak.
”Dari situ, beberapa komikus menyatukan visi. Dan saya membuat Kudjo Komik, dengan harapan konten-konten yang disampaikan bisa menjadi alternatif bacaan yang aman serta memberi pengetahuan,” jelas Doni Kudjo kepada Jawa Pos Radar Semarang.
”Juga sebagai pengingat pribadi saya sendiri untuk lebih mendalami agama yang saya anut, supaya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” timpalnya.
Salah satu komik yang ia ciptakan untuk misi ini adalah komik Kudjo. Sebuah komik dengan satu tokoh bernama Kudjo, pria dengan rambut yang menutupi mata dan memakai Fez, semacam kopyah merah khas Turki salah satu peninggalan Kesultanan Utsmani (Ottoman). Melalui tokoh ini, hendak menyampaikan sejumlah pesan moral kepada pembacanya.
”Di Kudjo, kopyah dan rambut menjadi ciri khasnya. Seperti yang saya pelajari, dalam pembuatan karakter, memang harus ada ciri khas khusus untuk membedakan dengan yang lain,” jelas pria yang mengidolakan Albert Uderzo ini. Yakni, komikus asal Prancis yang mempengaruhi gaya menggambarnya.
Melalui komik ber-genre slice of life, Doni menampilkan keseharian Kudjo yang memiliki keinginan berbuat baik dan menjadi lebih baik. Lengkap dengan kalimat-kalimat mengandung pesan moral.
Ia menceritakan, keinginan untuk menyampaikan kebaikan melalui komik ini didasari oleh keyakinannya bahwa komik bisa menjadi sarana menyampaikan informasi, gagasan, ide dan pengaruh kepada pembaca. Benar saja, belajar melalui hal menyenangkan dinilai lebih efektif karena jauh dari kesan menjemukan.
”Saya berharap ke depan semakin banyak komikus-komikus yang bisa berkarya dan mengangkat tema-tema yang aman untuk para pembaca, terutama untuk anak-anak dan remaja,” harapnya.
Hingga kini, pria yang menggemari komik sejak kecil ini sudah menghasilkan sejumlah karya. Beberapa di antaranya ada Islam is Me (Qultum media-2015), Liqomik (Salsabila-2017), Geng Bedug (Rekomika-2017), 100 Kebiasaan Nabi #2 (Salsabila-2017), Kudjo Komik (Self Publishing-2018).
”Saya suka komik memang dari kecil. Tapi baru aktif kembali dan ikut meramaikan komik sejak 2-3 tahun lalu,” ujarnya. (*/ida)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *