Tangani Jalan Pawiyatan Luhur Butuh Rp 150 M

  • Bagikan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Salah satu ruas jalan yang sejauh ini cukup membuat pemerintah kuwalahan adalah Jalan Pawiyatan Luhur, Bendan Duwur, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang. Salah satunya di dekat Kampus Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang. Ruas jalan tersebut memiliki karakteristik jalan bergerak hingga mengakibatkan kondisi jalan amblas dan bergelombang.
Perbaikan jalan dilakukan berkali ulang, tapi kondisi jalan tak bertahan lama dan kembali amblas. Bahkan menggunakan cor sekalipun tak mampu bertahan lama. Persoalan jalan amblas ini telah lama dikaji oleh Pemkot Semarang dengan melibatkan para ahli ilmu mekanika tanah.
Berdasarkan hasil kajian dan penelitian, telah ditemukan titik terjadinya pergeseran lapisan bawah tanah. Sehingga mengakibatkan ruas jalan tersebut berkali ulang ambles. Salah satu alternatif solusi penanganannya diperlukan teknologi borepile. Teknologi borepile ini melahap ratusan miliar hanya untuk menangani jalan ambles itu. Diperkirakan membutuhkan biaya kurang lebih Rp 150 miliar dengan bentang 100 meter.
Sehingga hal itu membuat penanganan yang sedianya akan dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang 2018 ini tertunda. Diperkirakan akan dianggarkan pada 2019. Sebagai penanganan sementara, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang melakukan pengeperasan dan pengerukan tanah untuk kemudian dilakukan pengaspalan.
“Berdasarkan kajian, rekomendasinya menggunakan borepile. Kajian kami, tanah di ruas tersebut kategori labil,” kata Kepala DPU, Iswar Aminuddin, kemarin.
Dikatakannya, teknologi borepile tersebut belum bisa dilakukan tahun ini karena anggaran yang dibutuhkan ratusan miliar dan belum dianggarkan di 2018. “Memang biayanya sangat mahal. Setidaknya dibutuhkan 120 borepile,” katanya.
Borepile tersebut menyerupai teknologi jalan tol yang ditanam ke dalam tanah kurang lebih 100 meter. Sehingga lapisan tanah di wilayah tersebut tidak bergerak. Penanganan masalah tanah bergerak di wilayah tersebut terbilang mendesak. Sebab, apabila tidak segera mendapatkan penanganan juga berdampak terhadap bangunan-bangunan termasuk warga di sekitarnya.
“Saat ini bisanya kami lakukan pemeliharaan, dengan cara dilakukan pengeprasan, pengerukan, dan diaspal,” katanya.
Borepile meski menghabiskan ratusan miliar, dinilai lebih logis daripada membuat jalan baru. Sebab pembuatan jalan baru juga akan menghabiskan biaya lebih besar lagi. Mulai dari pembebasan lahan hingga pembangunan. “Prosesnya juga tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat,” katanya.
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, mengatakan penanganan Jalan Pawiyatan Luhur telah dilakukan dan tak lama lagi bisa digunakan masyarakat. “Sudah dilakukan pengeprasan, hasil pengeprasan tinggal diaspal dan dihotmix,” katanya.
Hendi sapaan akrab Hendrar Prihadi mengakui, Jalan Pawiyatan Luhur memiliki karakteristik berbeda dari jalan lain karena terdapat patahan dan lapisan tanah bergerak atau labil. Hal itu mengakibatkan kondisi jalan mudah amblas. “Beberapa metode sudah kami lakukan, tapi tetap saja ada patahan-patahan,” katanya.
Ia menambahkan, akan membuat solusi alternatif untuk memecahkan permasalahan jalan tersebut. Di antaranya mengkaji pembuatan jalur alternatif.
“Namun saya rasa dengan melihat situasi, tempat ini kita perbaiki dulu sambil kemudian memikirkan jalur alternatif maupun rekayasa konstruksi yang lain yang memungkinkan orang  bisa lewat sini dengan nyaman,” tandasnya. (amu/zal)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *