32 C
Semarang
Senin, 14 Juni 2021

Belajar Matematika dengan Klino Babe

RADARSEMARANG.COM – ALAT peraga mempunyai fungsi menjadi perantara dalam memudahkan penyampaian informasi dari guru kepada peserta didiknya. Penggunaan alat peraga sangatlah membantu dalam mengkongkritkan objek matematika yang abstrak sehingga mudah dipahami. Namun ketersediaan alat peraga matematika di sejumlah sekolah sangatlah terbatas dan tidak mudah didapat. Sehingga diperlukan kreatifitas dan inovasi dari para guru untuk membuat dan mengembangkan berbagai macam alat peraga yang murah dan mudah dari bahan-bahan yang ada di sekitar kita.
Sebutlah nama Juli Eko Sarwono, guru Matematika di SMP 19 Purworejo ini berhasil masuk nominasi Liputan 6 Award 2013 karena ia menerapkan metode belajar yang cukup unik dengan alat peraga. Hanya untuk menyajikan contoh dalam materi tabung dalam lingkaran bagi murid-muridnya, beliau tidak segan nembawa motornya masuk ke kelas. Dengan melihat, meraba, dan memanipulasi objek/alat peraga maka peserta didik mempunyai pengalaman-pengalaman dalam kehidupan sehari-hari tentang arti dari suatu konsep.
Alat peraga matematika adalah seperangkat benda konkret yang dirancang, dibuat, dihimpun atau disusun secara sengaja yang digunakan untuk membantu menanamkan atau mengembangkan konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam matematika (Djoko Iswadji, 2003:1). Dengan alat peraga hal-hal yang abstrak dapat disajikan dalam bentuk model-model berupa benda konkret yang dapat dilihat, dipegang, diputarbalikkan sehingga dapat lebih mudah dipahami. Fungsi utamanya adalah untuk menurunkan keabstrakan konsep agar siswa mampu menangkap arti konsep tersebut.
Pengalaman penulis saat mengajar materi trigonometri, kesulitan muncul saat alat klinometer yang tersedia tidak mencukupi dan beberapa alat dalam kondisi rusak. Keprihatinan ini membuat penulis mengupayakan untuk pengadaan alat peraga yang diistilahkan Klino Babe atau klinometer bahan bekas, yang terbuat dari barang bekas di sekitar sekolah. Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat alat peraga Klino Babe ini adalah satu buah busur, karton bekas kardus minuman ukuran 10 x 20 cm, tanggalan bekas untuk menutup karton, Paku dan palu untuk melubangi karton dan busur, tali raffia atau benang kasur bekas, sedotan bekas, selotip dan selotip bolak balik, tutup botol bekas atau pemberat yang lain.
Untuk merangkai bahan bahan Klino Babe juga sangat mudah, hanya perlu waktu sekitar tiga menit untuk merangkainya, yaitu dengan cara menutup karton dengan tanggalan bekas supaya berwarna putih dan tidak mengganggu proses pengukuran. Lalu dengan bantuan selotip bolak balik, sedotan ditempel di bagian atas karton. Selanjutnya sejajar dengan sedotan, ditempel busur dengan bantuan selotif bolak balik pula. Langkah terahir adalah memasang tali dan pemberatnya dengan melobangi pas di pusat busur.
Dengan contoh dari guru, siswa secara berkelompok membuat alat peraga Klino Babe sendiri dengan kreativitas mereka masing-masing. Menurut pengalaman penulis, siswa sangat senang saat berhasil merangkai alat peraga Klino Babe sendiri. Semangat adiwiyata untuk peduli lingkungan juga bisa diasah disini. Siswa dibiasakan memanfaatkan barang bekas disekitarnya menjadi barang yang berguna.
Dan tidak hanya berhenti di situ saja, setelah siswa menyelesaikan tugas membuat alat peraga Klino Babe, maka siswa diajak untuk pembelajaran outclass di lapangan upacara. Dengan bantuan Klino Babe, siswa melakukan praktik pengukuran tinggi tiang bendera menggunakan konsep trigonometri. Dengan bimbingan guru, siswa melakukan kegiatan pembelajaran kontekstual. Kegiatan pembelajaran semacam ini terbukti membuat siswa aktif dan meningkatkan minat siswa untuk belajar matematika, khususnya trigonometri. (as3/aro)
Guru SMA Negeri 14 Semarang

Latest news

Garuda Ayolah

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here