32 C
Semarang
Kamis, 24 Juni 2021

Keruk Tanah BKT Butuh Waktu Setahun

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Proses pembangunan normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) saat ini telah memasuki tahap awal. Sejumlah alat berat dan beberapa truk telah beraktivitas di areal bantaran sungai BKT untuk melakukan pengerukan tanah. Terutama di dekat Jembatan Majapahit. Saat ini, aktivitas pengerukan mulai pukul 08.00 hingga pukul 16.30.
“Setiap hari, tercatat rata-rata 50 truk membawa material tanah dari bantaran sungai. Tanah hasil pengerukan dibawa dan dimanfaatkan untuk menguruk rawa-rawa di sekitar Jolotundo Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari,” kata salah satu petugas pencatat truk, Meni, 58, di areal proyek pembangunan normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT), kemarin.
Kegiatan pengerukan tanah tersebut baru berlangsung sejak lima hari lalu. Saat ini, jumlah alat berat yang digunakan baru dua unit dan lima truk. Sehingga intensitas pengerukan belum maksimal. Dikatakan Meni, kontrak kerja pengerukan dilaksanakan satu tahun. “Harapannya, proses pengerukan bisa selesai dalam waktu satu tahun,” katanya.
Meski begitu, pekerjaan pengerukan tersebut akan dikebut agar bisa lebih cepat selesai. Tentu saja, jumlah armada nantinya akan ditambah lebih banyak untuk mendukung percepatan. “Kalau pekerjaan cepat selesai, semua senang, pembangunan ada percepatan. Uang segera cair, pekerja bisa mengerjakan proyek lain,” katanya.
Sekretaris Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang, M Farhan sebelumnya mengatakan proyek normalisasi Banjir Kanal Timur memiliki panjang 14,8 kilometer. Ada dua tahap pengerjaan, yakni tahap pertama, Jembatan Majapahit menuju hilir di Tambaklorok kurang lebih sepanjang 6,7 kilometer. Sedangkan tahap kedua, mulai dari Jembatan Majapahit hingga Pucanggading kurang lebih sepajang 7,7 kilometer. “Lebar Sungai Banjir Kanal Timur menjadi 65 meter untuk bagian permukaan. Sedangkan bagian bawah memiliki lebar 50 meter. Bentuk seperti huruf U,” terangnya.
Banjir Kanal Timur saat ini mengalami pendangkalan cukup parah akibat sedimentasi. Selain terjadi penurunan kapasitas saluran akibat sedimentasi, sampah dan bangunan liar juga turut memperparah pendangkalan. Diperkirakan, kata dia, hasil pengerukan sedimentasi Banjir Kanal Timur akan menghasilkan limbah buangan dengan volume 900 meter hingga 1 juta meter/kubik. “Bekas kerukan sedimentasi ini dimanfaatkan untuk menguruk lahan di proyek Kampung Bahari Tambak Lorok dan sawah besar,” imbuhnya.
Sedangakan, total warga yang terkena dampak pembangunan proyek BKT sebanyak 4.097 tanah dan bangunan di 21 kelurahan. Rinciannya, tahap pertama, sebanyak 2.758 warga berada di 12 kelurahan. Sedangkan di tahap kedua sebanyak 1.339 warga. (amu/ida)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here