Tiga Hakim PTUN Tangani Gugatan Anin

  • Bagikan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang telah menunjuk tiga majelis hakim yang akan menangani perkara yang dilayangkan Suwondo, orang tua Anindya Puspita Helga Nur Fadhila (Anin), siswi yang dikeluarkan dari SMA Negeri 1 Semarang. Sebagai objek sengketa adalah Surat Pengembalian Siswa ke Orang Tua/Wali dengan Nomor 422/104/II/2018 tanggal 14 Februari 2018 atas nama Anindya Puspita Helga Nur Fadhila yang dikeluarkan oleh Kepala SMAN 1 Semarang, Endang Suyatmi Listyaningsih. Ketiga majelis hakim yang ditunjuk adalah Indah Mayasari sebagai ketua didampingi dua hakim anggota, yakni Oktova Primasari dan Panca Yunior Utomo.
“Agenda sidang belum turun, agendanya masih pemanggilan para pihak. Gugatannya didaftarkan kemarin (Rabu, 7 Maret). Untuk Rabu, 14 Maret agendanya sudah mulai persiapan perbaikan gugatan,” jelas Panitera Pengganti (PP) PTUN Semarang, Sapta Hartana saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kantornya, Kamis (8/3).
Sapta mengatakan, gugatan dari wali siswa tersebut tercatat dengan nomor registrasi 31/G/2018/PTUN.Smg. Gugatan diajukan oleh Suwondo, warga Jalan Sendangmukti Barat III/177 RT 03 RW 09, Kelurahan Tlogomulyo, Kecamatan Pedurungan, Semarang, melalui 9 tim kuasa hukumnya yang tergabung dalam Tim Advokasi Peduli Anak Bangsa (TAPAB). Mereka adalah Listyani Widiyaningsih, Denny Septiviant, Atatin Malikhah, Aris Septiono, Abdun Nafi Al Fajri, Kahar Muamalshah, Ahmad Rifan Nawawi, Andi Sulistiyo dan Sukarman. Gugatan tersebut diajukan setelah somasi yang dikirimkan kepada kepala sekolah tidak direspons. Somasi itu berisi permohonan agar mencabut objek sengketa surat tersebut.
Dalam gugatannya, lanjut Sapta, Suwondo meminta hakim PTUN memerintahkan tergugat, yakni Kepala SMAN 1 untuk menunda tindak lanjut pelaksanaan surat dalam objek sengketa. Sedangkan dalam pokok perkaranya, ia meminta mengabulkan gugatannya untuk seluruhnya, menyatakan batal atau tidak sah surat dalam objek sengketa, mewajibkan tergugat untuk mencabut surat tersebut, dan menyatakan Anindya Puspita Helga Nur Fadhila sebagai siswi SMAN 1 Semarang, serta mengembalikan harkat dan martabatnya, kemudian menghukum tergugat untuk membayar biaya perkara yang timbul dalam perkara tersebut. Sedangkan apabila hakim tidak sependapat dengan gugatan tersebut, memohon diberikan putusan seadil-adilnya.
“Kami memandang penerbitan objek sengketa tersebut sangat dipaksakan dan mengada-ada, karena di dalam Buku Tata Tertib Peserta Didik SMA Negeri 1 Semarang yang sah berlaku di lingkungan SMA Negeri 1 Semarang milik AN masih bersih dan tidak tertulis pelanggaran apapun,” kata Koordinator Kuasa Hukum Suwondo, Listyani Widiyaningsih. (jks/aro)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *