33 C
Semarang
Rabu, 12 Agustus 2020

Kepala SMAN 1 Digugat ke PTUN

Anin dan Afif Didukung 9 Advokat

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Kasus yang menimpa siswa SMAN 1 Semarang, Anindya Puspita Helga Nur Fadhila (AN) dan Muhammad Afif Ashor (AF) terus bergulir. Petisi online yang mendukung dua siswa tersebut semakin kencang. Mereka menuntut agar Kepala SMAN 1 Semarang, Endang Suyatmi Listyaningsih, harus mencabut keputusan mengeluarkan AN dan AF, mengingat status mereka sebagai siswa kelas XII sedang menyambut persiapan Ujian Nasional (unas) yang kurang dari satu bulan.
Hingga Rabu (7/3) pukul 17.34, sedikitnya ada 14.873 orang telah menandatangani petisi tersebut dari target dukungan sebanyak 15.000. Mereka mendukung AN yang merupakan anak seorang penjual roti keliling itu untuk mewujudkan mimpinya melanjutkan kuliah ke Undip atau UGM jurusan teknik sipil atau elektro atau masuk ke Akpol, begitu pun AF.
Hampir sebulan, AN dan AF, tidak bisa masuk sekolah karena berkali ulang diusir dari sekolah dan tidak memiliki kejelasan nasib. Tentu saja, keduanya tidak ada kepastian untuk mengikuti unas yang sebentar lagi dilaksanakan. Pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng sempat memilihkan SMAN 11 dan SMAN 13 sebagai tempat baru bagi AF dan AN. Tapi ditolak.   Lalu diganti ke SMAN 2 dan SMAN 6, tetapi tetap saja belum bisa diterima oleh keduanya. Sebab, keputusan sekolah tersebut dinilai sepihak karena tanpa melibatkan persetujuan orang tua siswa. Tentu saja hal ini berpengaruh besar bagi kondisi psikologis, akademis, dan kesiapan kedua siswa tersebut.
Di sisi lain, orang tua AN, Rabu (7/3) kemarin, melalui tim kuasa hukumnya, telah mendaftarkan gugatan terhadap Kepala SMAN 1 Semarang di PTUN Semarang dengan nomor registrasi 31/G/2018/PTUN.Smg. Gugatan ini dilakukan setelah somasi yang dikirimkan kepada kepala sekolah tidak direspons. Somasi itu berisi permohonan agar mencabut kebijakannya berupa penerbitan Surat Pengembalian Siswa ke Orang Tua/Wali Nomor 422/104/II/2018 tanggal 14 Februari 2018 atas nama AN sebagai objek sengketa.
“Kami memandang penerbitan objek sengketa tersebut sangat dipaksakan dan mengada-ada, karena di dalam Buku Tata Tertib Peserta Didik SMA Negeri I Semarang yang sah berlaku di lingkungan SMA Negeri 1 Semarang milik AN masih bersih dan tidak tertulis pelanggaran apapun,” kata Koordinator Kuasa Hukum, Listyani SH, kemarin.
Padahal, setiap pelanggaran yang dilakukan oleh peserta didik SMA Negeri 1 Semarang akan ditulis di buku Tata Tertib tersebut dengan ditandatangani siswa. Termasuk ditandatangani guru BK/Kesiswaan dengan disebutkan jenis pelanggarannya beserta poin yang didapatkan.
“Poin tersebut akan diakumulasikan hingga menentukan sanksi apa yang nantinya akan didapatkan peserta didik tersebut. Tetapi menjadi aneh jika AN tiba-tiba telah mendapatkan 120 poin, dengan rincian pasal yang sama sekali tidak dimengerti,” ujarnya.
Kuasa hukum yang lain, Denny Septiviant, menambahkan, tindakan tergugat yang langsung mengeluarkan AN dari SMA Negeri 1 Semarang dengan mengembalikan kepada orang tua siswa tanpa melalui proses teguran lisan maupun tertulis, dan tanpa adanya tindakan yang edukatif sama sekali.
“Ini jelas-jelas melanggar pasal 10 ayat (1) dan pasal 11 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 82 tahun 2015 tentang pencegahan dan penanggulangan tindak kekerasan di lingkungan satuan pendidikan,” katanya.
Bahkan tindakan edukatif belum dilakukan. Namun didahului dengan mengusir AN dari sekolah, serta tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran di kelas. “Tindakan tergugat ini menyebabkan AN kehilangan hak untuk memeroleh pendidikan dan pengajaran di SMA Negeri 1 Semarang,” ujarnya.
Sedangkan, tim hukum lain, Sukarman, berharap, dengan gugatan di PTUN ini bisa mencabut Surat Keputusan Kepala SMAN 1 Semarang berupa Surat Pengembalian Siswa ke Orang Tua/ Wali Nomor 422/104/II/2018 tanggal 14 Februari 2018 atas nama siswa AN.
“Selama proses hukum berjalan, kami berharap PTUN dapat melakukan penundaan pelaksanaan keputusan tergugat, dengan alasan adanya keadaan yang sangat mendesak. Keadaan yang sangat mendesak tersebut adalah pada tanggal 19 Maret 2018 akan dilaksanakan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) yang harus diikuti oleh AN,” katanya.
Sedikitnya ada sembilan advokat profesional yang melakukan pembelaan hukum terhadap para siswa dan orang tua yang merasa menjadi korban ketidakadilan oleh pihak SMAN 1 Semarang. (amu/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Kades Harus Pahami Aturan Dana Desa

MAGELANG – Sebagian besar kepala desa belum paham dengan aturan penggunaan dana desa. Mereka rentan terjerat kasus hukum. “Banyak kepala desa di wilayah Jawa Timur,...

Pengurus Persibat Tahan Imbang Pemkab

BATANG - Untuk menjalin silaturahmi antara pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Batang, digelar pertandingan eksibisi antara pejabat di lingkungan Pemkab dan Pengurus sepakbola Persibat...

Pantang Malu di Kandang

SEMARANG - Tim PSIS Semarang akan melakoni laga kedua mereka di ajang Liga 2 2017 menjamu Persipon Pontianak di Stadion Jatidiri Semarang, Kamis (27/4)...

Waspadai Peredaran Obat Bikin Gangguan Mental

SEMARANG- Petugas gabungan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng, Polda Jateng, Dinas Kesehatan Provinsi Jateng dan Balai POM Jateng mewaspadai peredaran obat yang menyebabkan...

Guru Zaman Now Sahabat Siswa Bermasalah

RADARSEMARANG.COM - DI era globalisasi dan teknologi, profesionlisme seorang guru sekarang ini semakin penuh tantangan sesuai dengan tuntutan zaman now. Secara normatif peran guru...

Kota Magelang Miliki BWI

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Magelang telah melimpahkan segala urusan perwakafan kepada Pengurus Perwakilan Badan Wakaf Indonesia (BWI) Kota Magelang yang resmi...