33 C
Semarang
Rabu, 5 Agustus 2020

Bongkar Plafon, Tinggal di Rumah Bawah Tanah

Derita Warga Kaligawe yang ‘Kejar-Kejaran’ dengan Peninggian Jalan

Another

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan...

RADARSEMARANG.COM – Peninggian jalan yang terus dilakukan untuk menghindari banjir dan rob di kawasan Kaligawe membuat warga mau tidak mau juga harus meninggikan rumahnya. Sebab, rumah yang mereka huni juga ikut tenggelam oleh peninggian jalan.
MEMASUKI wilayah RW 2 Kelurahan Kaligawe, proses peninggian rumah menjadi pemandangan biasa. Warga berupaya meninggikan rumahnya agar sejajar dengan permukaan jalan. Di wilayah ini, peninggian memang sudah beberapa kali dilakukan. Terhitung sejak 2004, sudah sebanyak 2-3 kali dilakukan peninggian.
Tentu peninggian rumah dilakukan oleh warga yang mampu. Sementara untuk warga yang belum cukup mampu, terpaksa harus tetap menempati rumahnya dalam keadaan seadanya. Didik, warga RT 7 RW 2 mengaku harus tinggal di rumah bawah tanah. Ia hanya mampu meninggikan bagian depan rumahnya dan membangun beberapa bagian untuk tempat tidur. Tampak dari depan rumah, sebuah ruang kecil, nampaknya bekas bangunan lama yang ditambah bangunan lagi di atasnya. Ruang kecil inilah yang ia sebut sebagai bawah tanah. Benar saja, posisinya lebih rendah dari permukaan jalan. Di ruang ini terdapat televisi, kipas angin dan sejumlah kursi.
”Atasnya untuk tidur. Cuma bisa meninggikan yang bagian depan saja,” jelas pria yang sudah sekitar 37 tahun tinggal di Kaligawe RW 2. ”Kalau yang bagian bawah itu buat masak saja,” timpal istrinya.
Untuk bisa masuk ke tempat ini, diperlukan perjuangan. Sebab, dari bagian ruang tamu tempat ini hanya menyisakan lubang tak lebih dari 60 sentimeter. ”Itu cuma saya yang bisa masuk,” jelas Ny Didik.
Dikatakan olehnya, beberapa warga yang belum mampu meninggikan rumah ada yang terpaksa membongkar plafon rumah, agar tetap bisa ditinggali. ”Supaya ndak sundul,” ujarnya.
Bahkan, lanjutnya, ada juga warga yang harus tinggal meskipun rumahnya tergenang air. Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, memang ada beberapa rumah yang digenangi air pada bagian terasnya. Sayangnya, sang pemilik rumah belum berhasil ditemui.
Ketua RT 03 RW 2 Kaligawe, Basyir, 36,  mengatakan, peninggian rumah memang menjadi pekerjaan rumah (PR) warga wilayah Kaligawe buntut dari peninggian jalan. Pemerintah, kata dia, hanya memberikan bantuan untuk meninggikan jalan agar terbebas banjir dan rob. Sementara peninggian rumah, menjadi tanggung jawab masing-masing pemiliknya.
”Ini kan cuman untuk nyenengke warga saja mungkin. Kasihan yang belum bisa meninggikan rumah. Di wilayah saya baru sekitar 30 persen yang sudah bisa meninggikan rumah,” beber pria asal Demak yang tinggal di Kaligawe sejak 2004.
Termasuk Masjid Al-Hikmah yang berada tepat di samping rumahnya. Ia menuturkan sudah 3 kali dilakukan peninggian untuk menyesuaikan ketinggian jalan. Sedikit menyentil, ia mengatakan secara ekonomi orang yang tinggal di wilayahnya haruslah orang yang kaya. Sebab, untuk membangun rumah, mereka harus mengeluarkan dua kali lipat biaya. Biaya pembongkaran dan pembangunan kembali. Belum lagi jika masih harus berlomba-lomba meninggikan dengan permukaan jalan.
”Malah sama aja kayak kontrak. Tinggal di rumah sendiri, tapi harus keluar biaya terus. Malah lebih murah kontrak mungkin,” kata dia sambil tersenyum.
Yoyok Beni Prabowo , 34, warga Jalan Palang Kaligawe RT 5 RW II Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari mengaku, rumahnya sudah biasa tergenang rob dan banjir. Apalagi setelah rumah-rumah di sekitarnya telah ditinggikan di atas satu meter dari jalan.
“Kalau rumah saya, antara lantai rumah dan jalan sekarang tinggi jalannya. Ketinggiannya mencapai setengah meter. Sehingga kalau banjir dan rob, pasti masuk rumah. Saya sudah tidak bisa meninggikan lantai lagi, karena sudah mentok. Kalau saya paksakan,  kepala bisa nyundul atap,” ujarnya.
Untuk merombak total rumahnya, Yoyok mengaku tidak memiliki biaya. “Ya, sekarang dibiarkan saja. Kalau kena banjir dan rob ya dianggap musibah. Terus terang lama-lama capek juga. Karena harus selalu bersih-bersih habis kemasukan rob atau banjir,” keluhnya.
Dikatakan, biasanya rob datang malam hari sekitar pukul 22.30 sampai dengan pagi pukul 07.00. Yoyok menceritakan, pada 2012, rumahnya sempat dirobohkan dan dibangun bertingkat pada 2014. Namun sejak 2014 hingga sekarang, jalan di depannya sudah ditinggikan sebanyak 6 kali. Praktis, kini rumahnya di bawah jalan.
Yoyok yang hidup bersama anak dan istri, serta ibu kandungnya tersebut sebenarnya ingin pindah dari Kaligawe. Namun saat rumahnya akan dijual, tawarannya sangat rendah. “Hasil penjualannya nggak cukup buat beli rumah di tempat yang bebas banjir dan rob,” katanya. (sga/hid/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

Arang Galang

Inilah jalan berliku itu. Tapi yang penting hasilnya: anak muda ini berhasil menjadi pengusaha. Bahkan jadi eksporter. Memang masih sangat kecil. Tapi arah bisnisnya...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

UPK Guntur Salurkan Dana Sosial Untuk Anak Yatim dan Lansia

RADARSEMARANG.COM, DEMAK - Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Kecamatan Guntur menyalurkan dana sosial sebesar Rp 87.200.000 kepada masyarakat di wilayah tersebut. Dana sebesar itu, untuk...

Pemkot Blacklist Dua Kontraktor Hanya Selesaikan 48 Persen

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Dari sekian kontraktor yang masuk dalam daftar rapor merah karena kinerjanya buruk, dua di antaranya telah di-blacklist. Keduanya adalah PT Dipo...

Garuda Indonesia Masuk Top 10 Maskapai Global

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia kembali mempertahankan pencapaian sebagai salah satu dari jajaran 10 besar maskapai global dengan capaian On Time...

1.200 Karyawan Simoplas Tolak Pesangon Rp 15 M

SEMARANG - Nasib 1.200 karyawan PT Simoplas Semarang yang dirumahkan sejak September 2015 silam, hingga saat ini tidak jelas. Hasil mediasi antara pihak manajemen...

Partisipasi Pemilih Lampaui Target

RADARSEMARANG.COM, KAJEN - Bupati Pekalongan Asip Kholbihi didampingi Kapolres Pekalongan dan Dandim 0710 Pekalongan bersama KPU Kabupaten Pekalongan, Rabu (27/6) kemarin, melakukan pemantauan Pemilu...

Metode Bismillah UMM untuk Anak Tuna Rungu

MAGELANG-- Mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang mencoba melakukan terobosan baru di dunia pendidikan. Mereka menerapkan motode bismillah dengan media plastisin dalam pembelajaran BTQ bagi...