Hidung Pernah Bocor, Tiap Hari Angkat Beban 50 Kg

  • Bagikan
PERKUAT FISIK : Farid Nur Huda rajin berlatih di Sasana Lindu Aji Ngaliyan untuk bisa meningkatkan prestasi di berbagai kejuaraan. (IST)
PERKUAT FISIK : Farid Nur Huda rajin berlatih di Sasana Lindu Aji Ngaliyan untuk bisa meningkatkan prestasi di berbagai kejuaraan. (IST)

RADARSEMARANG.COM – Farid Nur Huda, 25, merupakan salah satu atlet Wushu Sanshou yang cukup berprestasi. Ia pernah mendapatkan perunggu dalam Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) 2017 dan mewakili Semarang dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jateng November 2018 mendatang.
MIFTAHUL A’LA
BAGI Farid Nur Huda, olahraga fisik sudah bukan hal baru lagi. Sebab, sebelum menekuni dunia wushu sanshou, warga Tambak Aji Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang ini, memang doyan berantem. “Saya memang suka berantem. Kalau ada yang buat gara-gara, ya langsung adu pukul,” akunya.
Kebiasaan Farid, lama-lama membuat keluarganya menjadi was-was. Beberapa  kali dilarang, tetapi kebiasaan itu belum sepenuhnya bisa dihilangkan. Akhirnya, keluarga dan teman-temannya menganjurkan untuk ikut bela diri yang bisa menyalurkan bakatnya. Sehingga ia bisa terus berantem, tetapi juga bisa mengukir prestasi. “Keluarga ingin agar saya tidak berantem, karena membahayakan. Makanya diminta untuk mencari hobi lain,” tuturnya.
Dari situ, ia lantas ikut bergabung dengan Sasana Lindu Aji Ngaliyan. Di tempat ini, Farid lantas digembleng untuk menjadi atlet Wushu Sanshou. Keinginannya cukup beralasan, karena Wushu Sanshou membutuhkan fisik yang cukup kuat. Sebab, ia memang suka dengan olahraga dan beladiri yang berhubungan dengan fisik.
Wushu Sanda atau Sanshou merupakan seni bela diri yang pada awalnya dikembangkan oleh militer China yang berbasis pada studi dan praktik Kung Fu tradisional dan teknik tempur pertarungan modern. Dalam hal ini, menggabungkan full-contact kickboxing, yang meliputi pukulan dan tendangan, dengan gulat, takedowns (ambilan dari bawah), throws (bantingan/lemparan), weeps (sapuan), kick catches. Dalam beberapa kompetisi atau pertandingan, siku dan lutut juga dapat digunakan untuk menyerang. “Sebenarnya suka Muay Thai juga, tetapi sekarang fokus ke Wushu Sanshou,” tambahnya.
Setiap hari, iapun rajin berlatih dengan rekan-rekannya. Hampir tiap ada waktu senggang, ia terus mengasah bakatnya di bidang Wushu Sanshou. Ia semakin termotivasi, karena hobinya berantem sudah mengarah ke hal positif. Tentunya dengan teknik dan pengawasan pelatih yang berpengalaman. Berkat kerja keras dan usahanya, ia pun diminta ikut dalam kejuaraan nasional Popnas di Kota Semarang 2017 lalu kelas 52 Kg. Bahkan, tahun ini ia menjadi perwakilan Semarang untuk ikut dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jateng November 2018 mendatang. “Saya hanya berlatih sekitar 6-7 bulan. Dan saat kejuaraan, mendapatkan perunggu,” akunya bangga.
Farid mengaku untuk mendapatkan prestasi, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia harus terus berlatih baik dari segi teknik maupun dari kekuatan fisik. Lari. Tiap hari ia harus berlatih dengan jalan jongkok sepanjang 100 meter sebanyak 5 kali. Teknik yang bagus sampai angkat beban 50 kg. “Fisik memang faktor utama, selain teknik. Biasanya setiap malam latihan di Sasana Lindu Aji Ngaliyan,” tambahnya.
Selain Porprov Jateng, ia juga menargetkan untuk bisa menembus ajang PON 2021 mendatang. Berbagai pengalaman senang dan duka sudah dialaminya selama menggeluti Wushu Sanshou. Meski begitu, ia tetap optimistis bisa terus menggeluti olah raga dengan model tinju dan bantingan tersebut.
“Pernah hidung berdarah dan bocor kena pukulan saat bertanding. Tapi tidak masalah, itu menjadi pelajaran agar bisa terus meningkatkan prestasi,” ujarnya penuh optimistis. (*/ida)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *