33 C
Semarang
Kamis, 16 Juli 2020

Tebak-Tebakan Tak Berhadiah

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Penari Langit Bule di Bukit Pabbaresseng (3) 
Oleh Dahlan Iskan
Saya lagi bertaruh dengan beberapa aktivis green energy. Tentang berapa banyak pembangkit listrik tenaga angin di bukit Pabbaresseng, kabupaten Siddereng Rappang, Sulawesi Selatan itu nanti akan menghasilkan listrik.
Anda juga boleh ikut bertaruh lewat likedisway@gmail.com. Pertanyaannya: berapa persen dari kapasitasnyakah akan menghasilkan listrik?
Asumsinya: kapasitas pembangkit itu 75 MW. Kalau kecepatan angin 7 meter/detik kapasitas itu akan tercapai.
Yang kita sama-sama tidak tahu: data riel kecepatan angin di bukit tersebut selama 24 jam.
Tentu investornya lebih tahu kecepatan angin di sana. Bagi yang tebakannya ingin lebih tepat boleh mencoba cari data ke badan meteorologi di Sidrap (Siddenreng Rappang) atau Makassar. Siapa tahu punya. Setidaknya angka kasar.
Saya sendiri sudah bisa umumkan tebakan saya. Sekarang. Pembangkit itu nanti hanya akan menghasilkan listrik 25 MW. Hanya 30 persen dari kapasitas.
Tentu sesekali akan menghasilkan listrik sesuai kapasitasnya tapi hanya untuk beberapa jam sehari. Ketika kecepatan angin sedang tinggi.
Saya benar-benar tidak tahu berapa jam sehari ada angin cepat di sana. Namun kita tahu bahwa angin kita itu angin-anginan. Bisa saja di bukit Pabbaresseng itu anginnya lebih bagus dari lokasi lain sehingga tebakan saja meleset.
Tapi seorang aktivis yang sudah menyampaikan tebakannya kepada saya mengatakan: hanya akan menghasilkan 20 MW saja. Bahkan bisa di bawah itu.
“Tebakan pak Dahlan terlalu optimistis,” katanya.
Saya tahu tebakan saya memang saya optimis-optimiskan. Untuk menyenangkan. Agar semangat ber-green energy jangan patah.
Dari pengalaman saya meninjau pembangkit listrik di berbagai negara maju memang seperti itu. Sulit mencapai 30 persennya. Bahkan ada yang hanya 17 persennya saja.
Kita doakan bukit Pabbaresseng beda dengan dunia selebihnya.

Proses pemasangan baling-baling raksasa di lokasi pembangkit. (Foto: Harian Fajar)

Itulah mahalnya investasi listrik tenaga angin. Investasi Rp 2 triliun tidak bisa menghasilkan 75 MW melainkan hanya sekitar 20 MW. Berarti, rielnya, hitungan investasi itu mencapai Rp 100 miliar permegawatt. Empat kali lipat lebih mahal dari investasi pembangkit PLTU batubara.
Tapi kelebihannya jangan dilupakan: ini paling ramah lingkungan. Dan tidak perlu beli bahan bakar sama sekali. Bahan bakarnya sepenuhnya dari Tuhan YME.
Saya tidak tahu bagaimana bunyi kontrak jual belinya dengan PLN. Apakah berdasar kapasitas atau berdasar listrik yang nyata-nyata masuk ke PLN. Tentu yang terakhir itu mestinya. Karena PLN pasti tidak mau dirugikan.
Yang saya tahu (dari pemberitaan Harian Fajar), PLN harus membeli listrik dari proyek ini USD 11 cent/kWh. Atau sekitar Rp 1.500/kWh. Cukup mahal kalau dibandingkan dengan PLN membeli listrik dari PLTU batubara. Lebih mahal sekitar 50 persennya. Tapi batubara merusak lingkungan.
Berarti PLN membeli listrik dari proyek ini lebih mahal dari PLN menjual listrik ke masyarakat.
Investasi ini memang sangat mengagumkan. Biaya investasinya untuk 75 MW tapi uang yang didapat hanya dari penjualan listriknya yang sekitar 20 MW. Itulah sebabnya kontrak pembelian listrik ini (disebut PPA) berlaku selama 30 tahun.
Hanya perusahaan yang benar-benar amat dalam sakunya dan amat panjang nafasnya bisa melakukan investasi ini.
Perkiraan saya investasi ini akan kembali dalam sembilan atau 12 tahun. Atau lebih cepat dari itu karena bunga bank di Amerika sangat rendah. Apalagi untuk proyek mulia seperti ini. Bisa hanya sepertiga dari bunga bank di Indonesia.
Jangka panjang proyek ini sangat menguntungkan juga. Setelah investasi kembali masih ada waktu kontrak 20 tahun lagi.
Kita tidak akan bisa melawannya. Tanpa ada kebijakan keperpihakan pada pencipta-pencipta teknologi dari putra bangsa sendiri.
Kebijakanlah yang akan menentukan nasib kita: jadi pemain atau penonton.
(Bersambung)

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

3 Kades Diduga Tidak Netral

RADARSEMARANG.COM, MUNGKID - Panitia Pengawas Pemilu Kabupaten Magelang menemukan dugaan pelanggaran ketidaknetralan kepala desa dalam Pilkada 2018. Tiga kepala desa diketahui mengikuti acara debat...

FKPPI Jateng Dukung Ganjar

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI POLRI (FKPPI) Jateng mengisyaratkan mendukung Ganjar Pranowo-Taj Yasin dalam Pilgub Jateng 2018....

Momentum Bangkit

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Laga penting akan dilakoni tim PSIS Semarang dalam matchday ke-6 Liga 1 2018. Tim berjuluk Mahesa Jenar akan dijamu Perseru Serui...

Sepakat Perda RTRW Direvisi

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Kalangan legislatif sepakat untuk merevisi Peraturan Daerah (Perda) Jateng Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jateng...

Eka Tjipta

Oleh Dahlan Iskan Janganlah melihat orang hanya saat suksesnya. Lihat juga perjuangan menuju sukses itu. Hanya itu yang bisa saya simpulkan. Saat menulis naskah ini. Untuk...

Jual Selai hingga Air Isi Ulang

RADARSEMARANG.COM - Karir pendidikan Kastolani cukup panjang dan berliku. Sejak lulus SD dan mondok, ia kemudian pengabdian di Aceh. Sembari mengabdi, dirinya juga menggunakan...