33 C
Semarang
Sabtu, 19 September 2020

Siswa Makan Bersama Lontong Cap Gomeh

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Bagi warga Tionghoa, Cap Gomeh merupakan tradisi yang harus dirayakan. Tradisi ini sebagai penutup perayaan Imlek. Perayaan Cap Gomeh ditandai dengan makan bersama lontong Cap Gomeh. Sepintas memang tidak ada perbedaan antara lontong Cap Gomeh dengan lontong opor. Yang membedakan, ada bubuk kedelai dan minyak ebi yang dimasukkan jadi satu.
Makan bersama lontong Cap Gomeh ini kemarin digelar Yayasan Khong Kauw Hwee Semarang bersama ratusan siswa dan guru TK hingga SMP Sekolah Kuncup Melati.  Kegiatan tersebut berlangsung di ruang Kong Tik Soe kompleks Kelenteng Tay Kak Sie, Pecinan.
Sebelum santap bersama, mereka berdoa dan dilanjutkan permainan kesenian Liong dan Barongsai. Anak-anak menikmati permainan tersebut, bahkan ada beberapa anak yang memegang kepala barongsai.
“Ini permainan barongsai dari sekolah sendiri. Sejak dini anak-anak sudah diajari bermain barongsai,” kata Ketua Yayasan Tjie Lam Tjae, Wong Aman Gautama, kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Aman Gautama menambahkan, tradisi santap lontong Cap Gomeh sudah ada pada masa Laksamana Cheng Hoo di hari ke-15 tahun baru China. Awalnya, digelar lomba memasak. Nah, saat lomba itu, ada salah satu peserta membuat menu masakan yang mencampur berbagai bahan dalam baskom. “Menu masakan itulah yang kemudian dikenal dengan lontong Cap Gomeh,” jelasnya.
Aman Gautama menambahkan, dengan perayaan ini, akan terjalin hubungan yang semakin akrab, antara siswa, guru dan pihak yayasan. Karena,  semua makan lontong Cap Gomeh bersama tanpa ada perbedaan.  “Perayaan ini menambah persaudaraan bagi kita semua,” katanya.
Salah satu siswi, Leony, mengaku,  senang bisa merayakan tradisi Cap Gomeh. “Makan bersama inilah yang selalu diharapkan semua siswa, karena dengan begitu hubungan menjadi semakin mesra,” ucapnya. (hid/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Kerugian Banjir Sayung Rp 1,4 Miliar

RADARSEMARANG.COM, DEMAK - Banjir yang melanda wilayah Kecamatan Sayung telah berangsur surut. Meski demikian, dampak yang ditimbulkan banjir cukup besar. Dilihat dari angka kerugian...

Bagikan Ratusan Bingkisan Sembako untuk Warga

DEMAK-Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Nasdem, Ir Ali Mahir MM, kemarin menggelar serap aspirasi atau reses di Balai Desa Wonokerto, Kecamatan Karangtengah. Reses yang...

MI Pasekan Gunakan Rumah Warga

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Siswa di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Pasekan, Kecamatan Ambarawa terpaksa harus melakukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di rumah warga. Hal itu dikarenakan...

Bidik Potensi Wisatawan ke Kota Semarang

SEMARANG – Sentra kuliner serta oleh-oleh khas Semarang didirikan di kawasan Jalan Imam Bonjol, baru-baru ini. Sentra kuliner bernama Kompleks IB ini diharapkan dapat...

Masih Banyak Guru Belum Sarjana

SEMARANG – Tuntutan kesejahteraan guru belum diimbangi dengan kualitas. Pasalnya masih ada beberapa guru belum memiliki gelar sarjana namun sudah diberikan tanggung jawab mengajar. ”Perhatian...

Ribuan Warga Blokir Jalan

MUNGKID—Kerusakan lingkungan akibat penambangan liar, membuat warga Desa Sumokaton, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang, kehabisan kesabaran. Kemarin, ribuan warga turun ke jalan, memblokir jalan untuk...