34 C
Semarang
Rabu, 21 April 2021

Akulturasi di Perayaan Cap Go Meh

spot_img
spot_img

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Puluhan komunitas kesenian yang membawakan tari tradisional ikut mewarnai pawai kirab budaya Cap Go Meh di sepanjang kawasan pecinan Kota Magelang, Jumat (2/3). Keterlibatan komunitas tradisional tersebut makin mengukuhkan tema imlek yaitu toleransi keberagaman.
Ratusan warga Tionghoa dan masyarakat umum guyub serta membaur bersama menikmati kesenian yang diselenggarakan oleh Yayasan Tri Bhakti di Kelenteng Liong Hok Bio, Kota Magelang. Pawai kirab budaya di mulai dari kelenteng di selatan Alun-alun Kota Magelang, lalu ke Jalan Pemuda (Pecinan), Jalan Jenggolo, Jalan Tentara Pelajar, dan kembali lagi kelenteng.
Ketua Yayasan Tri Bhakti Kota Magelang Paul Candra Wesi Aji mengatakan, kirab budaya sudah menjadi agenda rutin untuk merayakan Cap Go Meh atau 15 hari setelah tahun baru Imlek, pada 9 Februari 2018 lalu. Dalam kirab yang menunjukkan akulturasi budaya ini, selain kesenian khas Imlek seperti liong, barongsai, parade lampion, juga menampilkan seni tradisional. Antara lain jathilan, topeng ireng, soreng, dolalak, warok, pitik walik, reog merapi hingga reog ponorogo. “Ada 10 kelompok kesenian tradisional yang tampil. Mereka berasal dari Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Purworejo dan lainnya,” kata Paul.
Perayaan Imlek dan Cap Go Meh tahun ini mengusung tema “Meningkatkan Persaudaraan Sejati Antar-Umat Beragama”. Tema ini, menurut Paul, tepat diangkat mengingat bangsa Indonesia saat ini yang masih diselimuti isu-isu SARA. Ia mengajak para pemeluk agama untuk saling mempererat persaudaraan.
“Saat ini masyarakat mudah tersulut isu-isu SARA, kita mengajak masyarakat dari agama apapun, golongan manapun untuk bersatu. Persatuan akan membawa kita pada kebahagiaan, kemakmuran, semua hal akan berjalan lancar,” ungkap Paul.
Dalam perayaan umat Tri Dharma, selalu ada kegiatan khusus untuk menghibur dan melibatkan masyarakat lokal. Kerukunan ini sudah terjalin sejak kelenteng ini berdiri lebih dari 100 tahun silam. Bahkan menurut Paul, pada tiap perayaan Cap Go Meh, petugas keamanan dari Banser Nahdlatul Ulama (NU) ikut terlibat. Mereka sukarela mengamankan selama rangkaian kegiatan berlangsung sampai selesai. “Tidak ada perbedaan yang menghalangi kami untuk menyuguhkan hiburan bagi masyarakat. Inilah wujud persatuan kami,” jelas Paul. (cr3/ton)

spot_img

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here