Menuju Kurikulum yang Integral (2)

spot_img

RADARSEMARANG.COM – BERBAGAI cabang ilmu atau bentuk-bentuk pengetahuan dalam perspektif Islam akhirnya adalah satu. Demikian pendapat Seyyed Nossen Nasr dalam bukunya Islamic Sceien: An Illustrates Study (1976). Dalam Islam, kata Seyyed, tidak dikenal pemisahan esensial antara “ilmu agama” dengan “ilmu profan”. Berbagai ilmu dan perspektif intelektual yang dikembangkan dalam Islam, memang memiliki hirarki. Tetapi, hirarki ini pada akhirnya bermuara pada pengetahuan tentang: “Yang Maha Tunggal” sebagai substansi dari segenap ilmu.
Osman Bakar dalam bukunya Tauhid dan Sains (1997) mengatakan bahwa dalam epitomologi Islam, Allah SWT adalah sebagai sumber kebenaran dan pengetahuan sekaligus. Sebagai sumber kebenaran dan pengetahuan, Allah SWT memberikan ilmu-Nya melalui dua jalan. Yakni, pertama, melalui firman-Nya (word of Allah). Kedua, melalui alam semesta ciptaan-Nya (work of Allah).
Dari jalan pertama, lahir ilmu agama dan ilmu Ilahi (Teologi). Sedangkan melalui jalan kedua, lahir dan berkembang ilmu pengetahuan. Dengan demikian, ada lima sumber pokok ilmu sebagaimana dinyatakan Omar Muhammad al-Toumy al- Syaibany. Yaitu: indera, akal, institusi, ilham, dan wahyu. Karena itu, dalam epistimologi Islam, diakui adanya peranan wahyu dalam memperoleh pengetahuan, di samping indera dan akal.
Pendapat di atas, paralel dengan rekomendasi yang dihasilkan oleh Konferensi Dunia Pertama tentang Pendidikan Islam tahun 1977 yang membagi ilmu menjadi dua macam. Pertama, ilmu abadi (perenial knowledge atau ilmu huduri). Kedua, ilmu yang dicari atau dipelajari (acquired knowledge atau ilmu husuli), selama tidak bertentangan dengan syari’at sebagai sumber nilai.
Karenanya, antara agama dan sains tidak mungkin terjadi pertentangan hakiki, sebagaimana dinyatakan oleh Nasr (1972). Karena keduanya berasal dari sumber yang sama: Allah SWT. Keduanya harus diambil sebagai anugerah Tuhan untuk kebahagiaan hidup umat manusia di dunia dan akhirat.
Berbeda dengan konsep ilmu dalam epistimologi sekuler. Osman Bakar (1997) menyatakan, objektivitas yang dijunjung tinggi dalam metode sains modern, hanya dipandang sebagai suatu nilai ilmiah. Menurutnya, dalam Islam, objektivitas yang antara lain berarti kejujuran dan sikap tidak memihak, kecuali kepada kebenaran. Tidak hanya dipandang sebagai tuntutan ilmiah, tetapi juga tuntutan agama. Artinya, dalam objektivitas itu terkandung nilai ilmiah dan nilai agama sekaligus.
Selanjutnya, terkait dengan axiology, ilmu dalam Islam dipandang sebagai syarat untuk dapat memperoleh kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Kejayaan Islam pada masa lalu (650-1250 M), terjadi juga karena faktor ilmu. Ketika itu, ilmu benar-benar dipelajari, dikembangkan untuk kemaslahatan manusia. Bukan untuk menghancurkan manusia. Ilmu berasal dari Tuhan dan harus digunakan dalam semangat mengabdi kepada-Nya, sebagaimana dinyatakan oleh Asnawi (2010). Selanjutnya, ia menegaskan bahwa ilmu sekuler mengakui dirinya objektif, value free, bebas dari kepentingan lainnya, namun ternyata ilmu tersebut telah melampaui dirinya sendiri.
Betapa tidak, semula ilmu diciptakan oleh manusia, telah menjadi penguasa bagi manusia itu sendiri. Bahkan, keberadaan ilmu melampaui kedudukan agama dalam pandangan Barat, sebagaimana dinyatakan Kuntowijoyo (2007). Menurutnya, ilmu dalam padangan barat dapat menggantikan wahyu Tuhan sebagai petunjuk kehidupan. Agama dalam pandangan mereka, harus disesuaikan dengan ilmu pengetahuan modern, jika tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan, ia akan dipinggirkan. Na’udzubillah.
Sebetulnya, Kurikulum 2013 yang telah dipilih oleh pemerintah dan telah diimplemantasikan, merupakan bentuk kurikulum integrarif (terpadu). Keterpaduan Kurikulum 2013, tampak pada upaya pencapaian Kompetensi Inti (KI), baik KI 1 maupun KI 2 yang harus dicapai oleh semua mata pelajaran. Namun, kenyataannya, menurut hemat penulis, hal ini belum berjalan sebagaimana diharapkan. Disadari atau tidak, ruh dari Kurikulum 2013, berada pada KI tersebut. Jika Kompetensi Inti tidak tercapai, berarti Kurikulum 2013 tidak berjalan efektif. Karena itu, ke depan perlu adanya evaluasi mendalam terkait implementasi Kurikulum 2013. (bersambung/isk)
 

Baca juga:   Rahasia Sukses Belajar Bahasa Inggris

Author

Populer

Lainnya