33 C
Semarang
Sabtu, 19 September 2020

Orang Tua Anin dan Afif Mengadu ke DPD RI

Kasus Dua Siswa SMAN 1 Dikeluarkan

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Perjuangan orang tua siswa yang dikeluarkan dari SMA Negeri 1 Semarang belum selesai. Kemarin, orang tua Anindya Puspita Helga Nur Fadhila (AN) dan Muhammad Afif Ashor (AF) mengadu ke Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jawa Tengah. Kedatangan mereka didampingi perwakilan orang tua siswa yang turut prihatin dengan keputusan sekolah dan langsung ditemui oleh anggota DPD RI Jateng, Bambang Sadono.
Suwondo, orang tua Anin menegaskan, keputusan sekolah mengeluarkan anaknya sangat tidak adil, karena tanpa mempertimbangkan prestasi yang sudah diraih putrinya, apalagi sudah kelas XII yang bersiap mengikuti ujian nasional (unas). Pria yang sehari-harinya menjual roti keliling ini meyakini jika putrinya masih berstatus siswi SMAN 1 Semarang, karena belum menandatangani surat pengunduran diri.
Namun kenyataannya, saat putrinya berangkat sekolah, justru mendapat pengusiran. Bahkan terjadi hingga 4 kali, yang membuat kondisi anaknya mengalami shock. Selain itu, Suwondo juga mengatakan keputusan sekolah memutuskan sanksi berdasar akumulasi poin dari satu kali kegiatan dirasa tidak adil. “Selama ini, anak saya tidak pernah melakukan pelanggaran. Itu (poin pelanggaran, Red.) diakumulasi dari satu kegiatan LDK saja. Saya akan terus perjuangkan nasib anak saya,” tukas Suwondo yang diamini oleh Muhammad Shodiqin, orang tua Afif, di kantor DPD RI Jateng, Rabu (28/2).
Nugroho Septianto, perwakilan orang tua yang prihatin dengan keputusan sekolah menilai kepala SMAN 1 bersikap sewenang-wenang dengan mengeluarkan siswa tanpa mempertimbangkan nasib yang bersangkutan. “Anak saya tidak ada kaitannya dengan kasus ini. Namun saya ikut mendampingi sebagai perwakilan orang tua yang prihatin karena melihat sikap sekolah yang tidak profesional dan sewenang-wenang,” tuturnya.
Anggota DPD RI Jateng, Bambang Sadono, menilai keputusan SMAN 1 Semarang untuk mengeluarkan atau mengembalikan siswa kepada orang tua karena dugaan kekerasan pada junior itu tidak mendidik. Ia menegaskan, kepala sekolah sebagai pimpinan tertinggi dalam satuan pendidikan harus bertanggung jawab atas terjadinya dugaan kekerasan terhadap junior saat kegiatan LDK.
Tanggung jawab tersebut, kata dia, tidak hanya dibebankan kepada siswa dengan mengeluarkannya dari sekolah. Apalagi yang bersangkutan saat ini duduk di kelas XII dan sedang menyiapkan diri menjelang unas. “Menurut saya, nggak mendidik. Menyelesaikan persoalan pendidikan tidak dengan cara mendidik. Di sekolah, kan ada kepalanya yang paling tinggi. Kepala sekolah harus dimintai tanggung jawab oleh Dinas Pendidikan,” tegasnya.
Bambang mengingatkan, agar persoalan kedua siswa dicarikan solusi mengingat anak-anak tersebut masih memiliki masa depan. Solusi yang dimaksudkan adalah dengan mempertimbangkan masa depan siswa yang bersangkutan, termasuk memfasilitasi pindah ke sekolah sesuai rekomendasi Dinas Pendidikan Kebudayaan (Disdikbud) Jateng.
“Kalau ditampung kembali (kembali ke SMAN 1 Semarang, Red), saya malah berpikir apakah anaknya tidak tertekan nanti? Namun, kalau mereka ternyata bisa, ya lebih baik,” kata mantan Sekjen Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) itu.
Bambang yang juga Ketua Badan Pengkajan MPR RI itu mengatakan, fasilitasi dengan memindahkan sekolah juga bisa menjadi solusi. Namun jangan sampai menimbulkan kesan mereka dibuang. Dalam artian, sekolah yang menjadi tujuan kepindahan harus memiliki kualitas yang sama dengan sekolah asalnya.
“Yang paling baik, anaknya sendiri diberikan alternatif mau pindah ke sekolah mana? Itu semua kan di bawah kewenangan Disdikbud Jateng. Anak-anak ini pintar dan potensial, cuma salah mengarahkan. Kalau salah mengarahkan, siapa yang salah? Ya, gurunya. Untuk apa ada guru di situ. Jangan seperti lempar tanggung jawab begitu saja dengan mengeluarkan siswa,” tegasnya.
Ketua Umum  Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (Abkin) Prof Mungin Eddy Wibowo menilai, kasus yang menimpa dua siswa SMAN 1 Semarang itu adalah langkah tergesa-gesa. Mungin setuju jika pelanggaran harus diberikan sanksi, namun sanksi tersebut harus melalui berbagai pertimbangan dan melihat dari segala sudut pandang.
Mungin yang juga Guru Besar Universitas Negeri Semarang (UNNES) itu mengatakan, harus ada kajian mendalam atas dugaan kekerasan yang dilakukan pada saat LDK itu. Antara lain dengan melihat bukti-buktinya, mengajak bicara atau memediasi orang tua dan pihak terkait terutama Disdikbud Jateng. “Disdik Jateng sebagai pembina seluruh SMA sederajat di wilayah provinsi harus diajak rembukan, diajak bicara. Meski sekolah punya otonomi, tetap harus meminta pertimbangan. Apalagi, sanksinya ini mengeluarkan siswa,” terangnya.
Mungin memahami aturan yang dimiliki setiap sekolah berikut dengan poin-poin pelanggaran yang dilakukan hingga dampak sanksinya. Tetapi, menurutnya, dalam kasus ini tidak bijaksana jika pengambilan keputusan didasarkan pada akumulasi poin pelanggaran.
“Dalam konseling siswa, harus mengedepankan sikap altruistik yang lebih manusiawi dalam memberikan sanksi. Jangan negatif antagonistik, seperti mengakumulasi poin pelanggaran, langsung mengeluarkan siswa,” terang Kepala Program Studi Pascasarjana Jurusan Konseling UNNES ini.
Dijelaskan, sikap altruistik dalam konseling selalu mempertimbangkan banyak faktor dalam memberikan sanksi agar jangan sampai menyakiti siswa yang bersangkutan. Pada dasarnya, hukuman atau sanksi yang diberikan bertujuan untuk mengubah perilaku siswa agar lebih baik. “Kalaupun terbukti demikian, apa harus dengan mengeluarkan siswa? Bisa dimulai teguran, diingatkan, dan sebagainya,” imbuhnya.
Mungin mengatakan, pihak sekolah sudah melihat rekaman video saat kegiatan LDK. Tetapi, menurutnya, tidak harus langsung mengeluarkan siswa, apalagi siswanya sudah kelas XII yang mau ujian nasional dan selama ini belum pernah melanggar. “Apalagi LDK itu sudah berlangsung lama, November 2017. Kenapa baru sekarang bertindak? Bukankah setiap kegiatan sekolah diawali perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi begitu kegiatan selesai,” katanya.
Hal ini berbeda dengan penanganan dua siswa SMK Negeri 5 Semarang yang terlibat dan terbukti menjadi pelaku pembunuhan sopir taksi online, yakni IBR dan TA. Seperti diketahui, kedua remaja itu kini telah resmi mendapatkan vonis masing-masing 9 dan 10 tahun penjara atas perbuatannya.
Saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Semarang, Kepala SMKN 5 Semarang, Suharto, enggan berbicara banyak dan mengaku belum mencabut status siswa yang bersangkutan. Selain itu, ia mengatakan jika pihaknya belum melakukan komunikasi lagi dengan orang tua tersangka IBR dan TA. “Belum dikeluarkan, statusnya masih siswa. Kami juga belum berkomunikasi dengan pihak orangtuanya lagi. Namun jangan disamakan dengan kasus lainnya, cukup berbeda. Saya tidak mau komentar, nanti salah. Semoga kasus SMAN 1 Semarang segera selesai,” katanya seraya mematikan sambungan telepon.
Selain ke kantor DPD RI, kemarin Anin dan orangtuanya sempat menghadiri mediasi di kantor Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Provinsi Jateng di Jalan Pamularsih Semarang. Namun sahabatnya, Afif, sedang tidak enak badan. Sehingga tidak ikut serta. “Ya, maklum Mas, mungkin banyak pikiran. Jadinya ngedrop,” jelas Anin. (tsa/sga/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Lima Remaja Terjaring Razia

RADARSEMARANG.COM, WONOSOBO - Tim gabungan operasi penanggulangan kenakalan remaja mengamankan lima remaja di perempatan Sawangan Wonosobo. Remaja tersebut berpenampilan seperti anak jalanan. Dua di...

Geliat Driver Ojek Perempuan di Kota Semarang

Dulu driver ojek hanya didominasi kaum pria. Namun kini kaum hawa pun banyak yang menekuni pekerjaan ini. Apalagi setelah marak ojek berbasis aplikasi alias...

Bekas Caleg Jadi PPS 

MUNGKID—Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) menemukan dugaan pelanggaran penerimaan panitia pemungutan suara (PPS) di Desa Bulurejo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang. PPS tersebut terindikasi masih ada...

Sasar Pasar Bintang 4

SEMARANG –  Persaingan bisnis di bidang perhotelan kian sengit. Berbagai strategi pemasaran kreatif dan inovatif terus dilakukan manajemen hotel. Termasuk manajemen Fairfield Marriot Hotel...

Inovasi dan Peran Masyarakat Jadikan Kota Magelang Sarat Prestasi

RADARSEMARANG.COM - Kota Magelang bisa membuktikan sebagai kota kecil yang berprestasi. Sederet penghargaan mewarnai perjalanan masa kepemimpinan Walikota Magelang Sigit Widyonindito dan Wakil Walikota...

Liga Santri Region I Jateng Digeber

RADARSEMARANG.COM, DEMAK - Sarana dan prasarana yang berkualitas tetap menjadi kunci kemajuan kompetisi sepakbola di Indonesia. Demikian disampaikan anggota DPR RI dari Fraksi Partai...