Tingkatkan Keterampilan Berbicara dengan Teknik 4B

spot_img

RADARSEMARANG.COM – ANAK Usia SD masih memerlukan bimbingan dalam keterampilan berbicara, rasa malu, belum percaya diri sering menjadi momok tersendiri bagi anak-anak jika di suruh maju ke depan kelas. Guru berperan penting agar seluruh anggota kelas dapat terlibat dalam kegiatan pembelajaran berbicara, sebaiknya pembelajaran berbicara mempunyai aspek komunikasi dua arah dan fungsional. Pendengar selain berkewajiban menyimak, ia berhak untuk memberikan umpan balik. Tugas guru adalah mengembangkan pembelajaran berbicara menjadi dinamis, hidup, dan diminati anak.

Anak jika sudah tertarik dengan kegiatan pembelajaran berbicara, maka suasana kelas pun akan tercapai, tujuan dari pembelajaran pun tercapai. Untuk memudahkan pembelajaran berbicara ada kiat-kiat khusus yaitu dengan cara 4B.

4B di sini adalah Bercerita, Berdialog, Berpidato/Berceramah, Berdiskusi. Dengan 4B tersebut diharapkan guru dapat menerapkan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari, dengan kegiatan 4B menjadikan anak-anak semakin tertarik dan lincah dalam berbicara. Meningkatkan kepercayaan diri anak dan menghilangkan rasa malu dengan melalui kegiatan-kegiatan 4B akan muncul dengan sendirinya.

Pertama bercerita, leluhur kita mempunyai kebiasaan bercerita secara lisan, dan sampai sekarang bercerita bisa dijadikan kegiatan yang menyenangkan. Guru atau orang tua yang mahir bercerita akan disenangi oleh anak-anaknya, melalui cerita dapat pula dijadikan hubungan yang akrab. Kebiasaan becerita bisa dimulai diawal pembelajaran, salah satu anak secara bergantian tiap pagi bisa bercerita tentang kegiatan atau pengalamannya untuk diceritakan di depan kelas. Selain meningkatkan keterampilan berbicara, ada tiga manfaat yang dapat dipetik dari bercerita, yaitu pertama memberikan hiburan, kedua mengajarkan kebenaran, ketiga memberikan keteladanan atau model. Untuk menjadi pencerita anak juga perlu diajari hal-hal dalam persiapan dan latihan, antara lain yang pertama penguasaan dan penghayatan cerita, kemudian penyelarasan dengan situasi dan kondisi, ketiga pemilihan dan penyusunan kalimat, keempat pengekspresian yang alami dan terakhir keberanian.

Baca juga:   Trik Hadapi Proses Gaya Belajar Siswa Kinestetik

Kedua berdialog. Dialog secara umum diartikan kegiatan berbicara dua arah. Ini dapat dilakukan melalui tanya jawab antara guru dengan peserta didiknya, semakin dapat menjawab pertanyaan guru dengan cepat keterampilan berbicara peserta didik dapat meningkat. Selain itu dalam berdialog peserta didik perlu di tekankan agar dalam berdialog hindari ucapan yang menyingung perasaan serta perilaku yang menonjolkan diri, santun dialog perlu dipelihara, dengan menghindari sikap mendikte, ekspresi kekesalan atau kejengkelan, dan sikap merendahkan diri yang berlebih-lebihan.

Hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah pertama bagaimana seseorang menarik perhatian, bagaimana cara mulai dan memprakasai suatu percakapan, bagaimana cara menginterupsi, menyela, memotong pembicaran, mengoreksi, memperbaiki kesalahan, dan mencari kejelasan, serta bagaimana mengakhiri suatu percakapan. Bahasa dalam dialog biasanya pendek-pendek, dan kurang terstruktur. Meskipun demikian, pembicaraan dapat dipahami sebab disertai mimik dan pantomimik yang mendukung. Ekspresi wajah, gerakan tangan, anggukan kepala, dan sejenisnya yang termasuk paralinguistik amat penting dalam percakapan.

Dalam pengajaran bahasa di sekolah, terutama di sekolah dasar dialog perlu diberikan agar mereka dapat bergaul di tengah masyarakat. Dalam buku pelajaran dikemukakan beberapa contoh percakapan agar dapat dipraktikan secara berpasangan maupun kelompok oleh peserta didik.

Baca juga:   Pembelajaran Inkuiri Menuju Keterampilan Abad 21

Pertama yaitu berpidato/berceramah memiliki peran yang sangat penting. Peserta didik yang mahir berpidato dapat menggunakannya untuk memaparkan gagasannya sehingga gagasan itu dapat diterima oleh peserta didik lainnya. Dalam berpidato peserta didik dapat diajari  untuk hal-hal sebagai berikut, yaitu berpakaian yang bersih, rapi, sopan, dan tidak pamer, rendah hati tetapi bukan rendah diri atau kurang percaya diri, menggunakan kata-kata yang sopan, sapaan yang mantap dan bersahabat, menyelipkan humor yang segar dan sopan, mengemukakan permohonan maaf pada akhir pidato.

Selanjutnya berdiskusi. Diskusi atau bertukar pikiran merupakan salah satu bentuk berbicara dalam kelompok yang banyak digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Kegiatan diskusi sering dilakukan dan sudah menjadi kebiasan, dalam proses  tukar–menukar pikiran perlu diperhatikan tata tertib dan santun diskusi, terutama yang berkaitan dengan cara mengemukakan pendapat, menanggapi atau menanyakan sesuatu, menyampaikan jawaban atau tanggapan balik.

Keempat hal diatas yaitu bercerita, berdialog, berpidato, dan berdiskusi jika sering dilaksanakan dalam kegiatan proses belajar mengajar di kelas ini akan bermanfaat sekali bagi peserta didik dalam mengembangkan keterampilan berbicara. Yang tidak tidak terbiasa jika sudah seringkali di laksanakan, maka hal yang sulit akan menjadi mudah dan terbiasa serta menjadi kebiasaan. (tj3/bas)

Guru SD Negeri Karangroto 03 Kecamatan  Genuk

Author

Populer

Lainnya