Guru BK yang Dipercaya Siswa

spot_img

RADARSEMARANG.COM – SAMPAI saat ini guru BK masih dianggap menakutkan. Pandangan tentang guru BK sebagai guru khusus untuk siswa bermasalah, masih sangat melekat di sebagian besar sekolah. Anggapan bahwa siswa yang berhubungan dengan guru BK adalah siswa yang bermasalah pun masih sangat melekat dalam ranah pikiran sebagaian besar siswa dan orang tuanya. Sehingga gambaran menakutkan tentang guru BK sebagai polisinya sekolah telah menumbuhkan keengganan sebagian besar siswa untuk berhubungan dengan guru BK. Tetapi mereka lebih takut dicap kawan-kawannya sebagai siswa yang bermasalah. Pandangan itu, tentu saja sangat tidak menguntungkan bagi perkembangan guru BK dalam melakukan peran besarnya di sekolah. Oleh karenanya, hari-hari ini sudah mulai banyak guru BK yang memulai melakukan pencitraan atas profesinya untuk mengubah pandangan menakutkan tersebut menjadi menyenangkan.

Bimbingan Konseling merupakan bagian integral dari proses pendidikan dan memiliki kontribusi terhadap keberhasilan proses pendidikan di sekolah. Serta proses pendidikan di sekolah tidak akan berhasil secara baik apabila tidak didukung oleh penyelenggaraan bimbingan secara baik pula. Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, dihadapkan dengan sejumlah karakteristik peserta didik yang beraneka ragam.

Baca juga:   Pendidikan Karakter di saat Pembelajaran Jarak Jauh

Peran Guru BK dalam sekolah sangat besar demi keberhasilan peserta didik sehingga bisa mendapatkan hasil yang optimal. Maka sebagai seorang guru BK harus mempunyai kharakteristik yaitu : pengetahuan tentang diri sendiri, kompetensi, kesehatan psikologis yang baik, dapat dipercaya, kejujuran, kekuatan atau daya, kehangatan, pendengar yang aktif, kesabaran, kepekaan, dan kesadaran holistik. Apabila karakteristik sudah ada pada guru BK, maka julukan BK yang ideal tertanam, tetapi sering kali BK ditempatkan dalam konteks tindakan-tindakan yang menyangkut disipliner siswa.

Memanggil, memarahi, menghukum adalah proses klasik yang menjadi label BK di banyak sekolah. Dengan kata lain, BK diposisikan sebagai musuh bagi siswa bermasalah atau nakal. Hal tersebut adalah salah kaprah, hakikat bimbingan konseling di sekolah yang dapat mendampingi siswa dalam beberapa hal. Pertama, dalam perkembangan belajar di sekolah (perkembangan akademis). Kedua, mengenal diri sendiri dan mengerti kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi mereka, sekarang maupun kelak. Ketiga, menentukan cita-cita dan tujuan dalam hidupnya, serta menyusun rencana yang tepat untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Keempat, mengatasi masalah pribadi yang mengganggu belajar di sekolah dan terlalu mempersukar hubungan dengan orang lain, atau yang mengaburkan cita-cita hidup.

Baca juga:   Literasi Digital di Era Digital

BK dapat diposisikan secara tegas untuk mewujudkan prinsip keseimbangan. Lembaga ini menjadi tempat yang aman bagi setiap siswa untuk datang membuka diri tanpa was-was akan privacy-nya. Di sana menjadi tempat setiap persoalan diadukan, setiap problem dibantu untuk bicarakan, sekaligus setiap kebanggaan diri diteguhkan. Bahkan orangtua siswa dapat mengambil manfaat dari pelayanan bimbingan di sekolah, sejauh mereka dapat ditolong untuk lebih mengerti akan anak mereka. Sehingga apabila sebagai guru BK melaksanakan seperti diatas maka siswa akan percaya kepada guru BK disekolah. Marilah kita sebagai guru BK dapat mewujudkan agar seluruh siswa percaya akan guru BK yang tidak hanya melulu hanya hukuman dan teguran tetapi memberikan pembelajaran demi untuk kemajuan siswa. (as3/ida)

*) Guru BK SMA Negeri 3 Demak

Author

Populer

Lainnya