33 C
Semarang
Jumat, 25 September 2020

Gaji Sopir BRT Kembali Disorot

Per Bulan Terima Rp 1,6 Juta

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pengelolaan transportasi masal Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang kembali disorot. Khususnya, soal gaji sopir BRT yang dinilai masih sangat minim. Kondisi psikologi sopir dinilai tidak mendapatkan perhatian serius. Sehingga hal itu berdampak terhadap kinerja sopir. Tak heran, masih banyak ditemui sopir bersikap kasar terhadap penumpang, sering ngebut, dan seterusnya. Celakanya, sopir BRT ini menjadi pihak yang kerap disalahkan, dipecat, dan lain-lain. Padahal ujung pangkal permasalahan tersebut adalah kesejahteraan sopir BRT tidak mendapat perhatian serius.

Pengamat transportasi dari Komunitas Peduli Transportasi Semarang, Theresia Tarigan, mengaku, prihatin dengan kesejahteraan sopir BRT Trans Semarang.“Saya sudah lama mendengar soal gaji sopir BRT Trans Semarang. Salah satu anggota komunitas kami adalah istri pramudi BRT Trans Semarang. Salah satunya mengenai keluhan soal gaji. Slip gaji sopir BRT Desember 2017 di kisaran Rp 1,6 juta,” kata Theresia kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (19/2).

Dikatakannya, selain itu memang mendapatkan uang makan. “Udah gitu setiap bulannya gaji sering terlambat bayar, hingga tanggal 8 dan 9. Persoalan gaji terlambat ini juga sudah saya laporkan melalui SMS ke Pak Hendi (wali kota) dan langsung mendapat respons,” ujarnya.

Menurut dia, apabila benar gaji sopir BRT Trans Semarang di kisaran Rp 1,6 juta tentu sangat memprihatinkan. Upah Minimum Kota (UMK) Semarang saja saat ini Rp 2,3 juta. “Memang sopir ini mendapat uang makan setiap hari Rp 50 ribu. Kerja 20 hari per bulan, dua hari masuk, satu hari libur, kerja mulai pukul 05.15 hingga pukul 19.00. Tapi (Rp 50 ribu) habis, Romusha itu, Mas,” ujarnya.

Peraturan sesuai Undang-Undang (UU) maksimal jam kerja adalah 8 jam, istirahat 30 menit per 4 jam. “Itu aja udah dilanggar. Bayangkan, mereka bangunnya jam 04.00 pagi tuh. Pulang kerja sampai rumah kadang-kadang jam 21.00. Dari gaji tersebut masih ada potongan psikotest Rp 50 ribu sebanyak dua kali. Sehingga kalau melihat jam kerja, uang makan Rp 50 ribu itu tidak pantas, karena berangkat jam 04.00 ya belum sarapan lah,” bebernya.

Seharusnya, kata dia, minimal uang makan sehari Rp 75 ribu. “Kalau kerja di kantor, air putih disediakan. Tapi kalau sopir BRT ini kan semua harus beli. Overtime tidak ada upah, kemacetan tidak ada renumerasi. Jadi, nilai gaji tersebut sudah sangat rendah,” katanya. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Pasar Kopi Belum Tergarap Maksimal

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Para petani kopi robusta di Kecamatan Jambu masih belum mampu merasakan hasil dari panennya. Hal itu dikatakan oleh Camat Jambu Moh...

Embung Jadi Solusi Saat Kemarau

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Keberadaan embung sebagai tempat penyimpanan air sangat dibutuhkan untuk musim kemarau di Jateng. Melalui program 1.000 embung, cadangan air sangat dibutuhkan baik untuk...

Tanam Ribuan Batang Pohon Buah-buahan Di Desa dan Sekolahan

DEMAK-Dalam rangka HUT Kabupaten Demak ke-514, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menanam ribuan batang pohon termasuk beraneka macam pohon buah-buahan. Seperti, belimbing, mangga, nangka cimpedak,...

Jalan di Perbatasan Memperihatinkan

UNGARAN–Kondisi infrastruktur wilayah perbatasan Kabupaten Semarang memprihatinkan. Seperti halnya kondisi infrastruktur yang ada di Desa Lembu, Kecamatan Bancak. Hampir 90 persen baik itu jalan...

Tracking Mangrove Jadi Spot Foto Selfi

Keberadaan hutan bakau tak sebatas menjaga ekosisem di wilayah pesisir atau mencegah abrasi. Jika dikemas menarik, deretan pohon bakau bisa menjadi tempat wisata alternatif...

Perbanyak Tadarus, Tausiah hingga Pemberian Motivasi

RADARSEMARANG.COM - Selama Ramadan, aktivitas keagamaan meningkat, tak terkecuali di dalam lembaga pemasyarakatan (lapas). Para napi dan tahanan semakin khusyuk ibadah. Seperti di rumah...