28 C
Semarang
Jumat, 11 Juni 2021

Membangun Pesantren Plus

RADARSEMARANG.COM – Dr. H. Mohammad Nasih, M. Si. merupakan seorang cendekiawan-aktivis, pendidik-pembangun karakter, sekaligus entrepreneur. Perpaduan semua menjadikanya sosok yang senantiasa berpikir ideologis, berwawasan politis, bertindak taktis, dan tetap siap sedia melakukan yang teknis. Itulah yang membuatnya terdorong untuk membangun Rumah Perkaderan yang dengan konsep pesantren plus.

Dalam membangun Rumah Perkaderan tersebut, ada dua alasan yang melatarbelakanginya. “Ada seriusnya, ada tidak seriusnya. Seriusnya ada pada substansi tujuan, yang intinya melahirkan kader-kader pejuang untuk umat dan bangsa,” katanya.

Selain itu, Nasih menambahkan, tidak seriusnya yaitu dalam memberi nama lembaga. “Sebenarnya itu adalah singkatan nama saya. Mo-nya Mohammad, dan Nash-nya Nasih. Itu karena ingat dulu sandal jepit saya ketika di pesantren yang sering dighashab teman. Yang kiri saya tulisi MO dan yang kanan NASH. Sama sekali tidak ada hubungan dengan MONASH di Australia,” tambah Pendiri Rumah Perkaderan Monash Institute ini.

Saat diwawancarai oleh Jawa Pos Radar Semarang terkait perjuangannya mendirikan Monash Institute, doktor Ilmu Politik ini menjawab kalau disebut perjuangan itu agak berlebihan. Sekali lagi, anggap saja itu iseng-iseng walaupun memang agak serius juga. Sebab, awalnya, Nasih hanya mengumpulkan 20-an aktivis mahasiswa UIN Walisongo Semarang untuk ia latih menulis pada Sabtu dan Minggu. “Itu terjadi pada tahun 2010. Saat itu, istri saya menjalani masa awal kuliah di Program Spesialis Anak di FK Undip. Daripada saya bengong di rumah, maka saya gunakan waktu sendiri itu untuk melatih mereka,” ungkapnya.

Dalam melatih muridnya menulis, Nasih membuat aturan yang terbilang agak ketat, untuk mengukur kesungguhan mereka. “Diantaranya tidak boleh telat walaupun sedetik. Jika telat, tidak boleh ikut agenda. Dan jika tidak ikut sekali, apapun alasannya, tidak boleh ikut lagi selamanya,” ujarnya.

Akibat dari aturan yang tegas dan ketat itu, yang bertahan tinggal belasan saja. Namun, hasilnya lumayan. “Diantara mereka ada yang cukup produktif menulis di media massa. Mereka bahkan seolah berlomba mengisi kolom wacana atau opini,” tutur bapak dari dua anak ini.

Diakui, karena hal tersebut, Nasih termotivasi untuk mengembangkan program itu menjadi lebih intensif. Caranya merekrut Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas lulusan SMU, agar bisa dibina dengan lebih baik lagi dengan hasil yang juga bisa diharapkan lebih baik. “Dalam benak saya saat itu, tidak ada pilihan lain kecuali membuat rumah perkaderan. Dan karena saya adalah orang pesantren, maka desainnya adalah pesantren plus. Ngaji kitab kuning dan belajar Al-Qur’an adalah wajib untuk menopang intelektualitas dengan basis khazanah intelektual Islam klasik,” paparnya.

Latest news

Garuda Ayolah

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here