Penguatan Karakter Siswa Melalui Multikulturalisme

spot_img

RADARSEMARANG.COM – PEMBANGUNAN Karakter atau character building akan selalu menjadi topik yang sangat menarik untuk diangkat, khususnya dalam dunia pendidikan yang syarat  dengan keberagaman yang dimilki oleh warga sekolah, seperti: latar belakang budaya, agama, suku, bahasa/dialek, gender, karakter, kemampuan, dan permasalahan sosial lainya.

Sekolah sebagai bagian  masyarakat multikultural memiliki keunikan-keunikan  dari keberagaman  yang kompleks (ras, etnis, agama, dialek, gender, status social, karakter, budaya ) sehingga rawan memicu terjadinya konflik sosial diantara para siswa, seperti: sentimen kesukuan, keagamaan, perbedaan status sosial, apalagi konflik yang ditunggangi penguatan paham primodialisme( paham yang dibawa sejak lahir yang berkaitan dengan ras, etnis dan agama) dan etnosentrisme (paham yang mengagung-agung budaya sendiri dan merendahkan budaya lain ) seperti: fanatik kesukuan, keagamaan.

Lembaga pendidikan sebagai salah satu tempat pembentukan dan penguatan karakter peserta didik  sangatlah diperlukan guna membangunan karakter generasi muda yang multikulturalisme, sebagaimana yang kita ketahui bahwa penguatan karakter saat ini tengah terdegredasi ,ditandai dengan kompleksitas masalah sosial yang merebak dimasyarakat, seperti: tawuran pelajar, korupsi yang sudah membudaya, bullying, konflik masalah SARA yang disebabkan perbedaan ras, etnis, agama, gender, status sosial, budaya .

Baca juga:   Mencongak, Tingkatkan Motivasi Belajar Matematika

Penguatan karakter kepada siswa perlu ditanamkan sedini mungkin dilingkungan: 1) keluarga, dimana peran orang tua sebagai agen pewarisan budaya (cultural Transmision ) sangatlah penting dalam membentuk kepribdian awal /mendasar anak di rumah, berupa penanaman nilai dan norma kesopanan,kesusilaan, agama, kejujuran, toleransi.  2) lembaga pendidikan sebagai institusi formal  mempunyai andil kuat  dalam meletakan landasan pendidikan dan  penguatan karakter , arahnya terbentunya kebajikan moral dan kepribadian ideal siswa.

Hal ini juga diperkuat dengan lahirnya Undang-undang  sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 (pasal 3) tentang Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdasakan kehidupa bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Author

Populer

Lainnya