33 C
Semarang
Senin, 6 Juli 2020

Penerimaan Santri Baru Diperketat

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Pengelola Pondok Pesantren (Ponpes) Sirojul Mukhlasin II di Krincing, Secang, Kabupaten Magelang akan memperketat seleksi penerimaan siswa-siswi. Hal ini menyusul insiden penyerangan Gereja Santa Lidwina Yogyakarta yang dilakukan mantan santri ponpes tersebut, Suliyono.

“Kami akan memperketat penerimaan calon santri. Selain itu, kami akan memperketat pengawasan terhadap keseharian santri. Selama ini tidak terpikir akan terjadi seperti ini dari kalangan santri. Karena ajaran pondok sesuai syariat Islam dan sangat bertentangan dengan ajaran yang keras dan radikal tersebut,” ujar Pengasuh Ponpes Sirojul Mukhlasin II KH Abdul Hamid kepada wartawan, Jumat (16/2).

Abdul Hamid memastikan, tindakan kekerasan bukanlah ajaran dari pondok pesantrennya. Hal itu bisa disaksikan atau ditanyakan pada masyarakat sekitar. “Tidak pernah sedikit pun ajaran ponpes mengarah ke sana (kekerasan). Masyarakat juga bisa melihat keseharian santri dan pondok. Ajaran dan suasana pondok tidak mendukung tumbuhnya paham kekerasan seperti ini. Dia (Suliyono, red) mendapatkan itu bukan dari pondok, tapi dari luar,” tegas putra kedua KH Mukhlisun tersebut.

Terkait kejadian penyerangan di Gereja Lidwina, pihaknya sangat mengutuk keras kejadian tersebut. Ia juga mengimbau kepada seluruh wali murid dan masyarakat untuk menjaga kedamaian, keamanan, ketenangan, dan ketertiban serta tidak terpancing isu-isu yang menyesatkan.

“Ponpes tidak pernah ajarkan kekerasan dan hal-hal yang bersifat radikal, apalagi terorisme. Pondok kami memiliki pandangan positif tentang Islam Rahmatan Lil Alamin. Sejak berdiri 102 tahun lalu, pondok masih berpegang teguh dalam menganut, mengajarkan, dan menyebarkan faham Ahlusunnah Wal Jamaah, sejalan dengan pesantren NU lainnya,” tegas Abdul Hamid.

Saat disinggung mengenai sosok Suliyono, Abdul Hamid menjelaskan bahwa pelaku memang sempat menjadi santri selama dua tahun sejak tahun 2015 di Ponpes Sirojul Mukhlasin II dan dipindahkan ke Ponpes Sirojul Mukhlasin I di Payaman. Namun akhirnya Suliyono dikeluarkan karena tidak disiplin serta sering melanggar tata tertib ponpes. Suliyono, menurut Abdul Hamid, termasuk santri yang pendiam dan tidak banyak bicara serta tidak nyantri secara tuntas selama 7 tahun.

“Sejauh laporan yang kami dapatkan, memang dia sempat berbicara tentang jihad pada teman-temannya. Tapi pemikiran dan pembicaraan ini tidak cocok dengan teman-temannya, sehingga akhirnya menjadi banyak penyendiri, karena pemikirannya berlawanan ajaran ponpes,” jelasnya. (cr3/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Tas Ranting, Cara Asyik Belajar IPA

RADARSEMARANG.COM - IPA,  pelajaran yang kurang menarik. IPA, pelajaran yang membosankan. IPA, pelajaran yang sulit. Demikianlah, anggapan banyak peserta didik terhadap pelajaran IPA. Banyak...

Batu Nisan Untuk Partai Tionghoa

Oleh: Dahlan Iskan Kejayaan partai Tionghoa Malaysia ikut berakhir. Nama resmi partainya: MCA (Malaysian Chinese Association). Didirikan 2 Februari 1949. Pada pemilu terakhir 9 Mei...

Kirab Budaya Sambut Tahun Baru Islam

MERTOYUDAN—Kirab budaya keliling desa pada Rabu (20/9) malam, menandai Tahun Baru Islam 1 Muharram. Kirab diikuti warga Dusun Nepak 2, Desa Bulurejo, Kecamatan Mertoyudan,...

Harga Beras Naik Jelang Natal

KENDAL - Harga beras di sejumlah pasar tradisional mengalami kenaikan sejak sepekan terakhir. Kenaikan harga hampir disemua jenis beras, berkisar Rp 1.000 hingga Rp...

Rayakan Kelulusan, Pentas Wayang Mbeling Shinta Ilang

DEMAK-Ada yang menarik dalam perayaan kelulusan siswa di SMKN 1 Sayung, kemarin. Bila sekolah lain, para siswanya melakukan aksi corat-coret baju seragam, di sekolah...

Tetap Bugar Saat Berpuasa 

RADARSEMARANG.COM - TIDAK Lama lagi umat Islam akan menghadapi bulan Ramadan. Tentu Ramadan hadir dengan ibadah wajibnya, yakni berpuasa. Dan sudah pasti, banyak yang...