Kemewahan Tinggal Kenangan, Kini Hidup Sederhana

  • Bagikan
NGOBROL DI DEPAN RUMAH: Soesilo Toer (kiri) dan wartawan Noor Syafaatul Udhma (tengah) ngobrol di depan rumah masa kecil Pramoedya Ananta Toer. Sedangkan istrinya Suratiyem memberi makan kambing. (RADAR KUDUS PHOTO)

Kehidupan Soesilo Toer boleh dibilang tragis. Pernah menikmati kemewahan di negeri orang. Kini harus hidup dengan kesederhanaan. Meski demikian dia bangga menjalani. Berikut ini seri terakhir tulisan tentang Soesilo. Sekaligus menjadi kado ulang tahunnya ke-83 yang jatuh hari ini, 17 Februari 2018

SPREI itu sudah usang. Motifnya tingggal lamat-lamat. Tak begitu kelihatan. Tetapi, pemiliknya, Soesilo Toer, membangga-banggakan. Itulah sprei paling istimewa yang ada di rumahnya. Dipergunakan untuk menghormati tamu yang menginap.

Wartawan koran ini ditawari untuk bermalam di rumah yang pernah ditinggali Pramoedya Ananta Toer itu. Soes -panggilannya- setengah memaksa. Dia telanjur mengganti sprei lengkap dengan sarung bantalnya. Bukan sembarangan. ”Itu saya dapat dari tempat sampah juga. Hasil memulung,’’ ujarnya membuka rahasia.

Hasil memulungnya bukan hanya dijual. Tetapi juga dimanfaatkan untuk perlengkapan rumah tangga. Selain sprei, ada cangkir. Dia mengatakan cangkir itu sangat bagus (Betul-betul dengan menggunakan kata sangat). Wartawan koran ini sempat berpikir mungkin cangkir kuno. Bahkan ingin membelinya.

Soesilo mengambil cangkir itu dari tempat penyimpanan. Diperlihatkannya kepada wartawan Radar Kudus dengan menimang-nimang. Ternyata cangkir kaca. Sudah bentet alias retak pula. Ada logo berbagai produk salah satu perusahaan minuman.

Keramik yang tertata rapi di teras juga  hasil mulung. Dia kumpulkan sedikit demi sedikit. Hari demi hari. Sampai delapan tahun. Bukan keramik utuh melainkan pecahan-pecahan. Ketika sudah cukup, lantas dipasang. ”Nah, yang begini ini nilainya lebih yang absolut. Saya justru bangga,” ujarnya sambil menunjuk keramik warna-warni yang menghiasi teras rumahnya.

Nah, kalau cangkir retak saja dia banggakan. Apalagi sprei. Maka ketika wartawan koran ini ingin membatalkan rencana menginap, Soesilo kecewa.

Sprei itu dipergunakan untuk membungkus kasur tipis di kamar dekat ruang kerjanya. Itulah kamar yang dulu ditempati Pram -panggilan Pramoedya Ananta Toer- sewaktu masih tinggal di rumah itu. Kamar itu terletak di bagian kanan rumah. Merupakan bangunan tambahan. Saat wartawan koran ini masuk, kondisinya gelap. Listriknya mati. Ada sederet buku usang di rak yang menempel di tembok.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *