32 C
Semarang
Kamis, 24 Juni 2021

Undang Wayang Potehi dari Jombang Jatim

RADARSEMARANG.COM, TEMANGGUNG – Umat Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Cahaya Sakti atau Kong Ling Bio Temanggung mementaskan wayang potehi dalam perayaan Tahun Baru Imlek 2569/2018. Selama 12-18 Februari 2018, seorang dalang wayang potehi dari Jombang Jawa Timur diundang untuk mementaskan beberapa cerita klasik.

“Biasanya digelar tiap sore mulai pukul 15.00-17.00 dan malam pukul 19.00-21.00 di altar kelenteng. Khusus malam ini (malam tahun baru Imlek, red) digelar tengah malam, dimulai pukul 23.00-01.00,” ucap Sekretaris TITD Cahaya Sakti Temanggung Lidia Samsetyagraha usai pertunjukan wayang, Jumat (16/2) dini hari.

Cik Mbing, sapaan akrab Lidia Samsetyagraha, menuturkan, pergelaran wayang potehi ini merupakan bagian untuk nguri-uri atau melestaraikan kesenian. “Ada grup keseniannya. Mereka latihan, kalau tidak ada yang nanggap, ya percuma. Dengan sering kita tampilkan ini, saya berharap wayang potehi tetap eksis,” harapnya.

Dalang wayang potehi Sony Frans Asmara malam itu menampilkan lakon “Tek Djeng Ngo Hoo Peng See” atau Jenderal Tek Djeng Menyerang ke Selatan. Khusus malam tahun baru ini, ia lebih banyak mengulas sejarah tahun baru Imlek. “Selama sepekan ini, tiap pergelaran yang nanggap satu orang dengan permohonan atau hajat tertentu untuk disampaikan kepada Tian (Tuhan yang Maha Esa). Khusus malam ini, yang nanggap ada 13 umat,” ucapnya.

Sony menjelaskan, wayang potehi merupakan ikon budaya Tionghoa yang sempat tenggelam hampir setengah abad karena dilarang Orde Baru melalui Inpres Nomor 14 Tahun 1967. “Wayang potehi ini, baru muncul kembali di Indonesia setelah Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mencabut inpres tersebut,” katanya.

Wayang potehi sudah ada di daratan Tiongkok sejak masa Dinasti Siong Theng (3000 SM). Potehi berasal dari kata poo (kain), tay (kantung) dan hie (wayang) yang artinya wayang berbentuk boneka terbuat dari kain. Adapun alat musik pengiringnya berupa tong ko atau tambur, gwee kim atau mandolin dan tua jwee (terompet logam). “Wayang potehi ini, minimal bisa dimainkan oleh lima orang,” jelasnya. (san/ton)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here