Terkadang Ikut Tahlilan, Tidak Dicap Ateis Lagi

  • Bagikan
BERSANTAI: Soesilo Toer membaca koran Jawa Pos Radar Kudus edisi kemarin. (Subekan/radar kudus)

Soesilo Toer menderita sejak dijebloskan ke penjara sepulang dari Rusia. Stigma buruk terus menempel pada dirinya. Akibatnya dirasakan sampai sekarang.

NOOR SYAFAATUL UDHMA, Blora

Soesilo Toer tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya. Dia berdiri. Mau membuka ritsleting celana. Di depan wartawan koran ini. Tangannya yang keriput sudah memegang kepala ritsleting. Istrinya Suratiyem seolah memberi restu. Dia tersenyum. Seandainya wartawan koran ini tidak keberatan dia betul-betul membukanya.

BERSAMA ISTRI SOESILO: Istri Soesilo Toer Suratiyem (kerudung cokelat susu) sedang menjelaskan buku karangan suaminya kepada wartawan Noor Syafaatul Udhma.
BERSAMA ISTRI SOESILO: Istri Soesilo Toer Suratiyem (kerudung cokelat susu) sedang menjelaskan buku karangan suaminya kepada wartawan Noor Syafaatul Udhma. (DOK. RADAR KUDUS)

Eks tahanan politik (tapol) 1965 itu hendak mempraktikkan peristiwa yang pernah dialami. Tahunnya dia lupa. Yang pasti tidak lama setelah terjadi krisis moneter. Saat itu dia diarak massa. Disoraki PKI, PKI, PKI. ”Saya bilang saya bukan PKI. Kalau tak percaya, ini buktinya,’’ ujarnya.

Saat itu dia langsung membuka celana. Barangnya gondal-gandul. Menjadi tontonan massa. Termasuk ibu-ibu juga. ”PKI itu pakai kolor item. Saya kan nggak pakai kolor item,’’ ujarnya. Dia masih berani bercanda di tengah massa yang beringas. Justru dengan candaan itulah massa akhirnya tenang. Kejadian itu masih membekas sampai kini.

Ceritanya, saat itu di Bekasi. Banyak orang menduduki tanah negara. Dia ikut-ikutan. Dia bikin rumah di atas tanah itu. Atas seizin pengguna tanah sebelumnya. Di situ pula dia membuka warung kelontong. Tiba-tiba dia digusur. Alasannya, karena tapol dan berhubungan dengan PKI. Mula-mula hanya warungnya. Kemudian rumahnya juga.

Yang lebih menyedihkan dia diarak massa. Dia dituding antek komunis, sama dengan kakaknya Pramoedya Ananta Toer. Setelah kejadian itu, dia memboyong istri dan anak satu-satunya Benee Santoso pindah ke Blora. Mereka menempati lagi rumah masa kecilnya di Jalan Sumbawa sampai sekarang.

Soesilo merasa selalu dikait-kaitkan dengan kakaknya tersebut. Padahal, dia bukan adik langsung di bawahnya. Pramoedya anak pertama. Dia anak kedelapan dari sembilan bersaudara. ”Pokoknya kalau Pram merah, adiknya juga merah. Bila Pram kiri, adiknya juga kiri. Kalau Pram ditahan, adiknya juga ditahan,” kata Soesilo mengenai stigma buruk yang menempel pada diri dan kakaknya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *